KISRUH

WARGA LIMO MASIH TAK DAPAT KEJELASAN SOAL LAHANNYA

HARIANTERBIT.CO – Di tengah Presiden Joko Widodo sangat konsen memberikan kemudahan masyarakat dalam memperoleh hak atas lahannya, namun masih saja ada warga yang kesulitan untuk memperoleh hak atas tanahnya. Seperti yang dialmi sejumlah warga Limo, Depok, Jawa Barat misalnya. Tanpa sepengetahuan mereka, lahan yang telah ditempatinya selama puluhan tahun, tiba-tiba sudah beralih kepemilikan. Ironisnya, warga pun seolah tak mempunyai hak lagi atas lahan turun temurun itu.

Silla

Belum lama ini, sejumlah warga Limo mendatangi Kantor Kelurahan Limo. Mereka bermaksud menanyakan keabsahan lahan yang telah mereka tempati puluhan tahun dan menurut sepengetahuan mereka masih atas nama kakeknya, Biang bin Buya. Namun alangkah kagetnya warga saat hendak mengurus pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). “Saya terkejut, karena tanah milik kakek sudah beralih atas nama PT Urecon,” ujar Silla, warga sekaligus ahli waris Biang bin Buya, Kamis (18/10).

Untuk diketahui, tanah milik Biang bin Buya yang ditempati puluhan warga sekaligus para ahli warisnya, berlokasi di jalan Sasak Raya Krukut Limo Depok. Lahan tersebut memiliki luas 10 ribu meter persegi dengan status tanah Girik. “Pihak kelurahan tidak tahu menahu karena pengalihan hak atas tanah sudah lama terjadi dan tidak ada data yang pasti di Kelurahan Limo karena sudah berlangsung lama,” ujar Silla lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Lurah Limo Danudi Amin menjelaskan, dirinya sudah memberi saran kepada pihak ahli waris dan pihak yang mengalihkan hak atas tanah tersebut, yakni PT Urecon. Danudi juga menyarankan agar kedua belah pihak untuk menemui pihak PT Megapolitan, selaku pihak yang kabarnya kini menjadi pemegang hak atas lahan milik warga itu.
“Pihak kelurahan tidak akan mencampuri terlalu jauh mengenai sengketa tersebut, karena pihak kelurahan juga tidak memiliki data apa pun tentang tanah tersebut,” jelas Danudi Amin.

Danudi Amin juga menyarankan kepada pihak yang bersengketa untuk mengurus hal tersebut melalui pengadilan agar segera mendapat kejelasan. Apalagi warga masih mengklaim bahwa tanah tersebut masih miliknya. “Saya sarankan yang bersengketa mengurus status tanah lewat pengadilan,” ujarnya.

Pengalihan hak atas tanah dari nama pemilik kepada para ahli warisnya itu menjadi masalah ketika lahan tersebut beralih menjadi nama PT Urecon. Padahal, para ahli waris tidak pernah menjual lahan tersebut kepada pihak lain. Kejanggalan yang dirasa warga semakin menjadi ketika, ada pihak lain, yakni PT Megapolitan muncul sebagai pemilik lahaN. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *