NASIONAL

PENGAMAT: PEMBEBASAN BA’ASYIR TAK PENGARUHI TEKAD JOKOWI BERANTAS TERORISME

HARIANTERBIT.CO – Sejumlah kalangan mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo membebaskan terpidana terorisme Abu Bakar Ba’asyir. Namun begitu, ada yang membacanya sarat muatan politis. Bahkan, ada pula yang mulai menyangsikan tekad Jokowi memberantas terorisme.

Menanggapi hal tersebut, pengamat terorisme yang juga Rektor IAIN Pontianak M Syarif mengatakan, keputusan itu sebaiknya tidak ditanggapi reaksioner di luar kerangka politik hukum dan kebijakan. Sebaliknya, pertimbangan di balik putusan itulah yang sangat penting diuji.

“Pertimbangannya kan kemanusiaan, sudah sepuh 81 tahun, kesehatannya menurun, sakit-sakitan, butuh perawatan khusus bersama keluarga,” katanya, Minggu (20/1/2019).

Menurut Syarif, pertimbangan itu cukup bijaksana mengingat aspek kemanusiaan atau Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu landasan dan paradigma hukum di Indonesia. Apalagi pada akhir 2018 lalu, Ba’asyir sudah waktunya masuk pembebasan bersyarat. Apalagi, ujarnya, Ba’asyir telah menjalani masa hukumannya selama sembilan tahun sejak divonis 15 tahun penjara.

“Dan saya kira Presiden mengambil langkah ini tidak terlepas dari salah satu strategi pemberantasan terorisme dengan pendekatan kemanusiaan. Bukan hanya pendekatan represif semata. Karena tidak bisa dibantah alasan kemanusiaan itu bukan dibuat-buat. Beliau suda sepuh 81 tahun, beliau sakit-sakitan, beliau sudah menjalani hukuman sembilan tahun di dalam penjara,” kata Syarif.

Ia juga menyatakan, ketakutan terhadap kemungkinan terjadinya ancaman teror pasca dibebaskannya Ba’asyir sangat berlebihan. Sebab di samping sudah tua, Ba’asyir juga sudah ditinggal pengikut setianya dan sudah terputus dengan jaringan ekstremis, seperti Jaringan Anshar Daulah (JAD) dan Jaringan Ansharut Syiah (JAS). “Enggak usah khawatir, aparat kita sangat paham soal ini,” tegasnya.

Dan pasti jika ada indikasi Pak Abu Bakar Ba’asyir akan berbuat teror lagi, tinggal dicabut saja pembebasan bersyaratnya dan ditahan lagi. Yang justru membuat dirinya heran, ketika ada sebagian pihak menyalahkan keputusan itu serta menuduh Jokowi tidak komit terhadap penanggulangan terorisme.

Padahal, sambungnya, pencegahan dan penanganan aksi-aksi terorisme sangat progresif di era Jokowi ini. Pola pendekatan Jokowi dalam penanggulangan terorisme tidak hanya tindakan represif, tapi mulai juga masuk ke pola pendekatan kemanusiaan.

Mestinya semua pihak apresiasi langkah ini. Jangan apa-apa dikaitkan dengan elektabilitas Jokowi yang naik gara-gara ini. Padahal memang secara keseluruhan elektabilitas Jokowi memang naik, karena kinerja beliau diakui rakyat, bukan karena tindakan kemanusiaan Pak Jokowi kepada Abu Bakar Ba’aysir ini. “Ketegasan pemberantasan terorisme di Indonesia sangat tegas, ini faktanya. Tahun 2018 saja ada 396 terduga teroris yang ditangkap. Kemampuan polisi kita canggih, punya sistem deteksi dini dan diakui dunia. Kurang apa lagi?” ungkapnya.

Ia menilai, keputusan membebaskan Ba’asyir sama sekali tak ada hubungannya, juga tak akan pengaruhi tekad pemerintah dalam menanggulangi terorisme. Keputusan itu juga bukanlah bentuk kompromi dengan kelompok teroris. Keputusan itu menunjukkan pada dunia bahwa penanganan terorisme di Indonesia sangatlah mengedepankan HAM. “Artinya, pemerintahan Jokowi itu humanis namun sangat tegas soal terorisme,” pungkasnya. (**)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *