PERISTIWA

PERINGATI IDUL YATAMA 1440 H, KETUA DPC JAKPUS BERSAMA FUNGSIONARIS PAC PBB MENTENG GELAR SANTUNAN

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu, orang yang menghardik anak yatim
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, celakalah orang-orang yang salat,
yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan.”
(QS Al-Ma’un: 1-7)

 

HARIANTERBIT.CO – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Bulan Bintang (DPC PBB) Jakarta Pusat yang juga pendiri Radja Soelaiman Hidayatullah Foundation, H Ical Syamsudin, bersama para fungsionaris Pengurus Anak Cabang (PAC) PBB Kecamatan Menteng menggelar “Santunan Anak Yatim”, Kamis (22/9). Kegiatan ini melibatkan sejumlah tim Bais (Barisan Ical Syamsudin), warga dan anak yatim serta yatim piatu di sekitar Pegangsaan. Lokasi kegiatan di Jalan Tambak Utara RW 09 Kelurahan Pegangsaan Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Kegiatan santunan anak yatim ini, masih berkaitan dengan agenda Hari Raya Anak Yatim (Idul Yatama) 10 Muharram. “Salah satu keutamaan di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim dan mengusap kepalanya. Utamanya adalah kami ingin berbagi kegembiraan dan Keceriaan dengan anak-anak yatim di Pegangsaan ini,” ujar Ical Syamsudin yang juga salah seorang pendiri Radja Soelaiman Foundation, yakni lembaga yayasan yang bergerak dan aktif nantinya di sektor pemberdayaan ekonomi, pendampingan sosial, hukum dan HAM, serta pendidikan formal dan informal.

Pada kesempatan kegiatan tersebut, seluruh anak yatim yang dihadirkan itu telah diberikan santunan berupa uang tunai, dan juga beberapa bingkisan makanan. “Kami terharu melihat pancaran kebahagiaan dan rasa syukur dari raut wajah mereka,” ungkap Ical.

Sesungguhnya, pada bulan Muharram, selain berpuasa, umat Islam juga disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya. Sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan kemuliaan dan kebahagiaan anak yatim. Tidak sekadar itu pula, bagi mereka yang mampu dan sadar seharusnya berbondong-bondong menyantuni anak yatim.

Namun perlu diingatkan, bahwa anak yatim bukan hanya sekadar digembirakan atau diceriakan hati mereka saat lebaran anak yatim atau bulan Muharram saja. Oleh karenanya perlu terus menerus menyantuni mereka kapan pun dan di mana pun sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW.

Momentum 10 Muharram atau yang dikenal Asyura, Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk berpuasa. “Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah” (Muttafaq ‘alaih). Anjuran Rasulullah SAW tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum mustad’afiin (duafa), khususnya anak yatim.

Karena itu, di bulan Muharram ini, tepatnya pada 10 Muharram 1440 Hijriah merupakan Hari Raya Anak Yatim (Idul Yatama). Perayaan anak yatim ini disebabkan kecintaan dan perhatian yang sangat besar terhaap nasib anak-anak yatim.

Tidak sedikit ayat Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW yang secara khusus mengajak untuk memperhatikan dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam QS Al-Baqarah ayat 220, Allah berfirman; “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim: Katakanlah; Mengurus secara patut pada mereka adalah baik dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka anggaplah mereka itu saudaramu”.

Bahkan secara lebih tegas dinyatakan dalam Al-Quran, bahwa orang yang tidak memiliki kepedulian terhadap nasib orang-orang miskin dan anak yatim serta menelantarkan mereka, sedangkan ia tergolong orang berkecukupan sebagai pendusta agama. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS Al-Ma’un: 1-3).

Ketua DPC PBB Jakpus Ical Syamsudin (dua kiri), didampingi salah satu fungsionaris PAC PBB Menteng ketika menghadiri acara santunan.

Landasan filosofis religius ini menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian dan kepedulian yang begitu besar terhadap anak yatim, sehingga orang yang mau menanggung mereka dijamin masuk surga. Sebaliknya, orang yang menghardik dan menganiaya mereka dianggap mendustakan agama. Dengan kata lain, Allah Swt demikian lugas mengaitkan agama dengan keberpihakan kepada kaum duafa. Seseorang dikategorikan telah berdusta atau berkhianat kepada agamanya manakala ia mengabaikan anak yatim dan orang miskin.

Anak yatim dan orang miskin adalah dua kelompok yang paling rentan di masyarakat. Mereka digolongkan orang-orang yang lemah. Itulah mengapa Islam mewajibkan kita menolong mereka. Islam mendorong umatnya agar dalam beragama tidak selalu mementingkan aspek ibadah mahdhah yang bersifat vertikal saja. Islam juga menganjurkan ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib anak-anak yatim dan orang-orang lemah. Jadi, Surat Al-Ma’un seolah ingin menegaskan bahwa pendusta agama bukan hanya orang yang mengaku muslim, tetapi tidak mau salat. Lebih dari itu, orang yang mengaku muslim, tetapi tidak punya kepekaan sosial dan tidak peduli pada lingkungan sekitar.

Orang yang lalai dalam salat dapat diartikan secara fisik dirinya berlaku salat, tetapi hati, jiwa, dan perilakunya tidak ikut salat. Yaitu, yang salatnya tidak berdampak pada perilaku sosialnya sehari-hari. Dalam salat syarat dengan simbol-simbol ketuhanan dan kemanusiaan. Ketika salat dibuka dengan takbiratul ihram, itu berarti kita menyapa Allah. Kemudian, diakhiri dengan salam, yang artinya menyapa manusia. Menengok ke kanan dan kiri sebagai tanda akhir salat menunjukkan bahwa kita peduli pada kondisi lingkungan sekitar. Dengan demikian, salah satu pesan fundamental salat adalah kepedulian pada orang lain.

Peduli Anak Yatim
Anak yatim adalah fenomena sosial yang nyata di depan mata kita. Sebagian dari mereka ada yang beruntung karena mendapatkan tempat yang layak sehingga dapat menikmati kasih sayang dan kebutuhan materi secara cukup. Sebagian yang lain dari mereka hidup dalam keadaan sulit, dieksploitasi orang yang tidak bertanggung jawab, meminta-minta di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, terjerumus di lembah nista, dan menjadi gelandangan tanpa harapan masa depan. Adakah kita menyadarinya, bahwa fenomena ini adalah nyata? Adakah kita telah tergerak hati untuk meringankan beban mereka dengan kemampuan kita?

Kalau kita membuka perintah Allah Swt dalam kitab suci Al-Quran akan mengatahui bahwa umat Islam telah diwajibkan peduli dengan anak yatim dan fakir miskin. Bahwa pengakuan kita sebagai pemeluk agama Allah Swt yang kaffah dipertanyakan lagi apabila tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin (QS Al-Ma’un: 1-3). Kalau ditelaah lebih mendalam, firman Allah ini memberikan sinyalemen bahwa cap pendusta bagi orang yang mengaku berislam sedangkan perilakunya tidak sesuai dengan perintah Allah.

Ical Syamsudin, ketua DPC PBB Jakarta pusat yang juga merupakan salah seorang pendiri Yayasan Radja Soelaiman Hidayatullah Foundaion menegaskan, pantasnya mereka disebut pendusta, pembohong besar apabila mengaku sebagai umat Islam padahal dia tidak peduli dengan anak yatim. “Betapa banyak anak-anak yatim yang telantar di sekitarnya, ternyata ia hanya sibuk dengan urusan sendiri, sibuk dengan kepentingan golongannya, sibuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Rasanya kita tidak perlu tunjuk hidung orang lain,” tandasnya.

Ditambahkan Ical, yang diperlukan adalah tindakan nyata bahwa kita peduli dengan anak yatim, kita membantu orang miskin. “Sudahkah itu kita lakukan dengan tangan kita sendiri. Sekarang waktunya dan jangan tunda lagi!” imbuh Ical.

Ketua DPC PBB Jakpus Ical Syamsudin (dua kiri), bersama salah satu fungsionaris PAC PBB Menteng saat memberikan santunan uang tunai dan bingkisan.

Sementara itu, memelihara atau menyantuni anak yatim memiliki beberapa keutamaan di antaranya; menjauhkan kita dari sifat kikir. Kikir adalah salah satu penyakit yang mendatangi manusia agar terlepas dari sifat yang dermawan, solidaritas, dan suka memberikan pertolongan. Jika kita melakukan sedekah atau menyantuni anak yatim, meskipun dengan sedikit harta yang kita miliki, sifat kikir ini akan menghalanginya sehingga dia membatalkan niatnya untuk bersedekah atau berinfak.

Menanamkan sifat istiqamah. Amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang sedikit, tetapi kontinyu. Mengasuh seorang anak yatim dengan baik di rumah kita adalah salah satu sarana untuk menanamkan sifat istiqamah pada kita dan keluarga kita. Sifat istiqamah ini juga merupakan sikap yang terpenting setelah kita beriman kepada Allah. Jika kita sabar dan istiqamah dalam mengasuh atau menyantuni anak yatim dengan segala tingkah laku mereka, Allah menjanjikan keberuntungan besar bagi yang melaksanakannya, yakni surga.

Menumbuhkan sifat murah hati. Murah hati merupakan tiang akal. Karenanya, orang yang memberikan kasih sayang akan dikasihi. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari dan Muslim).

Mendapat perlindungan di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, di hari kiamat Allah Swt tidak akan mengazab orang yang mengasihi anak yatim, dan bersikap ramah kepadanya, serta bertutur kata yang manis. Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan memaklumi kelemahannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diberikan Allah kepadanya” (HR Thabrani).

Masuk surga dengan mudah. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni” (HR Tirmidzi).

Rasulullah Muhammad SAW menempatkan kedudukan orang-orang yang peduli dengan anak yatim dengan perumpamaan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis Bukhari. “Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini” (HR Bukhari).

Dalam riwayat Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah sambil menunjuk jari telunjuk dan jari tengah”. Apa yang dimaksud Rasul dengan menunjuk dua jari yang berhimpitan ini? Dalam hadis lain, Rasul SAW bersabda, “Sebaik-baik rumah orang-orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang disantuni (diperlakukan dengan baik), dan sejelek-jelek rumah orang-orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan tidak baik” (HR Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adab Al-Mufrad).

Dari hadis di atas, Rasul SAW ingin mengajarkan kepada kita betapa tingginya dan dekatnya kedudukan antara Rasulullah SAW dan orang yang peduli anak yatim. Kalau Rasulullah pasti mendapat jaminan surga Allah Swt, apakah mereka juga mendapatkan tempat itu? Yang pasti surga adalah tempat yang tinggi dan terbaik dan menjadi harapan kita semua, kalau kita yakin dengan kedatangan Rasulullah SAW, pasti membenarkan juga ucapan dan ajarannya. Bahwa Rasulullah menyebut pengasuh anak yatim kelak di surga sangat dekat, maka dapat pula disarikan bahwa pengasuh anak yatim mendapat jaminan surga dari Rasul. Bukankan kita semua juga ingin mendapatkan surga Allah? Ternyata tidak sulit, mari mulai saat ini kita peduli dengan anak yatim.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang peduli dan mencintai anak yatim. Bagi anak-anakku Selamat Hari Raya 10 Muharram 1440 Hijriah. (*/disarikan ahmad hariri)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *