TOLAK LEPAS HIJAB, JAZULI BERI MIFTANUL JANNAH HADIAH UMRAH

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Walau batal bertanding di arena Asian Para Games yang tengah berlangsung di Jakarta karena menolak melepas hijab saat masuk matras tetapi sikap Miftanul Jannah, pejudo Indonesia kelas -52 kg kategori low vision putri ini mendapat apresiasi dari kalangan umat Islam.

Salah satu apresiasi sikap Miftanul Jannah itu datang dari Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Jazuli Juwaini. “Sebagai umat Islam, saya mengapresiasi kokohnya keyakinan pejudo tuna netra Indonesia itu walau dengan sikap itu akhirnya dia didiskualifikasi dari pertandingan,” kata Jazuli.

Hal tersebut dilontarkan politisi senior kelahiran Bekasi, 54 tahun silam itu dalam keterangan tertulis melalui WhatsApp (WA) kepada HARIANTERBIT.co, Rabu (10/10). “Saya puji sikap keyakinan Miftanul Jannah. Atas sikap itu pula Fraksi PKS DPR RI menghadiahkan umrah untuk atlet asal Aceh ini,” kata anggota Komisi I DPR RI ini.

Kita semua, kata wakil rakyat dari Dapil Provinsi Banten III ini, harus dan bangga dengan semangat dan sikap putri Aceh yang kokoh dengan keyakinannya tidak mau melepas jilbab walau dirinya ingin membela dan mempersembahkan medali untuk bangsa ini.

“Adik kita ini dihadapkan pada dua pilihan yang sulit hingga akhirnya memutuskan untuk memenangkan keyakinannya. Kita bangga dan untuk itu kita hadiahkan umroh untuk ananda Miftahul Jannah,” ulang Jazuli.

Larangan menggunakan jilbab merupakan aturan International Blind Sport Federation (IBSA) dan International Judo Federation (IJF) yang mungkin saja untuk menghindari hal yang membahayakan atlet.

Poin apresiasi Jazuli Juwaini adalah fakta bahwa Miftahul Jannah tetap memilih untuk mempertahankan keyakinan agamanya setelah ia terus berusaha melobi agar dapat bertanding.

Apa yang dilakukan Miftahul Jannah itu merupakan sikap luar biasa. Dia terus berusaha agar dapat bertanding, meski akhirnya gagal. Bahkan, Jazuli mendapat khabar, official sempat membujuk agar Miftahul melepas jilbabnya sebentar agar dapat bertanding.

“Meski sedih dia tetap bertahan dengan keyakinan agamanya. Ini yang membut kita bangga dan haru karena butuh pengorbanan yang besar untuk itu dan kita lihat Miftahul meneteskan air mata,” ucap Jazuli terharu.

Jazuli yang juga ustadz tersebut bukan tanpa alasan mengungkapkan kebanggaan dan pujiannya. Selain karena keyakinan agama yang dia pegang teguh, Miftahul konsisten mengamalkan Pancasila yakni sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan memegang teguh UUD 1945 Pasal 29 Ayat 1 tetang kemerdekaan memegang keyakinan beragama.

“Meski gagal membela bangsa dalam olahraga, Miftahul menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia yang kuat serta berkarakter dalam memegang keyakinan agama sesuai Pancasila dan UUD 1945. Kita semua layak bangga dan menjadikannya teladan,” ungkap Jazuli.

Jazuli berharap agar Miftahul Jannah tidak berkecil hati dan merasa putus asa karena tidak dapat membela bangsa dalam Para Games 2018 karena sikap yang dia tunjukkan sungguh membanggakan.

“Teruslah berprestasi dan jangan pernah putus asa Miftahul. Engkau benar-benar membanggakan dan layak menjadi teladan bagi generasi muda,” jelas Jazuli.

Selain Ketua National Paralympic Committee (NPC) Senny Marbun minta maaf atas tidak tampilnya Miftahul Jannah. Senny mengakui ini kesalahan NPC. “NPC malu dan tidak mengharapkan ini terjadi. Saya akui NPC bersalah karena ini keteledoran kami,” kata Senny kepada awak media.

Ya, seperti diberitakan, Miftahul batal bertanding di Asian Para Games 2018 setelah menolak untuk melepas hijab saat masuk matras. Dia pun didiskualifikasi oleh wasit.

Miftahul dijadwalkan bertanding di JIEXPO Kemayoran, pukul 10.18 WIB di nomor -52 kg kategori low vision. Miftahul dijadwalkan menghadapi judoka Mongolia, Oyun Gantulga.

Namun, menjelang dimulainya pertandingan, Miftahul dilarang tampil menggunakan hijab. Larangan wasit itu sesuai dengan aturan yang ditetapkan International Judo Federation (IJF).

Alasan keselamatan mengharuskan setiap atlet judo bertanding tanpa penutup kepala akhirnya membuat Miftahul batal bertanding di Asian Para Games 2018.

Menurut Senny regulasinya jelas. Setiap atlet tak boleh memakai pelindung atau atribun kepala apapun. “Ini aturan sudah lama, bukan baru. Kita harus menghormati regulasi itu,” ujar Senny.

Dijelaskan, regulasi itu bersifat global. Artinya, tidak hanya berlaku pada Asian Para Games 2018, tapi juga event internasional. “Jadi begini, judo itu sangat dekat satu sama lain. Apalagi, ini kategori blind. Nah, dikhawatirkan saat pergerakan dapat menyebabkan pejudo tercekik. Keselamatan jadi faktor utama IJF membuat regulasi tersebut,” kata dia.

Meski begitu, Senny akan melakukan evaluasi supaya insiden tersebut tidak terulang. Selain judo, ada cabor renang yang memang tidak membolehkan atribut di kepala.

Direktur Sport Inapgoc Fanny Irawan mengatakan, polemik itu telah selesai. Semua pihak menyadari kesalahannya. “Saya salut dengan NPC yang mengakui keteledorannya dalam memahami regulasi. Pemimpin seperti Senny patut dijadikan tauladan. Jadi semua telah clear. Mari kita terus memberi semangat kepada para atlet kita,” imbuh Fanny.

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Mulyana juga menghimbau persoalan ini tidak perlu diperdebatkan. “Jangan sampai mempengaruhi semangat dan fokus atlet. Ketidakpahaman regulasi ini jadi pelajaran buat kita semua,” demikian Mulyana. (art)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *