RENUNGAN

JADILAH PELOPOR BUKAN EKOR


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

MEMBEBEK memang enak, tinggal memgikuti tidak perlu susah-payah, tidak perlu berpikir ikut saja. Apa saja di mana saja bagi kaum pembebeklah yang menyesuaikan. Kaum ekor mau tidak mau tempatnya di belakang atau sebagai pelengkap penderita. Tidak memiliki integritas dan otoritas. Mau tidak mau harus ikut aturan kalau tidak akan dilepas dari izin membebek. Bangsa yang membebek akan menjadi bangsa konsumtif. Tukang jiplak tiada kebaruan yang ada hanya copy paste. Tak jarang yang sampah busuk dan hoaks pun ditelannya saking tidak mampu membedakan atau tidak ada pilihan. Bangsa ekor sebenarnya bangsa terjajah, bangsa yang tak punya integritas dan karakternya lemah. Apa saja nyontek, melihat orang lain baru berbuat. Lambat merespons dan daya pikirnya cupet.

Bangsa pelopor kaumnya akan selalu memimpin walau terseok-seok sekalipun tetap menjadi ikon. Kelemahan kegagalan bahkan kesalahanya pun menjadi inspirasi. Apa pun, di mana pun akan meninggalkan sesuatu yang baru. Mampu memberdayakan, mampu memberi pencerahan, dan mampu membuat sesuatu menjadi wow yang penuh kekaguman.

Dari yang sehari-hari hingga yang teknologi bagi bangsa pelopor akan menjadi sesuatu yang baru dan terus terbarukan. Lihatlah bangsa yang maju sarat dengan penemu, sarat dengan inspirasi-inspirasi yang sehat dan memberdayakan. Sebaliknya kaum bebek akan saling serang di dalam eker-ekeran tiada soliditas berebut anak bangsa tanpa tahu siapa yang mengadu dan memprovokasinya. Bisa dibayangkan bagaimana bila tubuh kita harus mengatasi serangan-serangan dari usus, paru-paru, ginjal bahkan dari jantungnya? Tentu akan disfungsional bahkan akan remuk dan membusuk dengan sendirinya.

Bangsa pelopor akan mampu melampaui dan memberdayakan perubahan. Sebaliknya kaum ekor akan bingung mana yang akan diikutinya. Bangsa pengekor tidak akan mampu menghargai kreativitas atau ide-ide cerdas karena yang dikumpulkan kaum-kaum penjilat. Yang tahunya hanya membebek. Analoginya sakit jantung dan darah tinggi pun tetap makan makanan berlemak dan berkadar kolesterol tinggi, tidak peduli akan terkena dampak bagi kesehatannya yang penting ndoro senang.

Menjadi pelopor bukan perkara mudah, karena harus bangun sadar dan waras. Inilah tantangan yang mesti dihadapi. Budaya malu harus dibangun dan diterapkan bahkan diajarkan. Salah bukan dilarang namun tidak untuk dibanggakan. Para pemimpin setidaknya menjadi ikon bagi anak buah yang dipimpinnya. Kaum-kaum penjilat, kaum-kaum penipu, kaum mafia birokrasi memang mau tidak mau harus dilenyapkan. Karena mereka akan menjadi candu yang melemaskan kaum-kaum yang kreatif dan inovatif. Spirit kasih uang habis perkara akan mematikan ide-ide baru. Data menjadi tidak penting bahkan diabaikan. Pembajakan, pemalsuan, pemalakan merajalela.

Kaum pelopor akan menjadi sang pencerah. Walau dalam konteks local heros perjuangannya akan menginspirasi dan berdampak luas. Nilai-nilai kepeloporan ditanamkan, diajarkan, dan diberi ruang dalam kehidupan sosial. Tatkala ada ruang bagi mereka untuk tumbuh dan berkembang, maka akan bermuncullah pelopor di mana-mana di semua lini. Demikian juga sebaliknya tatkala tiada ruang kaum mafia mengajarkan untuk terus mengekor. Semua ini tergantung dari kita mau waras atau tidak itu saja. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *