RENUNGAN

MELAYANI: ILMU PALING TINGGI DAN PALING SULIT?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

MELAYANI sering kali menjadi jargon atau mungkin judul saja faktanya malah sebaliknya. Melayani merupakan kemampuan merendahkan diri untuk memahami bukan meminta dipahami. Melayani refleksi atas ketulusan hati dengan penuh kesadaran tanpa pamrih dan memberikan sesuatu yang terbaik.

Membangun kesadaran bagi suatu pelayanan merupakan proses bagi perwujudan suatu tanggung jawab. Bukan karena ketakutan bukan karena keterpaksaan atau karena pamrih akan mendapatkan sesuat. Melainkan kemampuan melepaskan diri dari ego atau akuisme.

Konsep melayani adalah seperti lilin yang terus-menerus menerangi walau dirinya meleleh. Manjing ajur ajer, seperti garam yang menggarami hingga lebur menyatu. Melayani juga merupakan sikap semeleh mampu bersyukur atau mensyukuri bahkan mampu menikmati walau dalam kondisi sesulit apa pun.

Melayani merupakan sesuatu yang manusiawi dalam memanusiakan sesamanya. Sikap melayani merupakan kemampuan melepaskan belenggu-belenggu semu akan keduniawian. Menanggalkan sikap dan sifat serakah. Melepaskan sikap ego dan candu-candu narsis yang menyebabkan mudah sakit hati, mudah tersinggung, mudah menghakimi dan selalu mengeluh menuntut sesuatu.

Pada dasarnya manusia diselimuti rasa ingin diterima dipuji-puji, dihormati, ditempatkan pada tempat yang lebih dari yang lain. Tatkala ada kritik marah. Ada yang berbeda langsung tersengat menghakimi. Ngrasani hingga membenci sering kali dilakukan tanpa mengedepankan logika dan tanpa memikirkan dampaknya.

Manusia pada umumnya minta dipahami dan dilayani. Sikap narsis atas akuismenya memamerkan aku aku dan selaku aku. Berat untuk memuji mudah mencela. Integritas lenyap dan memposisikan dirinya lebih. Inginnya selalu terbang tinggi tidak mampu melihat ke bawah. Tidak peduli kepada yang menderita atau termarjinalkan.

Orang-orang yang mampu melayani merupakan orang yang merdeka. Salah satu kata-kata mutiara dari penyair Rabindranat Tagore mengatakan, “Di dalam mimpi aku melihat bahwa hidup adalah kebahagiaan, tatkala aku bangun aku menghadapi bahwa hidup adalah kewajiban. Dan ketika mampu menjalani kewajiban di situlah ada kebahagiaan”. Orang-orang yang mampu melayani adalah orang-orang yang bahagia karena mendahukukan kewajiban. Kemampuan merendahkan diri untuk memahami merupakan suatu pengorbanan. Pengorbanan membutuhkan kepekaan, kepedulian dan bela rasa kepeda sesama.

Kewenangan, kekuasaan untuk memberdayakan sumber daya tatkala tidak dijiwai kemampuan melayani maka kuasanya akan menyengsarakan. Apa yang dilakukannya sarat dengan kepura-puraan, kemunafikan. Topeng basa-basi, menipu diri sendiri menjadi pemandangan lumrah. Tak mampu membedakan mana kambing, mana anjing.

Kewenangan dan kekuasaan diberikan untuk melayani. Tatkala sebaliknya yang dilakukan maka justru menjadi minta dilayani. Orang-orang yang selalu minta dilayani dipahami maka budinya akan menguap lenyap. Lembaga-lembaga publik sebagai penggawa penyelenggara negara melayani merupakan suatu kebanggaan dalam memenuhi kewajiban. Kewenangan, kekuasaan merupakan sarana untuk melayani bukan sebaliknya.

Melayani dengan tulus hati berdampak pada empowering, pencerdasan, penguatan sekaligus melindungi dan memgayomi. Melayani antipremanisme, bertentangan dengan pemerasan maupun penyuapan. Apa yang menjadi bagian dari pelayanan merupakan proses membangun karakter dan integritas.

Tinggi dan sulitnya melayani adalah menyangkal diri dan mampu menunjukkan keutamaannya. Melayani memang mudah diucapkan namun sangat sulit dilakukan. Di situlah tingginya nilai dari suatu pelayanan dan tentu sulit dilakukan karena memerlukan nyali dan keberanian berkorban. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *