KESEHATAN

AWAS, AUTOIMUN SERANG GENERASI MUDA INDONESIA

HARIANTERBIT.CO – Penyintas autoimun (kurangnya sistem kekebalan tubuh) di Indonesia saat ini mencapai 5.000 jiwa. Jumlah ini diprediksi bakal mengalami peningkatan jika tidak ditangani dengan baik. Ironisnya, penyumbang terbesar dari penyintas autoimun ini adalah kalangan generasi muda dan utamanya menyerang kaum perempuan. Fatalnya lagi, autoimun tersebut dapat menyebabkan kematian.

Risiko terjadinya peningkatan jumlah penyintas autoimun ini pun menjadi perhatian tiga lembaga yang peduli dengan kemanusiaan. Sejak 2016 lalu, ketiga lembaga yang terdiri dari Firda Athira Foundation (FAF), Clerry Cleffy Insitute (CCI), dan Marisza Cardoba Foundation (MCF), telah melakukan survei terhadap perkembangan autoimun tersebut.

Sebekumnya, ketiga lembaga tersebut bergerak masing-masing. Namun seiring terjadinya peningkatan penyintas autoimun, mereka pun berkolaborasi guna melakukan upaya penekanan terhadap perkembangan autoimun yang terjadi di masyarakat Indonesia.

“Kami (CCF-red) yang concern terhadap psikologi dan kemanusiaan, FAF concern terhadap anak-anak kaum marjinal, dan MCF consern terhadap autoimun. Saya melihat ada gap antara generasi tua dengan mereka-mereka generasi muda yang belum peduli tentang autoimun. Karena itu saya menggandeng Firda Athira sebagai sosok milenial untuk terlibat aktif mendukung program-progam di Marisza Cordoba Foundation,” papar Dwi Prihandini, founder CCF di Jakarta, pada Sabtu (27/7/2019).

Dwi menambahkan, dari upaya-upaya yang dilakukan ketiga lembaga tersebut, diharapkan para generasi muda semakin paham tentang autoimun dan dampaknya terhadap mereka. “Karena ke depan, dampak dari bonus demografi, jumlah populasi mereka akan semakin besar di tahun 2020 sampai 2030,” ujar Dwi, dalam keterangan tertulis yang diterima HARIANTERBIT.co, Minggu (28/7/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Co Founder Firda Athira Foundation, Firda Athira Azis mengatakan, saat ini jumlah generasi muda yang berisiko terserang autoimun mencapai 70 persen. Karenanya, sebagai lembaga yang peduli terhadap anak-anak, khususnya dari kaum marjinal, FAF pun merasa bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan secara dini.

“Dengan dukungan teman dan sahabat, para penderita autoimun, khususnya sesama anak muda, akan dapat memiliki daya juang lebih dan menganggap apa yang dideritanya bukan halangan untuk menggapai cita-cita,” ujar Firda.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli, sampai saat ini autoimun belum dapat disembuhkan. Namun gejala yang timbul dapat ditekan dan dijaga agar tidak berkembang menjadi penyakit. Sampai saat ini Kementerian Kesehatan masih melakukan pendataan terhadap para penderitanya.

“Saya yakin pemerintah mencoba yang terbaik. Nah kalau saya fokus pada anak-anak marjinal. Saat ini yang mereka sangat butuhkan adalah dukungan positif. Kita tidak selalu memberi materi tapi perhatian dan kasih sayang,” tambah Firda.

Pemicu Autonium
Sementara itu, di tempat yang sama, Lilik Sudarwati dari MCF mengatakan, pemicu utama terjadinya autoimun adalah stres. Banyaknya makanan cepat saji, pengawet dan perasa, juga menjadi pemicu timbulnya autoimun. “Sebetulnya makanan-makanan itu sudah dilarang. Kalau kita bicara secara global, di Indonesia masih berbicara bagaimana kecukupan pangan. Tapi kalau di luar negeri sudah berbicara pada food safety, bagaimana makanan yang aman,” ujar Lilik.

Lilik menambahkan, Indonesia termasuk negara yang malas melangkah. Sehingga tingkat kebugarannya sangat rendah. “Kalau kita di tahun 2030 bersaing dengan negara-negara lain, apa yang terjadi? Satu, BPJS kita akan semakin jebol. Dua, kita semakin tidak produktif. Karena itu, kita harus segera melakukan upaya guna mencegah berkembangnya autoimun tersebut, salah satunya memberikan berbagai penyuluhan, terutama bagi kaum milenial. Tujuannya, supaya mereka bisa tahu mana yang sehat untuk dilakukan, mana yang tidak,” jelas Lilik lagi.

Dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh ketiga lembaga tersebut, diharapkan perhatian yang diberikan pada penyintas autoimun dapat bermanfaat. Hal yang sudah dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan dan bantuan modal usaha. Dengan upaya-upaya itu, diharapkan akan banyak pihak memberikan dukungan supaya jumlah penyandang autoimun terdata dengan baik. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *