NASIONAL

BMKG DESAK PEMERINTAH MILIKI SATELIT KHUSUS MITIGASI BENCANA

HARIANTERBIT.CO – Kondisi negara Indonesia yang kerap diguncang gempa dan luasnya wilayah Indonesia yang harus ditangani, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mendesak agar pemerintah Indonesia memiliki satelit khusus untuk mitigasi bencana di Tanah Air. Dengan adanya satelit tersebut, dapat memantau ketinggian air laut, sehingga dapat lebih dini memberikan peringatan kepada warga.

“Kondisi Indonesia yang rawan bencana, dan luasnya wilayah Indonesia serta besarnya penduduk Indonesia, menjadi sinyal bahwa pentingnya Indonesia memiliki satelit khusus memantau bencana. Satelit yang dapat mendeteksi ketinggian air laut, sehingga ketika data di darat itu rusak, karena diguncang gempa, dapat terdeteksi dengan satelit,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat acara jumpa pers, di JS Luwansa Hotel and Convetion Center, seperti dikutip HARIANTERBIT.co dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/10).

Dwikorita menjelaskan, kalau bahaya tsunami dapat diketahui sejak awal, maka dapat dilakukan peringatan dini sebelum muncul gelombang besar. Jadi sangat penting kebutuhan satelit untuk memantau gelombang tsunami. Kebutuhan akan satelit khusus bencana dengan sosialisasi mengantisipasi bencana itu, sama-sama penting.

“Itu dua-duanya penting. Penting adanya satelit dan penting dilakukan sosialisasi. Di Palu, Donggala dan Sigi itu sosialisasi mengantisipasi dampak gempa sudah kerap dilakukan, tetapi dari hasil evaluasi, diketahui kalau belum terbangun sikap dan budaya mengatasi gempa, karena itu dibutuhkan adanya satelit,” ujar Dwikorita.

“Dengan adanya satelit, jangankan ketinggian air, klorofil yang ada di laut pun dapat terpantau,” sambungnya.

Dwikorita menjelaskan, selama ini BMKG bekerja sama dengan Lapan untuk memantau pergerakan tsunami. Dengan adanya kegiatan The 9th Asia/Oceania Meteorological Satellite User’s Conference, pihaknya dapat belajar dari negara lain yang sudah menggunakan satelit.

“Hari ini akan jadi lanjutan dan bisa belajar dari negara yang sudah menggunakan teknologi satelit,” ungkap Dwikora.

Sementara itu, Presiden RA V, Andi Eka Sakya mengatakan, anggaran satelit mencapai 2-3 triliun rupiah. “Yang penting itu preloud (yang memantau data yang sampai) sedangkan motornya satelit, hanya mengantar preloud ke orbit,” kata Andi. (*/rel/dade)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *