SENI BUDAYA

RATMOYO: WAYANG DAN SPIRIT BERKESENIANNYA


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

RATMOYO seniman yang multitalenta salah satunya kepiawaiannya menggubah cerita wayang dalam bentuk visual yang kaya warna dan sarat makna. Ratmoyo lahir tahun 1927 di Yogyakarta dalam keluarga Somakartika (sebagai bekel) yang merupakan penggawa Sri Pakualam Yogyakarta.

Ratmoyo hidup dalam lingkungan seni, terutama wayang sungging dan melukis. Setelah menamatkan SMA pada tahun 1947, Ratmoyo bekerja pada biro reklame di Semarang, di mana awal tahun 1950-an hingga tahun 1960 bekerja di Jawatan Penerangan DIY (Japendi). Sejak tahun 1960-an, Ratmoyo hidup sebagai pelukis profesional hingga wafatnya tahun 2009. Studio Ratmoyo berada dekat Candi Mendut, Magelang, Jawa Tengah.

Ketekunan dan kegigihan Ratmoyo dapat terbaca pada karya-karyanya yang mampu mengekspresikan wayang dalam bentuk berbeda dengan karya-karya seniman lainnya. Ratmoyo menggambarkan berbagai episode penggalan cerita maupun alur cerita wayang dalam bentuk realis dekoratif yang juga surealis bahkan ekspresif. Pewarnaan yang didominasi warna hijau dengan berbagai taburan warna lain pun menjadikan cerita yang disuguhkan kian menyentak dan mampu mengajak berdialog dengan publik sebagai penikmatnya.

Karya-karya Ratmoyo memang luar biasa dan layak diapresiasi, serta mendapat ruang khusus dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Tak banyak yang tahu, namun literasi tentang Ratmoyo sebagian tercatat dalam berbagai media sosial yang masih tersebar.

Wayang-wayang karya Ratmoyo seakan mengingatkan kisah Ramayana dan Mahabharata hidup dalam lingkungan kita. Kisah dan simbol-simbol kehidupan pada cerita wayang kembali dihidupkan dalam rupa, kata, garis dan warna yang sarat makna. Spirit akan wayang sebagai simbol kehidupan oleh Ratmoyo mampu digambarkan dalam relung-relung kehidupan dan sekat-sekat labirin yang dapat ditelusuri dan dinikmati dalam kata dan rupa.

Ratmoyo bukan sekadar pelukis wayang, ia juga melukis dengan gaya realis dan ikut dalam tim pembuatan diorama di Monas. Ratmoyo pernah mengikuti beberapa pameran seni lukis di Yogyakarta. Pameran tunggalnya diselenggarakan di Crowne Plaza Jakrata dari 22-31 Mei 2004, yang bertajuk Pantun Nusantara. Pernah juga berpameran tunggal di Rumah Budaya Tembi Yogyakarta.

Saya mengenal Ratmoyo melalui komik Majalah Hai tahun 1980-an yang menggambarkan Dewa Brata atau Bisma Sang Begawan dari Hastina. Bagaimana kisah turunnya Dewi Gangga hingga percintaan dengan Prabu Sentanu dan lahirnya dewa brata hingga sumpah selibatnya demi membela cinta ayahandanya kepada Dewi Setyawati. Dewa Brata yang kemudian menjadi Bisma sangat dihormati dan berusia sangat panjang sebagai anugerah dari para wastu yang ditolong Dewi Gangga dalam reinkarnasinya. Pada kisah penolakan cinta Dewi Amba yang berdampak pada kematiannya. Cinta Dewi Amba begitu besar hingga akan menjemput ruh Sang Dewa Brata atau Bisma pada Palagan Bharata Yuda melalui panah Srikandi. Semua itu digambarkan Ratmoyo begitu apik, menarik dari anak-anak hingga orang dewasa pun mampu dengan cepat mencerna spirit cerita yang disuguhkannya.

Ratmoyo sudah tiada, namun spiritnya terus mengembara, menginspirasi kita semua dan terus hingga anak cucu kita. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *