KESRA

ODHA MASIH MENGALAMI DISKRIMINASI

HARIANTERBIT.CO – Dewan Nasional Jaringan Indonesia Positif (JIP) Yudi Syahendra menilai nol diksriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi tantangan untuk diwujudkan. Pasalnya selama ini masih sering terjadi diskriminasi terhadap ODHA.

“Diskriminasi tidak akan hilang tanpa peran aktif dan tindakan dari semua orang untuk mengakhirinya,” ujar Yudi pada Sabtu (16/2/2019).

Ia mengatakan, seharusnya semua pihak mulai dari tokoh agama, pemerintah, komunitas, dan tidak kalah penting juga media massa untuk memberikan pemahaman tentang HIV/AIDS yang benar kepada masyarakat.

Dipaparkan Yudi, dalam keterangan tertulisnya yang diterima HARIANTERBIT.co, Minggu (17/2/2019), diskriminasi pernah dialami 14 Anak dengan HIV/AIDS atau ADHA yang tinggal di Yayasan Lentera, ditolak untuk bersekolah di SDN Purwotomo Solo. Penolakan itu tak hanya oleh pihak sekolah, namun juga dilakukan oleh para orang tua siswa lainnya.

Tak hanya itu, diskriminasi juga terjadi beberapa waktu lalu di mana lima anak yang positif HIV di Samosir, Medan, Sumatera Utara, juga ditolak oleh pihak sekolah.

Yudi mengakui, diskriminasi terhadap ODHA bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat.

Yudi Syahendra yang biasa disapa Yudi Kotek ini mengatakan, nol diskriminasi menyoroti soal hak setiap orang untuk bersosialisasi. Persolannya diskriminasi yang terjadi, menurut Yudi, justru melemahkan berbagai upaya penanggulangan HIV yang sudah berjalan selama ini.

Dunia global telah memiliki strategi ‘fast track’ untuk mengahiri epidemi AIDS pada 2030, yang terdapat tiga tujuan besar yang ingin dicapai sebagai pencegahan dan pengendalaian HIV-AIDS adalah untuk mewujudkan target Three Zero, pertama tidak ada lagi penularan HIV.

Kedua, tidak ada lagi kematian akibat AIDS dan ketiga tidak ada lagi stigma dan diskriminasi baik pada ODHA, populasi kunci maupun rentan.

Sementara itu Focal Point JIP Depok Dimas Prasetyo mengatakan, dalam sebuah survei terhadap 19 negara, seperempat dari orang yang hidup dengan HIV dilaporkan mengalami beberapa bentuk diskriminasi dalam perawatan kesehatan.

Diskriminasi sering terjadi karena didasarkan pada informasi yang salah atau takut karena ketidaktahuan. Untuk mengakhiri diskriminasi terebut, semua lapisan masyarakat memiliki peranan penting, termasuk media dalam hal pemberitaan yang positif dan benar.

“Agen perubahan dalam menciptakan lingkungan kondusif harus diciptakan untuk mengakhiri epidemi AIDS di dunia,” tuturnya. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *