RENUNGAN

‘LALI ORA BISO DIKANDANI’


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

KORUPSI, kolusi dan nepotisme (KKN) dari zaman dahulu kala sudah ada, terutama yang berkaitan dengan kuasa dan kekuasaan serta penguasaan sumber daya. Sudah banyak upaya memberantasnya. Banyak oknum dihukum atau dikenai hukuman. Diajarkan, diteriakkan, dimediakan, dibangun sistem. Banyak tulisan bijak memperingatkan, banyak contoh pejuang-pejuangnya semua seakan kecil sekali dampak atau pengaruhnya. Pertanyaan mendasar: mengapa KKN tetap ada? Satuan penanganan sudah dikibarkan, digelorakan, diberikan kewenangan untuk memberantas.

Teringat apa kata Gus Mus dalam puisi ‘Negeri Amplop’, dan puisi puisi lainnya yang dibacakan dalam acara membaca Indonesia. Beliau mengatakan, puisinya atau syairnya hanyalah balsem, sekarang hangat tercerahkan beberapa saat pusing lagi. Jangan-jangan menangani korupsi setengah hati. Di satu sisi dibersihkan sisi lain dibiarkan merajalela. Atau memag ala balsem tadi? Bisa jadi iya. Mengapa? Lha semuanya ujung-ujungnya butuh uang. Mau dari mana? Gaji? Berkarya? Keyakinannya memang masih pada uang? Entahlah pokok e yamg pekok e ga mau tahu yang penting ada. Sakmene. Tepuk jidat memang akan berkali kali. Puisi Gus Mus mengingatkan kita lagi:
Tuhan Nabi kau puji-puji
Tetali ajarannya kau kentuti
Setan iblis kau laknati
Tapi ajarannya kau ikuti.

Syair singkat jelas padat jleb. Apakah terharu. Ya mungkin saja saat membaca atau mendengarkan. Setelah itu ya kumat lagi. Pembenaran senantiasa didahulukan. Berjuta alasan di taburkan. Demi inilah demi itulah. Apa yang aktual memang berbeda bahkan bertentangan dari yang ideal. Semua memang ujung ujungnya duit. Mau tidak mau berlututlah pada pembenaran. Berdamai dengan kesesatan. Apa yang dilakukan bukan lagi pencerahan bahkan penyesatan. Idealisme hanyalah santapan seremonial dan supervisial. Otak dan hati serta keyakinannya bukan pada kebenaran tetap saja pada pembenaran. Jiwa dan hati bahkan hidupnya mungkin rela diwakafkan demi sesuatu yang diyakini walau ia tahu bukan kebenaran. Apa yang dipuji, apa yang diteriakkan terkadang menunjukkan ketakutannya kembali pada jalan yang benar.

Benarkah pembenaran menjadi candu? Bisa saja begitu. Fatamorgana kuasa dan kekuasaan dalam kehidupan akan selau ada membutakan dan menyesatkan, namun terus saja dibanggakan bahkan diagung agungkan. Kebenaran mungkin slilit atau klilib di mata pemuja dunia. Yang waras dikatakan gila. Yang mewaraskan dimusuhi bahkan kalau bisa dimatikan. Memang angel yen ono kuwoso mesti banjur lali ora biso dikandani. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *