RENUNGAN

ASTROPANUT


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

SUNGAI Progo di musim kemarau sangat kecil airnya namun tetap mengalir. Di tempat-tempat yang disebut kedung atau daerah terdalam airnya terlihat tenang namun sesekali terlihat ada sesuatu yang berputar seolah mengalir ke aliran di bawah permukaan. Pusaran air itu kadang nampak jelas menghanyutkan apa saja yang melintas di atasnya. Pusaran ini seringkali seakan menarik sesuatu apa saya yang di atasnya sebagai santapannya. Entah ada aliran sungai bawah tanah atau sekadar ada celah tidak pernah ada yang menyatakan dengan pasti. Hanya dikatakan angker ada penunggunya.

Anak-anak kecil yang mandi berlompat-lompatan di kedung tanpa memikir ada pusaran atau tidak yang penting happy. Para orang tua yang tinggal di daerah sekitar itu akan menasihati bahkan melarang anak-anak bermain-main di kedung tadi. Maksud mereka tentu baik dan benar, hanya saja dengan sederhana dikatakan angker.

Suatu ketika ada seorang yang namanya asing dan bukan nama orang kebanyakan datang serta memperkenalkan diri kepada orang-orang yang tinggal di sekitar kedung itu. Ia mengaku bernama astropanut. Tanpa basa-basi ia berkata akan mengambil arus pusaran sungai agar tidak angker dan tidak lagi ada korban hanyut. Belum ada jawaban, astropanut tanpa basa-basi langsung mengambil pusaran itu dan dibawanya pergi. Orang-orang yang melihat menganga melihat pusaran sungai tadi dikantongi astropanut.

Siapa sebenarnya astropanut, tidak ada yang tahu asal-usulnya. Orang-orang bergumam sakti benar orang ini. Pusaran arus sungai pun bida ia kantongi. Astropanut seperti tak lagi peduli dengan gunjingan orang. Yang penting arus deras sudah aku kuasai. Aku bida taruh di mana saja aku mau. Memguasai arus deras menjadi penting untuk menaklukkan apa saja dan bisa untuk menakut-nakuti siapa saja yang berseberangan dengannya. Arus itu tidak selalu berwujud, namun arus deras itu mampu menjadi kekuatan untuk mendominasi sumber daya.

Sesumbar panut tadi bukan sekadar kesombongan dirinya, tetapi betul-betul menjadi kenyataan. Di mana saja ia bisa menjadi penguasanya. Arus pusaran dikuasainya, ia menjadi seolah-olah pendekar yang ditakuti, disegani dan ditaati. Karena besarnya kekuatan dan kuasanya untuk mengatasi kehidupan sosial jadilah ia jumawa. Ia mulai membangun stratifikasi sosial. Mulai membuat kelas. Membuat ring. Membuat peradaban baru walau gaya preman lagi yang diterapkan.

Orang yang tidak jelas kini menjadi jumawa karena punya kuasa. Ia lupa yang dibawanya arus deras yang ia bawa bida menghanyutkan siapa saja termasuk dirinya. Kini dia tidak sadar bahkan lupa diri apa yang diperolehnya telah menghanyutkan jiwanya. Ia bukan lagi ksatria, ia telah menjadi mafia yang menggurita.

Astropanut terbahak-bahak membanggakan kekuasaannya, kekayaannya, kemampuan memberangus orang, kehebatannya membagi-bagi kekuasaan dan hidup dalam harta keduniawian melimpah. Tawanya lama-kelamaan menjadi aneh tak lagi keras lambat laun terdengar seperti orang tenggelam dan hanyut dalam pusaran…. perlahan-lahan astropanut tenggelam. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *