NASIONAL

IRMA SURYANI: SANKSI PERUSAHAAN TAK PEDULI PEKERJA GARIS DEPAN YANG ‘BERTARUNG NYAWA’ ATASI CORONA

HARIANTERBIT.CO – Kasus Covid-19 hingga Minggu (22/3/2020), berjumlah 450 orang, meninggal 38 orang, dan yang sembuh 20 orang. Artinya dari 450 orang yang terinfeksi ada 8,4 persen yang meninggal, dan hanya 4,4 persen yang sembuh.
Penanganan oleh pemerintah dari mulai Close Down beberapa provinsi sampai dengan kebijakan meliburkan semua sekolah dan program ‘work from home’ sudah merupakan tindakan tepat dalam menangani penyebaran virus di negara kepulauan seperti Indonesia.

“Tentu saja penanganan tiap negara akan berbeda, satu dengan yang lain, dan yang dilakukan Indonesia sebenarnya sudah tepat, namun karakter dan kebiasaan banyak orang Indonesia yang tidak peduli terhadap kesehatan diri sendiri apalagi dengan kesehatan orang lain dengan tidak mengindahkan imbauan pemerintah untuk tidak berkumpul di area-area publik seperi mal, tempat rekreasi, tempat ibadah, dan lainnya mengakibatkan penyebaran virus ini menjadi tidak terkontrol,” tutur Ketua Umum Gemuruh NasDem, Irma Suryani Chaniago, Minggu (22/3/2020), dalam siaran tertulisnya yang diterima HARIANTERBIT.co.

Pemerintah dalam hal ini Presiden telah mengambil langkah-langkah antisipasi yang baik dengan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Selain itu Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sudah memperlihatkan kinerja positifnya dengan informasi-informasi yang disampaikan pada publik tentang bagaimana publik harus bersikap dan mencari pertolongan.

Lebih lanjut Irma mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), alhamdulilah cepat tanggap dengan program belajar ‘from home’. Hanya saja yang tampak gagap dan kedodoran adalah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang telat mengambil langkah.

“Kemenpar telat menghentikan masuknya turis-turis ke provinsi-provinsi kunjungan wisata. Begitu juga Kemenhub yang tidak tegas dalam koordinasi dengan Imigrasi, Angkasa Pura, dan ASDP dengan tidak menutup bandara dari penerbangan luar negeri. Imigrasi tidak melakukan pemeriksaan dan inventarisasi intensif pada turis-turis asing yang masuk, begitu pula ASDP,” ujarnya.

Namun apa pun yang sudah terlewat, sambung Irma, tentu tidak perlu lagi diperdebatkan, kita hanya bisa menjadikan semua itu pelajaran berharga agar ke depan selain perlu ‘the right man in the right place’, kita juga wajib untuk tidak menganggap enteng kasus pandemi. Pelajaran terbesar bangsa ini adalah reformasi yang kebablasan dan sikap masa bodoh yang berlebihan baik pada lingkungan maupun pada kesehatan.

“Ketidakpedulian pada kesehatan publik dapat dilihat dari besarnya defisit anggaran BPJS dikarenakan terlalu banyak yang sakit, dan ketidakpedulian pada lingkungan dapat dilihat dari maraknya demo-demo setiap hari yang faktanya mengakibatkan ketidakkondusifan dunia usaha dengan hengkangnya banyak industri besar ke Vietnam dan Tiongkok. Begitu pula ketidakpedulian pada regulasi dengan pelanggaran-pelanggaran lalu lintas, seenaknya melanggar jalur satu arah, parkir seenaknya, dan lain-lain,” ungkap Irma.

Menurut Irma, semua tindakan pencegahan dan pengobatan atau pemulihan sedang dilakukan, tetapi ada satu yang wajib dan harus dilakukan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), sudah berjanji akan memberikan stimulus anggaran bansos untuk kesehatan, namun Kemenaker tampaknya belum mengeluarkan kebijakan ketahanan keluarga dengan memberikan insentif tambahan kepada para pekerja digaris depan penanggulangan virus dan para pekerja lapangan di garis depan yang tidak bisa menghindar dari pekerjaa nya karena tidak bisa dilakukan dari rumah.

“Di sinilah Menaker diuji ketegasannya pada perusahaan-perusahaan tersebut untuk menyisihkan anggaran CSR masing-masing sebagai dana insentif bagi mereka yang bekerja dengan risiko tinggi terpapar virus Corona. Sebagai aktivis buruh, saya mengimbau pemerintah cq,” katanya.

“Kemenaker untuk segera hadir dengan kepeduliannya pada pekerja garis depan dengan ketegasan dan sanksi pada perusahaan yang tidak memiliki kepedulian pada bangsa dan negara. Pada Kemenkes, saya minta paramedis dilengkapi alat pelindung diri yang maksimal dan harus dapat insentif, karena mereka bertarung nyawa demi nyawa orang lain,” kata Irma Suryani. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *