NASIONAL

MEWASPADAI POLITIK KONSERVATISME PRIMORDIAL

HARIANTERBIT.CO – Dukungan Ustaz Abdul Somad (UAS), Aa Gymnastiar, Adi Hidayat, Dahlan Iskan dan Gatot Nurmantyo sejatinya adalah praktek telanjang pragmatisme politik belaka. Agendanya membangun logika publik sehingga menghasilkan persepsi ketokohan ‘spiritual’ mereka menjadilan pilihan politik 02 adalah sakral. Nalar politik yang bersumber dari konservatisme.

Kemudian munculnya orang bergosip di media sosial tentang perilaku negatif UAS merupakan manifestasi kekecewaan warga Riau jemaah pengajian UAS terhadap UAS, menginginkan yang bersangkutan tetap berada di jalur dakwah. Publik selama ini terlena dengan tesis bahwa jemaah UAS akan mendukung sepenuhnya sikap UAS dalam politik.

Premis yang dibangun dalam tesis ini adalah transformasi konservatisme di era modernitas. Antitesisnya, masyarakat Indonesia semakin rasional dalam berpolitik. Premis yang dibangun, orang modern yang kecewa akan melampiaskan kekecewaannya menjadi serangan terhadap tokoh idola yang membuat kecewa.

Hery Haryanto Azumi, sekjen PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW).

Kasus ini mirip dengan David Chapman yang menembak mati John Lennon karena membubarkan grup band The Beatles. Hal yang sama juga terjadi dengan ungkapan nyinyir masyarakat terhadap Aa Gym ketika publik mengetahui ia berpoligami. Setelah itu, Aa Gym kehilangan respek masyarakat dan reputasi publiknya hancur secara alamiah.

Semangat konservatisme yang dilancarkan timses 02 juga terus menggaungkan delegitimasi terhadap pemerintah dan Pilpres-Pemilu 2019. Padahal, masalah hack bisa dilakukan oleh pendukung militan partai pendukung yang tidak diuntungkan dalam Pemilu 2019.

Beberapa kejadian yang dapat terlihat dari kekecewaan partai itu seperti adanya peristiwa pengurus dan kader parpol yang walk out saat debat pilpres kelima, karena kandidat 02 menyebut kesalahan mengurus negara dilakukan oleh presiden-presiden sebelum Jokowi.

Sebelumnya, salah satu ketua umum parpol juga menyatakan secara terbuka agar kader dan pengurus partai tidak mengikuti kampanye akbar Paslon 02 di GBK pada 7 April 2019, karena sangat eksklusif.

Perbedaan paham di ruang publik seperti ini potensial berlanjut menjadi aksi-aksi turunan seperti mengacaukan situasi, sehingga dapat melahirkan opportunity bagi partai yang berani menyatakan sikap tegasnya terhadap politik konservatif yang eksklusif.

Jadi, jurus politik yang memojokkan pemerintah adalah manifestasi telanjang politik konservatif yang akan melumpuhkan prinsip republikanisme. Oleh sebab itu Pilpres 2019 harus memilih pemimpin yang otentik dan menjamin Indonesia menjadi negara dan bangsa yang berkemajuan, makmur dan berkeadilan. (***)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *