DAERAH

NILAI EKONOMI KESULTANAN BUTON


Oleh: Ir La Ode Budi

NILAI ekonomi fisik Kesultanan Buton, bisa dalam bentuk luas tanah, bangunan-bangunan yang ada, manuskrip sejarah, dan aneka benda bersejarah yang ada. Mungkin tidak seberapa nilainya, tapi mari perhitungkan nilai ekonomi nonfisiknya.

Kita bayangkan di masa depan, ada gedung modern yang memuat diorama perjalanan Buton sejak ‘bura satongka’, kerajaan kecil yang tersebar di berbagai daerah di Kepulauan Buton hingga munculnya Kesultanan Buton. Riwayat Wa Kaka, dan lain-lain konon dari Tiongkok. Digambarkan negara-negara yang pernah berinter aksi dengan Buton; Kerajaan di Jawa, Belanda, Portugis, Tiongkok, Goa India, khalifah di Turki-Utsmani, dan kerajaan lokal di Nusantara.

Ada kesultanan yang penggantinya tidak turun temurun, dipilih secara demokratis dengan tahapan yang sangat sakral, dan melibatkan aspek spiritual dalam penetapannya. Sumpahnya di batu Popaua adalah sangat menakutkan bagi generasi masa kini. Bahkan konon ada 12 sultan yang dihukum karena membuat kesalahan.

Proses pengadilannya pasti menarik, karena hampir tidak ada raja yang diadili di dunia ini. Dan banyak manuskrip kesultanan yang tentu butuh ahli untuk menjelaskannya ke wisatawan. Riwayat
kerajaan-kerajaan pada era pra kesultanan hingga menjadi kesultanan pasti prosesnya sangat membuat kita ingin tahu. Orang keturunan Buton saja belum tentu tahu.

Lika-liku pemerintahan 43 sultan dipapar oleh museum Kesultanan Buton itu dengan gambar besar-besar dan patung mereka. Sejarah pendirian benteng, struktur pemerintahan martabat tujuh, undang-undang tertulis kesultanan, makna dan arti gambar pada bendera, mata uang sendiri, serta narasi yang digambarkan oleh falsafah nanas, kabanti. Juga sejarah dan peran masjid kubah, dan kedudukan imamnya, dan banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan rinci di sini.

Jatuh bangun dalam hubungan dengan ‘dunia luar’ akan menjadi cerita panjang yang jadi wawasan bagi para pengunjung. Bagaimana drama Arupalaka dilindungi di tanah Buton, akan menjadi cerita tentang setia dan membela kawan. Dan peran sejarah perjuangan Oputa Yikoo dirinci sekali, sehingga jadi menjadi model kepahlawanan yang akan diteladani dan menginspirasi rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke (hingga ditetapkan sebagai pahlawan nasional).

Kunjungan ke Kesultanan Buton akan menjadi ‘lokomotif’ kunjungan wisata ke Kepton, karena akan berlanjut (misalnya) ke goa meninggalnya Gajah Mada, tempat pertama Islam di tanah Buton (Masjid Wawoangi), cara buat kasoami, tenun ikat Buton, pengalaman memancing di laut, belajar tari lulo, menonton aneka seni budaya Kepton, atau menyebrang ke Wakatobi untuk menyelam. Dan tentu banyak lagi alternatif yang dikunjungi, seperti Lasalimu tempat keragaman hayati tingkat dunia, wisata ke lokasi tambang aspal di Buton tidak perlu digali. Semua adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan, karena banyak cerita yang ada di sana.

Semua rantai kunjungan tersebut tentu bernilai ekonomi. Pengunjung tidak rugi membayar, karena pengalaman yang didapat luar biasa. Hotel, transportasi, kuliner, tour guide, seni budaya, produk khas Kepton, dan aneka produk lainnya akan hidup karena dibutuhkan wisatawan.

Kisah-kisah rekaan saja saat ini sudah mendunia, seperti Lord of The Ring, Avengers, Hunger Games, dan lain-lain. Bahkan Korea membuat kerajaan rekaan untuk menjadi latar belakang drama masa lalunya.

Sedangkan, Kesultanan Buton itu nyata fisiknya, ada keterangan atau jejak sejarah serta kesaksian dunia lain yang berinteraksi dengannya. Bahkan ada cerita mendebarkan terkait dengan Arupalaka di tanah Buton. Hubungannya dengan kekhalifahan di Turki, hingga disebut Khalifatul Khamish.

Begitu banyaknya warisan falsafah dan nasihat kabanti terkait kehidupan yang dititipkan para leluhur untuk jadi kebijaksanaan hidup bagi generasi selanjutnya, adalah cerita yang tidak akan habis dibahas dalam waktu singkat.

Saya pernah mengunjungi museum Doraemon di Tokyo, di mana di sana diceritakan riwayat hidup penulisnya dari kecil, remaja dan dewasa, jatuh bangunnya dalam ‘menjual’ Doraemon, bayarnya mahal dan cinderamatanya juga laku keras. Kunjungan yang menginspirasi bahwa mimpi itu harus dipercaya dulu oleh pemiliknya, baru bisa mewujud dalam kehidupan. Awalnya, dunia tidak akan percaya begitu saja, tapi dengan berjalannya waktu dunia akan mengakui kesungguhan kita dan rasa pasrah kepada Yang Mahakuasa.

Kejeniusan hanya bisa diwujud melalui keyakinan dan kerja keras. Itulah yang jadi inspirasi seumur hidup dibawa pulang oleh para pengunjung Museum Doraemon.

Mungkin ada yang pernah berkunjung ke Kota Tua di Jakarta. Tidak banyak artefaknya, hanya sedikit benda-benda, tapi sejarahnya, arsitektur tua zaman Belanda, itulah yang jadi kenangan. Itulah yang kita bawa pulang. Tapi sejenak kita merasa ada di zaman lalu, dan kita belajar dari apa yang terjadi pada sejarah ‘Indonesia doeloe’.

Bagaimana dengan inspirasi yang bisa dibawa pulang saat berkunjung ke Kesultanan Buton, benteng terbesar di dunia dan mengalami langsung artefak kebijakan yang ditinggalkan leluhur di sana. Bahkan bisa bertemu dengan manusia bermata biru keturunan bangsa Portugis.

Luar biasa Tuhan menciptakan manusia begitu beragam, dan hidup rukun di Buton, dengan modal nilai bersama Sarapataanguna yang diikat oleh falsafah rasa bhinci-bhinci kuli, dan semangat pengabdian bolimo karo somanamo lipu.

Semoga saja obat ‘politik uang’ akhirnya para ahli pemilu temukan dari meneliti rangkaian kearifan yang ada pada proses pemilihan Sultan Buton, dan semoga ahli sejarah peradaban dan bangsa-bangsa akan menemukan rahasia atau ‘prinsip-prinsip’ kenapa di Buton tidak terjadi pemberontakan atau pengambilalihan kekuasaan sehingga bisa tetap tegak selama 600 tahun.

Jika perlu benteng dibuat lagi benteng tersebut sesuai ukuran aslinya, dan dibuat seperti aslinya (rumah panggung dan lain-lain). Seperti bendera merah putih pusaka, ada duplikatnya. Atau yang ada sekarang dipugar dikembalikan seperti sedia kala.
Saya percaya ‘harta terbesar’ tanah Buton (bisa hasilkan kesejahteraan ekonomi) bukanlah aspalnya.
Saya percaya ada banyak kearifan yang ‘ingin diketahui dan dialami dunia’ ada di Buton, namanya Kesultanan Buton, ziarah spiritual dan ziarah alamnya. Bisa minum kopi di tengah pohon jati yang punya sejarah panjang kenapa mereka ditanam.
Seperti kapal Titanic, maka ‘nilai mahal’ ekonominya malah ada pada ceritanya, kisahnya, jika dibanding dengan harga kapalnya (pada waktu tenggelam). Jika ada di tangan yang kapasitanya memadai, saya yakin seyakin-yakinnya, cerita, sejarah, kearifan, artefak Kesultanan Buton, dan wisata Kepulauan Buton akan sejajar dengan Bali dan Yogyakarta. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *