SENI BUDAYA

WAYANG SUKET: SENI DALAM SEPI


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

WAYANG suket atau wayang yang dibuat dari rumput tak semeriah wayang-wayang lainnya. Hanya dari rumput kering yang dianyam dan disatukan dakam berbagai bentuk tokoh wayang. Wayang suket bukan sekadar merajut rumput dalam rupa wayang semata namun ada nilai yang terkandung di balik wayang suket tadi.

Wayang suket biasanya dikerjakan anak-anak yang gembala pada masa lampau. Sambil menunggu ternaknya mencari rumput anak-anak gembala ini pun merangkai-rangkai rumput yang kering menjadi tokoh-tokoh wayang. Apa yang dilakukan mereka secara gethok tular atau dari mulut ke mulut dalam membuat wayangnya, namun daya tarik atas hidup dan kehidupan manusia seni menjadi jembatan kebisuan atau kebuntuan.

Wayang suket lahir dalam sepi hening dalam keadaan serba terbatas dari segi materi. Namun dari segi hati memiliki hamparan sawah, gunung, alam yang luas menemani mereka mencipta karya. Angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang pun menjadi saksi kreativitas mereka.

Cerita wayang gepuk pernah ditulis oleh Sindhunata dalam bukunya ‘Cikar Bobrok’. Di situ digambarkan bagaimana Pak Gepuk membuat wayang-wayangnya dalam gubuk di tengah sawah dalam hening sepi ia mampu mencipta. Hingga kini pun wayang suket tidaklah sepopuler wayang-wayang lainnya. Namun sebaliknya di balik kesederhanaannya ada makna akan hidup kehidupan dan tentang manusia.

Seni dalam apa saja menjadi sesuatu yang menunjukkan adanya peradaban. Adanya manusia yang hidup dan berupaya bertahan untuk hidup tumbuh dan berkembang. Manusia memang ada jiwa yang menghidupi atas raganya. Seni kadang tidak disadarinya walau dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seni memerlukan konsistensi tekad yang tulus tanpa parih. Tak harus terkenal atau dikenal. Tak juga wajib untuk laku atau menjadi uang dan dibeli orang. Seni itu sendiri akan terus ada hidup tumbuh dan berkembang tatkala dirasa perlu atau dianggap relevan. Banyak sekali seni dan karya-karya seni yang sepi peminat, lama kelamaan menguap dan dilupakan. Apalagi di era digital, era modern yang serba canggih, seni-seni sederhana tidak akan lagi masuk lingkaran hidup milenial.

Seni adalah manusia dan setiap manusia juga melakukan sesuatu yang berkaitan dengan seni. Apa saja entah disadarinya atau tidak. Seni yang sepi akan mati hilang dilupakan orang. Salah-satunya wayang suket. Tatkala tiada yang peduli cepat atau lambat pasti akan menguap hilang dari peredaran. Seni itu rasa juga jiwa pikiran yang terwujud pada perbuatan atau dapat dikatakan proses penciptaan.

Seni itu akan melegenda tatkala menjadi tradisi dan diikuti dari generasi ke generasi tatkala seni tanpa transformasi akan mati. Wayang suket seni dalam sepi yang semestinya tetap dijaga agar tetap lestari. Apa yang ada bisa dikemas dalam teknologi, sehingga tradisi seni akan tetap dapat dipelajari dan tidak akan mati. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *