NASIONAL

HETIFAH: NEGARA HARUS MENJAMIN PENDIDIKAN ANAK BANGSA

HARIANTERBIT.CO – Untuk mencerdaskan anak bangsa, negara harus menjamin rakyat atau warganya mendapatkan pendidikan yang layak. Itu adalah salah satu sila prinsip dari Pancasila.

Itu dikatakan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian tentang pentingnya pendidikan buat seluruh rakyat Indonesia pada sosialisasi Empat Pilar MPR RI di depan ratusan anggota Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (9/2).

Jadi, kata wakil rakyat dari Dapil Kalimantan Timur tersebut, tujuan dari pendidikan selain dari mencerdaskan kehidupan anak bangsa juga guna meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Golkar Mahyudin yang menjadi pembicara utama (keynote speach) dalam acara tersebut mengingatkan masyarakat untuk terus menjaga persatuan bangsa. “Empat pilar MPR ini sebagai pemersatu. Kalau tidak ada persatuan, negara tidak ada. Sekarang ini gara-gara beda pilihan bisa bertengkar. Jangan sampai suami istri bertengkar gara-gara beda pilihan,” ungkap Mahyudin yang juga wakil rakyat dari dapil Kalimantan Timur itu.

Mahyudin bersyukur, Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika yang digelar di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dihadiri cukup banyak peserta.

Acara menurut Mahyudin merupakan amanah UU Nomor 17/2014 yang mengamanatkan kepada anggota MPR untuk melakukan sosialisasi. Menurut pria asal Kalimantan itu, sosialisasi penting dilakukan sebab Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan alat pemersatu bangsa. “Kita butuh alat pemersatu. Tanpa alat pemersatu kita tak akan bisa menjadi sebuah bangsa. Karena bersatu maka hari ini kita bisa berkumpul,” ungkap Mahyudin.

Alat pemersatu perlu disegarkan pada masyarakat sebab Indonesia saat ini memiliki berbagai tantangan. Di masyarakat masih ada pemahaman keagamaan yang dirasa tidak tepat. Ketidaktepatan dalam pemahaman keagamaan inilah akhirnya menimbulkan radikalisme. “Padahal agama itu mengajarkan kedamaian dan toleransi,” ujarnya.

Tuhan menciptakan dunia agar penuh kedamaian. Menurut dia, bisa saja Tuhan menciptakan apa yang ada di dunia sama semua. Namun, Tuhan menciptakan manusia berbangsadan bersuku. “Tuhan menciptakan perbedaan dan keragaman agar kita saling mengenal.”

Mahyudin menceritakan, ayahnya orang Bugis, Ibunya orang Banjar dan istrinya orang Dayak. Dari perbedaan yang ada, jangan dipertentangkan. Indonesia terdiri dari berbagai daerah dan masing-masing daerah punya keragaman, budaya dan adat tersendiri.

Keragaman ini yang menurut mantan Bupati Kutai Timur tersebut jangan diabaikan. “Bila daerah diabaikan, bisa memunculkan separatisme,” ungkap politisi yang pada pemilu mendatang maju sebagai calon anggota DPD RI.

Diakui, Kalimantan Timur saat ini termasuk wilayah yang sejahtera. Meski demikian, agar pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan dalam segala bidang. “Agar orang luar Jawa tak iri pada pembangunan di Jawa,” ungkap dia.

Dalam kesempatan itu, Mahyudin juga menyampaikan bahwa bangsa ini sebentar lagi menggelar Pemilu. Dalam Pemilu masing-masing orang mempunyai pilihan yang tak sama. Terhadap perbedaan yang ada, agar tak samanya pilihan bukan membuat kita bertentangan. “Jangan karena beda pilihan kita bermusuhan dengan tetangga. Dunia politiksangat menarik, banyak orang untuk berkecimpung di dalamnya sehinggabanyak orang jadi caleg,” ucapnya.

Menurut Mahyudin, masyarakat tertarik dalam politik karena mereka kira dunia ini bisa membuat orang cepat menjadi kaya. “Anggapan itu salah. Kalau mau kaya jangan jadi politisi tetapi menjadi pengusaha,” jelas Mahyudin.

Dalam berpolitik ternyata antara pengeluaran dan pemasukan tidak seimbang. “Dari sini banyak orang melakukan korupsi. Banyak pejabat dan wakil rakyat korupsi sehingga bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan,” jelas dia.

Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia menurut alumni Universitas Mulawarman itu tidak hanya dari dalam. Dari luar pun ada ancaman yang akan mengganggu Indonesia. Dikatakan, pengaruh globalisasi dan persaingan antarbangsa yang demikian massif.

Sebagai bangsa yang kaya dengan sumber daya alam maka Indonesia menjadi incaran bangsa asing. “Bangsa lain tak diam melihat Indonesia kaya sumber daya alam. Mereka melakukan intervensi dengan berbagai cara, misalnya lewat kebijakan.”

Pada kesempatan serupa, Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Erwinsyah mengaparesiasi perjuangan Mahyudin dan Hetifah Sjaifudian sebagai anggota DPR RI dari Kalimantan Timur.

Menurut Erwinsyah, kedua wakil rakyat yang juga politisi senior Partai Golkar itu telah memperjuangkan mahasiswa mendapatkan beasiswa. “Saya berterima kasih kepada Pak Mahyudin dan Bu Hetifah yang sudah membantu banyak mahasiswa Unikarta untuk mendapat beasiswa,” demikian Erwinsyah. (art)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *