RENUNGAN

POLITIK SARAT SIMBOL MAKNA DAN LAPIS-LAPIS ANTARA IDEAL DENGAN AKTUAL


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

“RAMAI MAS….” Pertanyaan yang tidak perlu ditanya, semacam ‘quetion tag’ hanya sebatas nggereng untuk menunjukkan eksistensinya.

Gaya preman meminta setoran atau perhatian dengan cara menggertak atau menunjukkan taring sebagai kekuatan dan kekuasaanya. Hidup memang selalu ada adu kekuatan bukan sebatas sharing kekuatan semata. Politik menjadi bagian penting bagi hidup dan kehidupan sosial apalagi dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pendominasian penguasaan dan pendistribusian sumber daya akan menjadi ladang subur madu yang manis hingga emas berlian yang berkilau-kilau. Adu kekuatan ini bukan sebatas pertandingan secara normatif bahkan pembunuhan karakter pun dilakukan. Spirit waton menang ini juga dikumandangkan bahkan dijadikan alat menggertak. Manut atau maut, monggo pilih mana.

Novel sejarah karya Pramudya Ananta Toer dalam kisah ‘Arok Dedes’ mungkin bisa menjadi analogi politik dan perpolitikan yang menuai kutukan Empu Gandring. Demikian halnya kisah dalam novel ‘Arus Balik’, ‘Mangir’ atau bahkan ‘Gadis Pantai’ sekalipun semua menunjukkan kemanusiaan yang tertekan terlindas kepentingan kuasa dan kekuasaan. Bahkan remuk hancur hilangnya Majapahit karena bangsanya sendiri. Tatkala preman berkuasa dan merajalela mengatasnamakan apa saja dan secara politis dibiarkan atau malah dijadikan inspirasi perpolitikannya, maka apa yang ditulis Pram akan berlaku juga di zaman sekarang, “menunggu kutukan datang”. Kutukan ini bukan mistis namun ini buah kedunguan, keserakahan dan ketidakmampuan membangun serta menjaga kedaulatan.

Semua dijadikan pasar tawar-menawar dengan bangga menjadikan ikon WPOP “wani piro oleh piro”. Hidup sebatas materi apa pun diolah dalam pikiran, perkataan, perbuatan, yang hakikatnya tak jauh berbeda dengan gaya preman yang berteriak: ramai mas. Kuasa digaungkan agar kebagian atau keduman bahasa Jawanya. Yen ora keduman maka dengan lantang berteriak bagai sang pejuang, namun tatkala sudah kebagian cep klakep bagai orong-orong keinjak.

Pasar ini menjadi analogi atas lapis-lapis kepentingan adu kekuatan tawar-menawar atau punya nilai tawar. Manut atau maut tadi sebagai ancaman ‘caracter assisination’. Teriakan lantang kadang memalukan nampaklah otak-otak premannya yang jauh bahkan berbeda dengan kemanusiaan atau peradaban. Apa yang diperjuangkan sebatas agar keduman atau ada cantelan aku melu berjuang. Aku mbelani kowe ojo lali mbagei. Sulit mengubah pola premanisme birokrasi atau dalam politik sekalipun. Seniman dan karyanya memang sudah banyak mengingatkan menunjukkan. Sayang rasa haru tidak menyentuh kalbunya karena apa yang dibaca sebatas dihafal dan bukan memahami atau merasakan hati dari sisi manusia dan kemanusiaannya. Kata orang-orang pasrah dengan sedih mengatakan: “arep do nemoni opo”. Mungkin suatu ketika Tuhan menyentil dan menunjukkan kedahsyatannya. Kawulo alit bolo dupak poro abdi hanya berdoa agar tetap eling lan waspodo karena mereka jugalah yan jadi ganjel bahkan tumbal ketololan keserakahan mereka. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *