NASIONAL

CALEG-CALEG PARTAI BERKARYA DI SARANG “PENYAMUN”

Oleh :
H. ANHAR NASUTION

SAYA coba mengingat kembali kegiatan pembekalan Calon Legislatif (Caleg) Partai Berkarya di sebuah hotel di pinggir kota Jakarta beberapa waktu lalu. Ceria, sumringah dan penuh harap terpancar di muka para Caleg yang rata-rata wajah baru di kancah politik.

Saya lirik kanan-kiri, sulit sekali menemukan wajah Caleg yang akrab dilayar TV atau media lainnya. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.

Saya coba bertanya dalam hati siapa dan apa motivasi mereka untuk ikut bertarung di dunia politik yang penuh dengan Intrik dan tipu muslihat. Wajah-wajah polos terlintas dari para caleg yg mendapat pembekalan sederhana tentang cara mengambil hati Rakyat dengan cara-cara santun.

Aktivis muda, tokoh-tokoh masyarakat yang berhasil di daerah transimigrasi, mereka yang pernah mendapatkan dan berhasil dengan program bea siswa Supersemar era Pak Harto (ada sekitar 2 juta orang penerima bea siswa Supersemar-red).

Yang sangat unik saya temui adalah mantan-mantan pengurus Mesjid Amal Bakti Muslim Pancasila, 999 mesjid di seluruh Indonesia, mantan penggiat klompencapir dan Kelompok Ibu-Ibu pengajian Mbak Tutut.
Inilah wajah bersahaja Caleg-caleg Partai Berkarya. Mereka ingin mengabdikan diri di sisa umurnya untuk mendukung partai politik yang di nakhodai putra almarhum Pak Harto.

Sebagai bentuk kecintaan mereka pada Almarhum pak Harto dengan harapan kiranya Putra Almarhum mampu mambawa Bangsa ini berjaya kembali seperti di Zaman pak Harto. Kerinduan dan kecintaan para Caleg ini kepada Pak Harto merupakan pengejawantahan kerinduan masyarakat yang diwakili mereka.

Keinginan rakyat pencinta Pak Harto itu, disambut baik Hutomo Mandala Putra yang akrab disapa Tommy Soeharto. Berbekal pengalaman memimpin banyak orang diberbagai kelompok usahanya, Tommy mencoba menata jalannya Partai Berkarya.

Waktu yang teramat singkat untuk saling mengenal dan memahami karakter dan kemampuan masing-masing pengurus Partai Berkarya menjadi kendala tersendiri partai ini untuk siap bertarung di kancah politik.

Ditambah ada sebuah prinsip yang diterapkan sang Ketua Umum. Partai ini harus menjadi pelopor dan contoh untuk tidak menggunakan politik uang (money politic) dalam berkampanye. Saya tak ingin ikut mengotori pikiran rakyat untuk memilih partai kita hanya karena uang. Kita harus menghindari hal itu. Ungkap Beliau dengan serius.

Akhirnya dengan bekal seadanya hanya bermodalkan semangat dan motivasi yang tinggi dari setiap Caleg berjuang, bertarung di dapil masing-masing. Dengan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan harta terjual demi pengabdian akan kecintaan pada almarhum Pak Harto.

Memang dunia politik lebih kejam, lebih sadis dari gerombolan Serigala. Dalam dunia politik ada istilah kalau “Mati itu bisa ber kali-kali”. Inilah yang dialami para Caleg-caleg Berkarya yang baru dan masih lugu di dunia politik.

Mereka berjuang dengan ikhlas mendatangi masyarakat dari Rumah ke rumah. Dengan alat peraga seadanya tanpa baliho/poster besar dan mewah para Caleg Berkarya merasa yakin akan dapat memenangkan hati Rakyat.

Pada sisi lain, kita melihat baliho-baliho para caleg partai-partai besar yang punya banyak uang terpasang hampir di setiap sudut jalan-jalan protokol bahkan sampai ke gang-gang sempit dipenuhi poster caleg yang berkantong tebal.

Partai Berkarya dengan lebih mengedepankan cara-cara persuasif dan dukungan seadanya dari ketua umum dan keluarga Cendana yang ikut turun di berapa daerah saja dan dengan cara-cara yang bersahaja.
Singkatnya, banyak orang yang terkecoh bahwa Partai Berkarya akan turun dengan segudang kekayaan Cendana. Namun, kenyataan malah hanya biasa biasa saja. Mungkin ini disengaja agar menghasilkan para kader dan politisi handal dengan tidak mengedepankan materi semata.

Sayang, dunia politik tidak bersahabat dengan kesederhanaan itu. Nama besar Pak Harto tak mampu merubah paradigma masyarakat yang sudah teracuni dengan politik uang. Politik kecurangan akrab dengan situasi politik saat ini. Kasihan caleg pemula yang mengandalkan idealisme dan kejujuran ikut bertarung di dunia politik penuh intrik “bak seorang gadis disarang penyamun”.

Setelah pesta pencoblosan suara usai, wajah-wajah penuh harap dari caleg pemula partai berkarya berubah murung dan sedih. Dari mulut mereka keluar satu kalimat “Suara Saya Hilang” dan “Pemilu Curang’.

Pada sisi lain, ada yang patut kita banggakan dari perjuangan sederhana dan polos dengan semangat juang yang tinggi. Alhamdulillah, masih saja Partai Berkarya memperoleh Parliamentary Threshold (PT) 2 persen. Mengalahkan partai-partai baru dengan dukungan dana besar dan melakukan kampanye setiap hari di media menstrim. Dan, bahkan mampu mengalahkan beberapa partai-partai lama yang kita sudah paham.

Apakah perbuatan pencurian/penghilangan suara para Caleg-caleg Berkarya hampir terjadi di seluruh Daerah Pemilihan (Dapil) adalah sebuah rencana yang disengaja partai besar karena tidak menginginkan ada partai menyandang nama besar Pak Harto sebagai simbul perlawanan terhadap bangkitnya PKI di Indonesia. Bahkan ada ucapan dari “orang-orang konyol” menyebutkan “jangan sampai ada dua warna kuning di Senayan”..

Jika hal ini benar, wajarlah para Caleg dan aktivis Partai Berkarya. menggugat hasil “pemilu curang” yang telah di umumkan KPU, ke MK untuk mendapatkan kepastian hukum, membela serta memperjuangkan hak-hak dan hasil kerja keras para Caleg Berkarya di semua tingkatan.
Karena itu, wajiblah bagi Pimpinan Partai Berkarya terutama Ketua Umum nya mendukung upaya Hukum tersebut. Semoga kerja keras para Caleg yang tulus dan ikhlas mendapat Berkah dan Ridho dari Allah. Aamiinnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *