NASIONAL

MA’RUF AMIN PILIHAN TERBAIK JOKOWI UNTUK MENGANGKAT EKONOMI DAN PENDIDIKAN UMAT


Oleh: La Ode Budi

ANCAMAN utama Indonesia adalah ketimpangan. Indonesia bagian timur yang tertinggal dari Indonesia bagian barat, sumber kemajuan yaitu infrastruktur dirasa Jawa sentris, penduduk perbatasan yang merasa lebih dilayani negara lain, ketimpangan ekonomi, pendidikan, petani nelayan yang ditinggal karena impor dan banyaknya desa atau pulau kecil yang tidak disentuh pembangunan.

Semua keadaan di atas, dinarasikan dengan baik sehingga menjadi komoditas politik. Umat yang merasa ditinggal, dijaga dengan narasi #2019GantiPresiden. Pintu masuk lewat Ahok yang sudah dihukum, tetap dikapitalisasi, dengan narasi Jokowi sebagai antek asing antek aseng. Sejarah “Perang Badar dan Perang Uhud”, diketengahkan dalam peluncuran tagar tersebut.

Seperti biasa, sejak Wali Kota Solo, Jokowi menganggap semua protes atau demo sebagai input perbaikan. Beliau menjaga salaman langsung dengan rakyat, tujuannya untuk menyerap keadaan mereka. Narasi yang menyuarakan “umat ditinggal”, direspons dengan penetrasi Jokowi ke seluruh komponen umat Islam.

Hampir semua acara keagamaan dan organisasi Islam dihadirinya. Dan jawaban langsung atas masalah ekonomi berbasis pesantren dijawab dengan redistribusi tanah dan bank wakaf mikro. Hanya saja, bagi Jokowi, ini bukanlah kosmetik politik, ini masalah nyata agar umat dapat mengejar keteringgalan ekonomi. Kemajuan umat adalah pendukung kedamain di Indonesia.

Sebaliknya, umat yang tertinggal akan menjadi bahaya laten ketidakstabilan negara. Prinsipnya, semua komponen bangsa harus merasakan kehadiran peran pemerintah.

Memperhatikan hal di atas, pilihan Prof Dr Ma’ruf Amin sebagai cawapres, adalah pilihan terbaik bagi Jokowi. Walaupun bidang keagamaan adalah bidang beliau, tapi diskusi paling intens dengan Jokowi justru terkait ekonomi dan pendidikan umat. Bank wakaf mikro pertama kali didirikan percontohannya di pesantren beliau. Posisi Ma’ruf Amin sebagai ketua Dewan Syuro Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), adalah jaminan komunikasi akan intens antara Istana dan para agen perubahan umat (kiai, dai, ustaz dan tokoh-tokoh umat).

Melalui Prof Dr Ma’ruf Amin, harapan masa depan Indonesia, di mana umat Islam lebih menonjol lagi dalam kemajuan pendidikan dan ekonomi akan menjadi kenyataan. Bravo Indonesia!!! (Penulis adalah anggota Dewan Pimpinan Pusat Kibar Indonesia/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *