PERISTIWA

MOTIVASI PEGIAT TEKNOLOGI, BPPT ANUGERAHKAN INNOVATOR AWARD 2019

HARIANTERBIT.CO – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memberikan penghargaan kepada para pegiat teknologi yang memberikan sumbangsih pada produk inovasi di dalam negeri melalui penganugerahan ‘BPPT Innovator Award’ dan Innovation Day’.

Kepala BPPT Hammam Riza, pada Senin (9/12/2019) mengumumkan para penerima BPPT Innovator Award 2019. Penghargaan ini diharapkan menumbuhkan motivasi bagi para insan teknologi untuk terus berkarya dalam melahirkan inovasi dalam berbagai sektor.

Penganugerahan BPPT Innovator Awards 2019 merupakan kali kedua​ digelar setelah sukses pada Agustus 2018.

“Pemberian penghargaan ditujukan untuk menjadi pendorong dan motivasi bagi inovator teknologi, agar karyanya semakin berdaya saing dan menjadi branding product inovasi Indonesia,” ujar Hammam dalam acara Penganugerahan BPPT Innovator Awards 2019 di Kantor BPPT, Jakarta, Senin (9/12/2019).

​Hammam menuturkan, ada lima asas inovasi yang harus dipenuhi dalam proses penilaian, meliputi asas inovasi atau invensi,​ asas kreatif, asas efisien dan efektif, asas nilai tambah, serta asas manfaat. BPPT Innovator Awards 2019 terbagi dalam dua kategori yaitu internal dan eksternal.

Untuk kategori internal, meliputi aspek inovasi teknologi, layanan teknologi dan transformasi digital. BPPT Innovator Awards 2019 Kategori Internal Inovasi diberikan kepada Pusat Teknologi Agroindustri – Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) dengan inovasi cangkang kapsul rumput laut. Kategori Internal Layanan diberikan kepada Balai Teknologi Survei Kelautan – Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) untuk layanan teknologi survei kelautan. Sementara Kategori Internal Transformasi Digital diberikan kepada Pusat Pembinaan Pendidikan dan Latihan dengan Inovasi
Siduper (Sistem Informasi DUPAK Perekayasa).

Sementara untuk Kategori Eksternal/Umum diberikan kepada unsur perseorangan, serta instansi/lembaga/perguruan tinggi/perusahaan. Sotya Astutiningsih dari Universitas Indonesia (UI) dengan inovasi Geofast (Geopolymer Fast Setting Cement) berhasil meraih BPPT Innovator Award 2019 Kategori Eksternal perseorangan. Untuk Kategori Eksternal Kelompok diberikan kepada PT Nodeflux Teknologi Indonesia dengan inovasi platform pendeteksi dan interpretasi objek berbasis artificial intelligence (AI).

Hammam menuturkan, ajang BPPT Innovator Awards 2019 diikuti 130 peserta yang menunjukkan tren positif bagi iklim inovasi di Indonesia. Dari total peserta yang mendaftar terdiri dari 42 peserta untuk inovasi teknologi, sembilan untuk layanan teknologi, 10 untuk transformasi digital, 37 untuk perseorangan dan 32 untuk kategori instansi/lembaga/perguruan tinggi/perusahaan. “Semoga ke depan, ekosistem inovasi di Indonesia akan terus meningkat pesat,” ujar Kepala BPPT Hammam Riza dalam siaran pers yang diterima HARIANTERBIT.co, Selasa (10/12/2019).

Sesuai tugas pokok dan fungsinya, BPPT menilai pemberian penghargaan tertinggi ini perlu diadakan secara berkelanjutan kepada insan maupun instansi/lembaga/perguruan tinggi/perusahaan yang mampu berprestasi melalui upaya inovasi dalam karya nyata teknologi. Penganugerahan BPPT Innovator Awards 2019 diharapkan mampu mendorong semangat para sumber daya manusia (SDM) unggul dalam memajukan Indonesia yang mandiri dan berdaya saing melalui iptek untuk menyongsong era industri 4.0.

Dana Riset BRIN
Pada kesempatan yang sama, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, nantinya BRIN akan mengoordinasikan dana riset dalam rangka agar tidak terjadi duplikasi dan inefisiensi dalam pengembangan dan penerapan penelitian serta inovasi. Sudah menjadi tugas dari BRIN untuk memastikan tidak ada lagi APBN yang nantinya terpakai untuk hal-hal yang berujung sama atau tidak efisien. “Sehingga, dana riset yang tergolong besar benar-benar terpakai untuk hal yang sesuai dengan kebutuhan. Dana riset pasti akan kita kendalikan dari BRIN. Semua itu sebagai upaya tidak terjadinya inefisiensi dan duplikasi penelitian. Apalagi, dana riset ini tidak tergolong kecil, bisa dibilang besar,” kata Bambang.

“Nah, kita mau dana tersebut terpakai untuk fokus pada satu hal, tapi dikerjakan dan menghasilkan yang terbaik bahwa saat ini belum mengetahui secara persis berapa besaran dana riset yang akan terkumpul di BRIN nantinya,” lanjutnya.

Namun secara hitungan kasar, kata Mantan Menteri Keuangan tersebut, memperkirakan dana riset yang akan dihimpun oleh BRIN akan berkisar Rp30 triliun.

“Tentu tidak semua akan digunakan untuk riset, ada beberapa untuk pemeliharaan infrastruktur dan operasional. Tapi dari dana tersebut, kami perkirakan sekitar separuhnha yang akan bisa dimanfaakan langsung dengan yang berkeenaan dengan riset,” tuturnya.
Bambang menjelaskan, pengoordinasian dana riset, BRIN juga akan menjalankan sinergitas riset antarlembaga. Upaya pertama yang akan dilakukan nantinya adalah memperkaya database riset di Indonesia. Dengan adanya BRIN, tugas awalnya adalah membuat data base Mengenai Litbang jirap di Indonesia. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *