RENUNGAN

ROAD SAFETY LAYAKKAH MENJADI DAGANGAN POLITIK?

Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

ROAD safety merupakan gerakan moral atas kepekaan, kepedulian dan tanggung jawab akan kemanusiaan agar mampu bertahan hidup produktif, dan tidak menjadi korban sia-sia di jalan raya. Berlalu lintas merupakan gerak pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Standar dalam pergerakan tersebut adalah ada standar ideal waktu tempuh dengan jarak tempuh. Tentu ada standar kecepatannya. Standar kecepatan minimal maupun maksimal ini yang perlu di-manage. Cara me-manage-nya diperlukan model yang diatur dalam road safety managemet yang mampu mencakup: manajemen kebutuhan, manajemen kapasitas, manajemen prioritas, manajemen kecepatan dan manajemen kontijensi.

Proses me-manage lalu lintas diatur dalam safer road, safer vehicle, safer road users, dan post crash care. Inti dari manajemen tersebut adalah terwujud dan terpeliharanya lalu lintas yang aman, selamat, tertib, dan lancar. Meningkatnya kualitas keselamatan, dan menurunnya tingkat fatalitas korban kecelakaan, terbangunnya budaya tertib berlalu lintas, dan terwujudnya pelayanan prima di bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).

Dalam implementasi di lapangan ada pajak, ada asuransi, ada sistem uji SIM, ada penegakan hukum, dan sebagainya. Kesemua itu merupakan bagian memdukung tercapainya tujuan road safety. Termasuk sistem-sistem perpanjangannya sistem uji dan berbagai kontrol lainnya. Tatkala proses-proses road safety dianggap beban yang memperberat kehidupan masyarakat, maka pendekatan road safety bisa saja kemudian dijadikan momentum perolehan simpatik, dan mulailah dijadikan ajang jualan dan janji-janji politik.

Pajak dan asuransi merupakan investasi road safety termasuk juga denda tilang. Cara pandang road safety sebagai beban sehingga harus dihapuskan, ini sama saja membiarkan orang menjadi pembunuh dan dibunuh di jalan raya. Sama juga tidak peduli terhadap produktivitas masyarakat. Sama saja humanisme ditukar kursi jabatan kekuasaan kewenangan. Tatkala road safety jadi permainan politik termasuk undang-undangnya sama saja peradaban diruntuhkan kepentingan. Kemanusiaan dijadikan ranah pasar dari jual-beli pasal kewenangan sampai janji simpati meraup kursi.

Tatkala road safety sebagai simbol kemanusiaan, simbol peradaban, kemudian diayun-ayun sebagai ajang isu yang membingungkan, menunjukkan betapa rapuhnya komitmen bagi terbangunnya masyarakat yang berbudaya berperadaban tinggi, karena lalu lintas merupakam refleksi budaya bangsa. Tatkala kemanusiaan dalam berbagai proses road safety diabaikan, lagi-lagi produktivitas dirontokkan, karena lalu lintas sebagai urat nadi kehidupan. Dan tatkala modernitas juga diabaikan, maka road safety akan dianggap seksi yang menjadi ajang perebutan kewenangan dan kekuasaan yang tiada ujungnya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *