RENUNGAN

MEMBODOHI IBU PERTIWI YANG SEDANG BERSUSAH HATI?


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

LAGU ‘Ibu Pertiwi’ memang menyayat hati rasa pilu, sedih, malu, marah bercampur menjadi satu. Indonesia negeri indah permai bak mutu manikam yang kaya-raya menjadi incaran dan sasaran penghancuran. Susahnya lagi, semua internal sendiri yang seringkali bangga memamerkan ketololan-ketololannya. Kejumawaan sektoral, ambisi-ambisi memuakkan terus saja menghadang. Teman saya bercerita, seorang pengemudi yang melayaninya di Sebatik salah satu pulau terluar kawasan Nunukan yang berkata: “Pak, semoga nanti bapak pulang ke Jawa bisa beri tahu orang-orang di sana. Indonesia ini juga dirusak. Kita sudah bersatu seperti ini, itu tidak mudah. Kami di perbatasan siap jaga NKRI, tapi kenapa yang di pusat mau memecah-belah?” Temen saya hanya merenung dengan hati sedih walau tidak paham sepenuhnya, namun bisa merasakan kegalauan sang pengemudi.

Rakyat tidak buta, tidak tuli, dan tidak bodoh, bahkan masih waras walau tidak mampu berbuat apa-apa. Kita sebagai manusia pasti tak lepas dari salah dan dosa. Namun demikian yang utama adalah tidak jahat. Bagaimana rasa orang kebanyakan yang hidup serba pas-pasan masih mampu mencintai bangsanya, melihat yang kaya punya kuasa malah menghembuskan kehancuran dan marah diajak waras? Tentu hatinya merana.

Siapa yang dianalogikan sebagai Ibu Pertiwi? Tatkala kita memahami makna fox populi fox dei ’suara rakyat suara tuhan’ mungkin bisa memaknai Ibu Pertiwi terefleksi dalam orang-orang kebanyakan yang penuh dengan keterbatasan. Mereka manut mengalah bahkan rela berkorban. Bagaimana kalau Ibu Pertiwi senantiasa dikorbankan, dipecundangi bahkan dihajar dan diinjak-injak harkat martabatnya. Kekuasaan dan penguasaan sumber daya diamanahkan ke para wakil atau para elite negeri. Mereka lupa kalau amanah yang dipercayakan bisa saja diambil oleh pemiliknya melalui people power sebagai simbol kekuatan demokrasi yang merupak civil disobidience (pembangkangam sipil).

Suara seorang pengemudi di Pulau Sebatik memang bukan mewakili atau untuk generalisasi suara seluruh rakyat. Namun apa yang diungkapkan merupakan refleksi jeritan hati orang sederhana yang mencintai bangsanya. Ungkapan air mata di perbatasan menunjukkan betapa khawatirnya mereka bangsa ini dirusak segelintir orang bertabiat serakah yang punya kesempatan menjadi elite atau ndoro bangsa. Banyak lagi suara hati nurani anak bangsa yang terabaikan bahkan dianggap tidak memahami air mata Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi sedang bersusah hati karena ulah orang-orang yang memiliki kesempatan menjadi elite yang karena keserakahannya tiada ada rasa syukur. Celakanya malah memiliki niat dan bangga mengacaukan atau menciptakan konflik antar anak bangsa. Menggerakkan massa untuk menunjukkan mampu menginjak-injak dan membodoh-bodohi Ibu Pertiwi. Berbagai pembenaran dipakai. Primordialisme digunakan sebagai sarana mencari legitimasi dan solidaritas dengan membuat isu-isu yang seringkali tidak rasional atau dengan mengatasnamakan. Di sinilah makna homo homini lupus ’manusia menjadi srigala bagi sesamanya’ dapat hancurnya harga diri sebagai suatu bangsa.

Anak bangsa yang mudah dibodoh-bodohi marah, sedikit-sedikit turun ke jalan berteriak-teriak seakan-akan berjuang demi Ibu Pertiwi. Selain membodohi, sebenarnya juga merupakan kedurhakaan karena berani membodohi dan melecehkan Ibu Pertiwi. Semangat ngisruh kaum mapan dan nyaman ini mungkin suatu gebrakan antiwaras yang khawatir akan kehilangan previledge-nya. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *