PERISTIWA

TERKAIT GEMPA LOMBOK, BMKG PERLU TERUS MENGGALAKKAN SOSIALISASI MITIGASI GEMPA BUMI

HARIANTERBIT.CO – Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB), gempa Lombok dengan magnitudo 6,4 telah merusak lebih dari seribu bangunan rumah, 162 orang luka-luka, dan 17 orang meninggal dunia. Wilayah kerusakan akibat gempa paling parah terjadi di Lombok Utara dan Lombok Timur.

Banyak pertanyan yang dilontarkan oleh warga, mengapa gempa dengan kekuatan magnitudo 6,4 dapat berdampak sedemikian merusak. “Ada tiga faktor utama yang menyebabkan gempa Lombok begitu sangat merusak, yaitu pertama, gempa Lombok merupakan gempa kerak dangkal dengan kedalaman hiposenter 24 kilometer. Hiposenter yang dangkal semacam ini menyebabkan nilai percepatan getaran tanah masih cukup tinggi di permukaan,” demikian diungkapkan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Daryono SSi, MSi, dalam rilisnya yang diterima HARIANTERBIT.co, Selasa (31/7).

Mengacu peta tingkat guncangan (shake map) BMKG, tampak sebagian besar wilayah Lombok utara dan timur mengalami guncangan yang mencapai skala intensitas VI-VII MMI. Dengan estimasi percepatan getaran tanah (PGA) yang mencapai di atas 120 gal memang sudah memenuhi syarat untuk terjadi kerusakan pada bangunan.

“Kedua, kawasan yang mengalami kerusakan akibat gempa di Lombok utara dan timur, lahannya didominasi oleh kawasan perbukitan yang tersusun batuan gunung api seperti lava, breksi dan tufa. Kawasan dengan kontur lembah dan perbukitan sangat rentan terjadi efek topografi. Efek topografi permukaan dapat memicu terjadinya amplifikasi guncangan yang lebih besar dalam arah horizontal dari pada vertikal, semakin curam lereng, maka makin besar amplifikasinya,” beber Daryono.

Dan ketiga, lanjut Daryono, jika kita amati kondisi struktur bangunan yang rusak akibat gempa Lombok ini tampak hampir semua bangunan yang rusak dan rubuh ternyata tidak memenuhi standar aman gempa bumi, sehingga bangunan mudah rusak dan rubuh saat diguncang gempa. “Tingkat kerusakan bangunan akibat gempa tidak hanya disebabkan oleh besarnya magnitudo dan jaraknya dari episenter, tetapi kondisi topografi, tanah setempat, dan mutu bangunan sangat menentukan tingkat kerusakan,” jelasnya.

Sebagai pembelajaran, ujar Daryono, tampaknya perlu terus digalakkan sosialisasi mitigasi gempa bumi yang berkelanjutan terkait langkah aman dalam menghadapi gempa serta pentingnya membangun bangunan rumah tahan gempa. “Hal ini sangat penting, karena korban luka dan meninggal sebenarnya bukan disebabkan oleh gempa, tetapi akibat bangunan yang roboh dan menimpa penghuninya,” ujarnya.

“Jika warga belum mampu membangun bangunan tahan gempa, maka ada pilihan lain dengan cara membangun rumah dengan bahan dari kayu atau bambu yang didesain menarik. Membuat bangunan rumah tembok dengan mutu yang rendah tanpa besi tulangan yang kuat hanya akan membuat penghuninya menjadi korban saat terjadi gempa,” pungkas Daryono. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *