RENUNGAN

MEMVAKSIN ATAU MEMBUNUH?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

MAKNA memvaksin secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya menguatkan memberdayakan walau memasukkan virus ke dalam tubuh. Berbeda dengan kata membunuh walau juga memberi virus namun untuk tujuan mematikan tubuh.

Masyarakat bangsa bahkan negara dapat dianalogikan sebagai tubuh yang memerlukan kewarasan secara fisik maupun jiwanya. Perlawanan, pembangkangan konflik, hingga sparatisme sebenarnya merupakan bagian dari imunnya tubuh tadi mampukah menghadapi atau memgatasi.

Permasalahan memdasar tatkala virus itu dari dalam dan luar seolah gayung bersambut. Dari yang tidak kebagian kuasa sampai yang berebut pendominasian sumber daya ini menjadi biang dari ketidakwarasan. Apalagi meracuni jiwa untuk melakukan anarkisme atau hal-hal yang kontra produktif.

Sungguh tidak waras dan sangat memalukan tatkala terbaca cara-cara memberi virus bukan memvaksin tetapi untuk membunuh. Kewarasan dalam jiwa para kaum sofis (kalau saya boleh meminjam analogi Platon memggambarkan kaum yang mampu, memahami, menuruti, mengalah, bahkan menggunakan kaum yang oleh Platon dianalogikan dengan ‘big animal an beast’ sangat menentukan.

Apakah sesuatu itu turun dari langit dan tiba-tiba? Tentu saja tidak. Kepekaan dan kepedulian akan kewarasan ini yang seringkali kita abai. Kaum-kaum yang berjiwa mafia atau pemuja premanisme tentu paham situasi dan bagai penunggang gelap memperkeruh suasana demi sesuatu bagi diri dan kroninya.

Patriotisme tentu tidak ada, yang ada sebatas untung rugi. Passion bagimu negeri jiwa raga kami jauh panggang daripada api. Semua merasa benar, semua merasa paling penting, paling berjasa. Inikah penjual antivirus juga pembuat virusnya? Semoga tidak menyatu atau bukan sepetarangan. Tatkala penjual antivirus ternyata pembuat virusnya, selesai sudah apalagi virusnya tidak lagi mampu dikendalikan.

Primordialisme merupakan saluran virus yang paling manjur untuk memporakporandakan kewarasan. Tanpa sadar bisa menjadi bangga dengan berbagai anarkis. Manusia dan kemanusiaan tiada lagi berharga semua diganti dengan kebahagiaan merusak apa saja yang menjadi simbol bagi yang dilawan atau dibencinya. Daya nalar memang hilang, kekacauan konflik dan kontra produktif menjadi harapan agar dilihat semua orang bahkan dunia.

Legitimasi dan solidaritas memang akan dicari, isu-isu dan momentum akan terus dicari, akan ditunggu kapan lengah, kapan lemah. Cara menyusupkan virus ke primordial memerikan label dan membangkit kebencian dengan berbagai dalih pembenaran-pembenaran menjadi pilihan. Karena pada primordial seringkali tidak rasional sarat dengan emosional. Dengan demikian aman dan rasa aman merupakan refleksi peradaban. Kaum beradab memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial bagian spiritual pada tingkat tinggi yang berkualitas membangun kewarasan dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan disiplin.

Daya tahan masyarakat atas taburan virus merupakan bagian mencerdaskan kehidupan bangsa. Suatu bangsa untuk memiliki ketahanan daya tangkal bahkan daya saing dituntut adanya kedaulatan. Tatkala terus saja dituntun atau tergantung bangsa lain atau di dalam bangsanya banyak pecundang yang menabur virus demi mempertahankan kenyamanan dan kemapanannya, maka apa pun alasannya tetap tidak berdaulat. Pada bangsa yang kaya raya akan terus digerus, digoyang keamanan dan kemapanannya bahkan kewarasannya.

Di mata dunia pasti dilabel negatif, bahkan sebatas dijadikan pasar atau sasaran bulan-bulanan. Ditambah lagi era post truth akan semakin di-bully dan diadu domba dengan virus hoaksnya yang begitu manjur karena tidak mampu memilah mana yang baik dan benar. Para pelaku yang mengatasnamakan berbagai obat manjur antivirus pun sebenarnya juga berujung pada hasrat menguasai mendominasi sumber daya.

Durhakanya kaum perekayasa sosial yang sebenarnya tahu mana yang baik dan benar, manusiawi atau kebiadaban dengan berdalih berbagai pembenar atau permisif atas politis primordial HAM, demokratis bahkan sebagi operasi intelijen karena mereka tidak lagi melihat hati, air mata, darah, hidup-kehidupan, yang penting senang, menang, tujuan tercapai. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *