NASIONAL

KIAI MA’RUF AMIN DARI PESANTREN MENUJU ISTANA

Anda kaget Jokowi memilih Kiai Ma’ruf Amin sebagai cawapres, Saya tidak kaget.
Tapi mengapa Kiai Ma’ruf Amin, lelaki sepuh berusia tiga per empat abad itu?
Mari bedah melalui gelar dan rekam jejak yang tersampir di pundaknya.

HARIANTERBIT.CO – Kiai Ma’ruf Amin adalah rais aam Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar negeri ini. Seorang rais aam, pemimpin tertinggi, jabatan diduduki pertama kali oleh sang pendiri NU, Kiai Mohammad Hasyim Asy’ari. Tak ada keraguan di dalamnya.

Segenap kalangan NU bernaung di bawahnya. Ia Ketua Majelis Ulama Indonesia, anggota Dewan Syariah Nasional yang menjadi perintis lahirnya bank syariah dan asuransi syariah Indonesia, ia juga menjadi pencetus lahirnya bank wakaf pertama Indonesia.

KH Ma’ruf Amin dilahirkan di Desa Kresek di wilayah Tangerang, Banten pada 1 Agustus 1943. Dari silsilah keluarga KH Ma’ruf Amin memiliki hubungan darah, terhitung cicit dari ulama besar asal Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram bernama Syeikh An-Nawawi Al Bantani. Selain sebagai ulama beliau juga merupakan seorang politisi yang pernah menjabat sebagai anggota MPR dan DPR mewakili Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Masa kecil Ma’ruf Amin lebih banyak dihabiskan di Desa Kresek, Tangerang. Ayahnya yang bernama KH Mohammad Amin merupakan seorang ulama besar Banten.

Aktivitas Ma’ruf Amin semasa kecil di waktu pagi ia habiskan bersekolah di SD. Dan sorenya, ia habiskan belajar mengaji di madrasah ibtidaiyah. Diketahui Ma’ruf Amin sempat belajar agama selama beberapa bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten milik KH Syam’un Alwiah.

Di usia 12 tahun, Ma’ruf Amin pergi belajar ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1955. Pesantren ini banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama besar dari kalangan NU. Pendidikan Ma’ruf Amin di Pesantren Tebu Ireng dimulai dari dasar.

Setelah selesai menimba ilmu di pesantren Tebu Ireng, Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya di Jakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah. Namun pendidikannya itu ia tidak selesaikan.

Ma’ruf Amin memilih kembali ke Banten dan lebih mendalami agama Islam di berbagai pondok pesantren lagi. Mulai dari Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Berbekal pengalamannya sebagai ketua GP Ansor Jakarta, Karier Ma’ruf Amin di politik menanjak. Ia berhasil menjadi anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Golongan Islam pada gelaran Pemilu 1971.

Dalam biografi KH Ma’ruf Amin diketahui pada 1989, Nama Ma’ruf Amin mulai masuk di lingkaran PBNU setelah didaulat sebagai khatib aam Syuriah PBNU dalam sebuah mukhtamar NU yang digelar di Pesantren Krapyak.

Pasca lengsernya Presiden Soeharto pada 1998, KH Ma’ruf Amin menjabat sebagai ketua tim lima yang dibentuk oleh PBNU. Dari tim inilah kemudian lahir Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB.

Setelah Partai Kebangkitan Bangsa berdiri, KH Ma’ruf Amin menjabat sebagai anggota MPR RI dari perwakilan PKB.

Ia juga pernah menjadi ketua Komisi VI DPR RI dari PKB. Setelah Gusdur lengser, KH Ma’ruf Amin lebih banyak menghabiskan aktivitasnya di Majelis Ulama Indonesia sebagai ketua Komisi Fatwa MUI dari 2001 hingga 2007.

Beliau yang dikenal sebagai seorang ulama kemudian membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu menunjuk KH Ma’ruf Amin masuk dalam anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Watimpres.

Pengalamannya yang sangat banyak di bidang agama dan juga politik mengantarkan KH Ma’ruf Amin menjabat sebagai rais aam atau ketua umum PBNU dari 2015 hingga 2020. Selain itu beliau juga menjabat sebagai ketua MUI Pusat dari tahun 2015.

Dalam biografi KH Ma’ruf Amin diketahui, bahwa KH Ma`ruf Amin tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor di bidang agama.

Namun pengetahuannya yang sangat luas tentang agama membuat ia tidak berbeda jauh dengan orang yang sudah bergelar doktor sehingga sangat wajar bila ia mendapat gelar sebagai profesor doktor. (teguh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *