RENUNGAN

WONG LALI ORA BISO DIKANDANI?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

LALI itu lupa bahkan dalam bahasa Jawa bisa dimaknai gila. Bagaimana mengingatkan orang yang sedang lupa? Apalagi lupa jiwa. Tentu saja yang mengingatkan yang salah. Yang waras yang dianggap nyleneh atau aneh karena tidak umum. Coba mengingatkan orang yangg sedang kasmaran dengan gendakannya atau selingkuhannya mesti yang mengingatkan bisa ditapuki mulutnya. Coba mengingatkan orang yang sedang kecanduan judi atau narkoba pasti marah. Lha sedang lali kok disadarkan. Orang sedang ndadi atau kesurupan coba kalau bukan pawangnya pasti makin menjadi jadi.

Bagaimana dengan yang sedang berkuasa atau sedang kuasa-kuasanya mengatakan apa saja terjadi, bagai idu geni sabdo pandito ratu? Apakah mereka juga sedang lali? Ya jangan langsug menghakimi. Saat punya kuasa itu bukan lali hanya sering tidak ingat. Kemaruk serakah merasa paling benar. Emosian sithik-sithik nesu yang tidak berkenan terus dimatikan hidup dan penghidupannya. Saat berkuasa lali kalau tidak punya teman yang ada hanya penjilat- penjilat yang membuatnya semakin lali. Lalinya orang berkuasa bida juga ngroni golek sing loyal yaitu tadi siapa bisa ngawulo yang disuka. Kebijakkan-kebijakkannya ndleyo atau tidak on the track-ya tetap ngotot kalau yang dikatakan atau yang dikerjakan benar.

Kuasa membuat tidak peka buta atau lupa itulah kodratnya. Mabik pujian mabuk jilatan sana-sini hingga tak mampu melihat suatu kebenaran, kebaikan. Teman sahabat saudara kerabat kalau berani beda pasti disikat. Emang peduli amat, amat saja tidak peduli. Zaman para nabi pun memberi peringatan kedada para raja yang sedang berkuasa, dianggap tidak loyal. Ayo dimusuhi beramai-ramai tangkap penjarakan bahkan ada yang meminta kepalanya dipersembahkan di atas talam. Nanti ada yang membantah itu kan zaman kuno. Pembenaran-pembenaran orang lali memang banyak hal. Kalau melakukan ia akan mengatakan sungguh mati. Karena sadar suatu saat akan mati. Kalau tidak melakukan beranilah mengatakan demi Tuhan.

Tidak ada orang lali jujur, orang lali itu berkelit atau mau menangnya sendiri. Wong lali ora iso dikandani. Sudah takdirnya memang lali bagi yang memiliki kuasa kebijakannya menjadi berbisa berdampak luas bagi banyak orang. Kalau pemain jathilan ada pawangnya ada cenayangnya. Bagaimana yang sedang punya kuasa, bawa senjata pula, kelilingannya penuh bisa jangankan melawan ngrasani saja pasti mati. Hayo siapa berani ngandani…. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *