RENUNGAN

GAWAT


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

DALAM keadaan kritis kata gawat menjadi peringatan bahwa akan ada sesuatu yang menakutkan, yang menyengsarakan bahkan membuat porak-poranda kehidupan dan keteraturan sosial. Gawat juga bisa sebagai pengungkap situasi dan kondisi yang sarat kontraproduktif. Gawat ini seringkali tidak nampak, mungkin hanya berupa tanda-tanda dan potensi-potensi akan adanya sesuatu yang berbahaya yang dapat mengganggu, merusak bahkan mematikan kehidupan.

Kepekaan akan gawat ini disampaikan dalam berbagai ungkapan atau perumpamaan atau sanepo-sanepo kehidupan. Tak selalu apa yang disanepokan dapat dipahami, ditangkap dan digunakan untuk menyelamatkan. Pada umumnya tatkala punya kuasa terkena sindrom lupa atau bahkan sindrom jumawa jadi merasa paling bisa. Paling benar. Merasa paling dari yang digdaya sampai yang tanpa daya bisa dipakai sebagai bungkus kejumawaannya.

Gawat ini akan muncul tatkala ambang batas kepekaan hilang. Ambang kepedulian bela rasa akan manusia dan kehidupannya menguap beralih menjadi bancakan pesta pora. Lali memang penyakit kuasa dan jumawa olah polah dan pameran atas lupa dirinya. Tatkala gawat tidak terakumulasi atau terdeteksi di awal, maka akan memuncak seperti bisul yang akan pecah atau gunung berapi yang meluncurkan lava memuntah ke segala arah.

Dalam kisah Mahabharata ada kisah Bhagawatgita yang berisi nasihat Sri Kresna kepada Arjuna yang mulai ragu lemah dalam Bharata Yudha menumpas angkara murka. Yang diperangi bukan sanak saudaranya, bukan kakek, paman dan gurunya melainkan pada angkara murkanya. Penegakan keadilan dan kebenaran. Konteks gawat dan Bhagawatgita berbeda, namun ada sesuatu yang bida kita ambil, yaitu makna di balik gejala fakta sebagai esensinya.

Apa yang ditandai dengan gawat itu ada ‘beyond’ atau ada sesuatu yang ‘untangible’ yang tak benda, yang menjadi esensi dan membuat sesuatu memuncak dan menjadi potensi kerusakan hingga kehancuran kehidupan. Tinggal bagaimana para penggawa yang memiliki kuasa eling tidak lali akan sumber daya dan segenap nasib bangsa yang menjadi taruhan atas patriotismenya. Tatkala lupa apalagi jumawa gawat bida menjadi tanda peringatan berakhirnya kekuasaan dan bergantinya zaman serta kehidupan. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *