NASIONAL

ADA PROBLEM SERIUS DI ELITE POLITIK DAN SISTEM POLITIK KITA

HARIANTERBIT.CO – Sabtu (22/12), Komunitas Mazhab Rawamangun (KMR) yang dikelola oleh para Aktivis 98 yang fokus pada budaya intelektual menggelar Refleksi Akhir Tahun 2018 dengan tajuk “Refleksi Politik Kebangsaan Kita”. Hadir dalam Refleksi Politik Kebangsaan tersebut sejumlah pentolan Aktivis 98 di antaranya, Ubedilah Badrun, Hanry Basel, Sarbini, Danar, dan lain-lain.

Dalam paparanya, Ubedilah Badrun mengemukakan, bahwa ada dua hal serius yang penting untuk dievaluasi sebagai refleksi politik kebangsaan saat ini yaitu Problem Elite Politik dan Problem Sistem Politik. “Di ranah elite politik problem utamanya ada pada performa elite politik yang tidak memiliki rasa kebangsaan karena tidak mengutamakan kepentingan nasional dalam menyelenggarakan negara.

Di antara faktanya adalah dari 550 kasus korupsi di Indonesia tahun 2018 ini terdapat 322 kasus korupsi politik yang menyangkut elite politik nasional dan daerah. “Ini adalah salah satu fakta yang menunjukkan elite politik saat ini tidak memiliki rasa kebangsaan. Korupsi itu perilaku yang mengabaikan kepentingan nasional,” ujar Ubedilah Badrun.

Selanjutnya menurut Ubedilah Badrun, problem serius bangsa yang patut dievaluasi adalah fakta tidak efektifnya sistem politik. Sistem politik kita tidak menggambarkan ideologi kebangsaan kita, dan karenanya tidak efektif.

“Faktanya memang menunjukkan hal itu, di antaranya pemerintahan berjalan tidak pernah mencapai tujuan pemerintahannya. Ekonomi stagnan adalah fakta ketidakmampuan sistem politik memproduksi regulasi untuk mendorong percepatan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi. Kisaran angka pertumbuhan ekonomi tidak bergeser dari angka kurang lebih lima persen,” ujar akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bidang sosial politik ini.

Sementara Sarbini, aktivis yang pada 1998 menjadi salah satu tokoh penting pendudukan gedung DPR/MPR, mengemukakan, bahwa hal yang patut dievaluasi di akhir tahun ini adalah masih kuatnya nuansa permainan politik mendominasi arah politik Indonesia.

“Orientasi kebangsaan hilang di kepala elite politik, karena elite politik hanya sibuk melakukan permainan politik. Pola saling menyerang secara emosional di antara elite politik adalah fakta yang menunjukkan politik hanya diajadikan arena permainan. Mereka tidak serius memperjuangkan kepentingan nasional,” ujar Sarbini, Aktivis 98 yang fokus di bidang kebijakan publik ini.

Dalam diskusi yang dipandu Roby TW, mantan ketua BEM UNJ ini berlangsung menarik. Aktivis 98 lainnya yang juga mengemukakan pandanganya adalah Danar, Aktivis 98 yang bekerja di lembaga internasional mengemukakan betapa birokrasi kita masih buruk dan patut segera dievaluasi secara mendasar.

“Birokrasi di daerah itu agak kacau karena sejak praktik pilkada berlangsung, banyak jabatan di daerah diduduki oleh mereka para tim sukses pilkada sehingga tidak jarang mengabaikan keahlian dan tentu mengabaikan profesionalisme. Muatan politisnya terlalu kental,” ujar Aktivis 98 dari Universitas Moestopo Beragama ini.

Suherman

Suherman, aktivis senior Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengemukakan kegelisahannya mencermati kondisi bangsa saat ini. Perasaan saya campur aduk antara kesal, marah dan bersikap kritis dengan keadaan. Kontestasi politik saat ini merusak rasa kebangsaan kita.

“Saya sempat terpikir mengapa pemilihan presiden tidak dicari saja gubernur yang terbaik, memilih gubernur tinggal pilih bupati yang terbaik, memilih bupati atau wali kota tinggal pilih camat yang terbaik. Ini kegelisahan saya pada keadaan yang makin memburuk secara rasa kebangsaan kita saat ini,” ujar aktivis senior yang juga sekjen Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) ini.

Diskusi yang berlangsung di NEC Cafe Utan Kayu Rawamangun ini berlangsung tiga jam diselingi suasana santai sambil menikmati kopi dan camilan sehat ala milenial. (***)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *