NASIONAL

AGUN: PILAH DAN PILIH PARTAI YANG TIDAK LAKUKAN ‘MONEY POLITIC’

HARIANTERBIT.CO – Ketua Fraksi Partai Golkar MPR-RI Agun Gunandjar Sudarsa mengajak masyarakat memilih dan memilah partai kontestan pemilu serentak 17 April mendatang yang menampilkan tidak hanya damai tetapi juga berintegritas serta mensejahterakan.

Selain itu, ungkap politisi senior partai berlambang Pohon Beringin tersebut, juga partai yang menghargai, saling hormat menghormati, fair, jujur, tidak melakukan money politic dan serangan fajar. “Hal demikian perlu benar-benar terjaga,” kata Agun.

Hal itu dikatakan Agun pada pembukaan seminar sekaligus Peluncuran Buku dengan judul ‘Pemilu Damai, Berintergritas dan Mensejahterakan’di Ruang GBHN Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (1/4/2019).

Ini bukanlah pertama kalinya politisi senior dan wakil rakyat dari Dapil X Provinsi Jawa Barat tersebut meluncurkan buku. Sudah beberapa buku menjadi karya Agun sejak dia duduk sebagai wakil rakyat di parlemen mulai era pemerintahan Orde Baru sampai saat ini yang tidak terputus.

Pada seminar dan peluncuran buku itu tampil sebagai nara sumber pengajar ilmu politik pasca sarjana Universitas Nasional (Unas), Dr Alfan Alfian, Direktur Eksekutif Perludem (Titi Angraini MH, pengajar ilmu politik Fisip UI yang juga mantan Komisioner KPU Pusat (Dr Valina Singka Subekti).

Selain ketiganya, juga bakal tampil sebagai nara sumber Menteri Hukum Hak Azazi Manusia (Menkum HAM) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), M Andi Mattalatta yang kini duduk sebagai anggota Lembaga Pengkajian (Lemkaji) MPR RI.

“Buku ini sangat penting dibaca karena isinya menerangkan makna dari kedaulatan rakyat itu bagaimana. Selama ini kan masalah kedaulatan itu hanya dibicarakan dalam arti yang sangat sempit. Padahal pengertian kedaulatan rakyat itu sangat luas,” kata Agun.

Dikatakan wakil rakyat dari Dapil X Provinsi Jawa Barat itu, seminar ini merupakan rangkaian seminar partai berlambang pohon beringin itu sejak Agustus 2018. “Ini salah satu bentuk tanggung jawab FPG atas posisi politiknya terhadap masalah kebangsaan.”

Dikatakan laki-laki kelahiran Bandung, 13 September 1958 itu, pihaknya mengajak masyarakat memilih dan memilah calon dari kontestan mana yang bisa memberi gagasan baru, dalam masalah kebangsaan dan kedaulatan rakyat.

“Memberi gambaran dan gagasan baru ini sangat penting untuk wajah Indonesia lima tahun ke depan. Ini merupakan salah satu usaha Partai Golkar dalam memberikan pendidikan politik sekaligus mencerdaskan masyarakat,” ucap Agun.

Dipaparkan Agun, tantangan yang ada di masyarakat saat ini san ke depan adalah masalah lapangan pekerjaan, kemajuan teknologi informasi dan budaya global. “Kebijakan pembangunan yang ada diharap tidak meluluhlantakan budaya lokal yang sebenarnya menjadi karakter bangsa Indonesia.”

Untuk itu diharapkan kontestan yang ada mampu menyodorkan solusi bagi masyarakat. Dicontohkan bagaimana masalah yang dihadapi kaum milenial bisa diatasi. “Jadi Partai Golkar tidak hanya hadir di TPS tetapi juga memberi jaminan 5 tahun ke depan yang menyejahterakan.”

Buat Agun, ini penting sebab kedaulatan rakyat tidak hanya saat berada di TPS saja. Namun, juga lima tahun selanjutnya, rakyat juga berhak atas kedaulatan di bidang ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan.

Dikatakan, pentingnya kontestan Pemilu untuk menghadirkan gagasan sebab diakui menjelang Pemilu tahun ini masih banyak muncul caci maki, hoaks dan beragam fitnah. Dirinya dengan tegas mengajak kepada semua untuk menjadikan Pemilu sebagai sarana menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Sekjen Partai Golkar, Lodewijk Freidrich Paulus, yang hadir mewakili Ketua Partai Golkar Airlangga Hartarto, menuturkan dirinya memberi apresiasi atas apa yang dilakukan FPG di MPR.

“Berbagai seminar yang telah digelar mampu meningkatkan citra partai di tengah masyarakat,” ungkapnya. Dikatakan, FPG kreatif meningkatkan sumbangsih kepada masyarakat dalam menghadapi Pemilu.

“Partai Golkar ingin Pemilu yang damai, berintegritas, dan menyejahterakan,” paparnya. Bagi Lodewijk, Pemilu harus dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan kedaulatan rakyat. “Ini harus menjadi pemahaman bersama,” lata dia.

Pemilu damai menurutnya sebagai modal dasar bagi keberadaan pemerintahan yang terbentuk pasca Pemilu. Untuk itulah hajatan lima tahun sekali itu perlu diselenggarakan secara transparan dan akuntabel.

Ada tiga faktor yang menurut pria berpangkat terakhir letnan jenderal itu mampu membuat Pemilu menjadi damai. Tiga faktor itu tingkat kecerdasan masyarakat yang memahami kondisi bangsa, kesiapan partai politik dalam mempersiapkan kader yang kredible, dan kesiapan penyelenggara Pemilu yang Luber Jurdil. (art)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *