UI SELENGGARAKAN SIMPOSIUM PEMBERDAYAAN PEDESAAN

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Memasuki era globalisasi seperti pada saat ini, laju gangguan urbanisasi dan hubungan transnational melalui migrasi dan dunia digital telah menciptakan dinamika baru pada interaksi perkotaan-pedesaan yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Selain itu, tingginya migrasi transnasional dari pedesaan ke pusat kota kosmopolitan, daerah pedesaan berubah menjadi kota di daerah pedesaan, dengan pembangunan seperti perkotaan yang menghabiskan sumber daya budaya dan ekologi pedesaan.

Berbagai penyakit-penyakit perkotaan, yang meliputi polusi, pengasingan sosial dan pertumbuhan kelompok-kelompok radikal, serta kecanduan narkoba, telah menyebar ke daerah-daerah pedesaan.

Sementara itu di sisi lain, inovasi-inovasi sosial, budaya dan lingkungan dalam menanggapi kompleksitas waktu telah muncul dari masyarakat perkotaan maupun pedesaan, terutama di zona tengah. Zona-zona tengah ini termasuk kota di daerah pedesaan, desa-kota, maupun kota-kota kampung di kota besar.

Pada saat ini, pemerintah Indonesia telah berkomitmen menginvestasikan modal dalam jumlah besar di daerah pedesaan. Para faktor ini mengadopsi strategi-strategi yang bersinggungan, bertolak belakang sekaligus tumpang-tindih dalam arah yang sama dan berbeda.

Mengupas fenomena tersebut, belum lama ini Universitas Indonesia mengadakan simposium mengenai “Pemberdayaan Pedesaan atau Kampung Berbasis Komunitas”. Dalam simposium itu dikupas mengenai dinamika-dinamika tersebut berdampak pada konfigurasi ruang perkotaan dan pedesaan di masa depan? Bagaimana kolaborasi lintas disiplin antara akademisi dan para aktivis kampung memperkuat pemberdayaan budaya di kampung-kampung?

Wakil Rektor Bidang III Riset dan Inovasi UI Prof Dr Rosari Saleh rer.nat mengungkapkan, simposium ini sangat penting karena menjadi jembatan nyata bagi pertemuan antara akademisi dan aktivis lapangan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

“Selama ini kami (akademisi-red) kerap dituding sebagai menara gading, dan ternyata pertemuan dengan para aktivis lapangan ini membuka banyak jalan bagaimana sinergi terjadi antara apa yang kami teliti dengan aplikasi di lapangan,” tutur Rosari, usai mengikuti seminar, Selasa (30/10).

Sebaliknya, menurut Rosari, para akademisi bisa belajar banyak dari kerja nyata yang dilakukan para aktivis dalam ‘membumikan’ ilmu pengetahuan yang selama ini mereka pelajari dan teliti.

Para pembicara pleno pada simposium ini adalah Goh Beng Lan, Associate Professor, Department of Southeast Asia Studies, National University of Singapore. Kemudian Margaret Sit Tsui, Associate Professor, The Institute of Rural Reconstruction of China, Southwest University, Chongqing, Tiongkok; Natedao Taotawin, Assistant Professor in the Department of Social Sciences, Faculty of Liberal Arts, Ubon Ratchathani University, Thailand Utara; serta Prof Melani Budianta, Profesor di Studi Sastra di Fakultas Pengetahuan Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; Suraya Afiff, Dosen Departemen Antropologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Simposium ini bertujuan agar diperoleh pengetahuan mengenai kerangka kerja konseptual, isu mutakhir, serta studi kasus tentang praksis pemberdayaan pedesaan dan kampung dari berbagai negara di Asia. Simposium ini juga untuk mengidentifikasi peluang terhadap penelitian kolaboratif, publikasi bersama dan komunitas berbasis aktivisme pada pemberdayaan pedesaan. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *