POLRI

HOEGENG IMAN SANTOSA: POLISI YANG SENIMAN DAN SENIMAN YANG POLISI


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

HOEGENG Iman Santosa polisi yang seniman dan seniman yang polisi. Beliau dikenal sebagai polisi yang jujur, tegas, bersahaja, dan humanis. Seni dan budaya menjadi bagian dari kehidupan Jenderal Hoegeng. Melukis, main musik, bernyanyi, aktif sebagai penyiar radio menjadi hobi yang ditekuninya selain menjadi polisi.

Polisi dalam pemolisiannya berupaya untuk memanusiakan atau nguwongke yang bermakna meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan memberikan jaminan keamanan dan rasa aman. Bagi kehidupan sosial kemasyarakatan keamanan dan rasa aman menjadi kebutuhan bagi bertahan untuk hidup tumbuh dan berkembang. Tentu saja polisi dalam menyelenggarakan tugasnya pada ranah masyarakat diperlukan adanya komunikasi atau aktivitas-aktivitas yang saling berkaitan terhubung satu dengan lainnya.

Seni merupakan jembatan hati, pikiran, perkataan, bahkan perbuatan bagi semakin manusiawinya manusiawi. Seni dalam nada, suara, rupa, bahkan rasa menjadi bagian kehidupan masyarakat untuk penyeimbang atau solusi duka lara. Dengan demikian seni merupakan suatu kesatuan antara jiwa pikiran dan raga untuk bertahan hidup tumbuh dan berkembang. Seni dalam kehidupan masyarakat menjadi tanda adanya hidup yang berperadaban.

Polisi dalam pemolisiannya bukan sebatas melindungi, mengayomi, melayani, dan menegakkan hukum melainkan juga sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban sekaligus pejuang kemanusiaan. Di sinilah seni menjadi bagian terintegrasi antara polisi dan masyarakatnya melalui berbagai model atau pola-pola pemolisian. Apa yang dimaksud dengan pola-pola pemolisian sebagai model atau gaya pemolisian yang dibangun dalam model atau prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku sama, namun implementasinya dapat menyesuaikan corak masyarakat dan kebudayaannya.

Jenderal Hoegeng berkesenian bukan ikut-ikutan melainkan adanya kesadaran bahwa tugas polisi itu memanusiakan atau nguwongke tadi. Ada pepatah mengatakan, jangan harap memiliki polisi yang sehat kalau masyarakatnya sakit. Namun ini juga berkaitan mana duluan antara ayam dengan telur. Pak Hoegeng menyadari itu kalau polisilah menjadi pelopor kesehatan bagi masyarakatnya. Apa yang ingin ditunjukkan di sini adalah janganlah menyapu dengan sapu yang kotor karena itu sama saja menularkan kekotoran.

Seni bagi Hoegeng Iman Santosa menjadi kekuatan luar biasa menjaga idealismenya seperti namanya Iman Santosa hingga akhir hayatnya. Apa yang dirintis Pak Hoegeng tidaklah hilang melainkan menjadi oase dalam padang kerinduan antikorupsi.

Pak Hoegeng layak diteladani bagi anak-anak muda yang cinta bangga akan bangsanya melalui seni dan kesenian yang menjembatani membangun peradaban secara sadar peka, peduli, bertanggung jawab, dan disiplim dalam memgimplementasikannya. Pak Hoegeng bukan sebatas milik Polri melainkan menjadi milik bangsa ini yang layak dikatakan sebagai pejuang bahkan pahlawan antikorupsi. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *