NASIONAL

ATASI KETERSEDIAAN PANGAN POKOK KARBOHIDRAT, BPPT KEMBANGKAN BERAS NONPADI

HARIANTERBIT.CO – Dalam upaya mengatasi ketersediaan pangan pokok karbohidrat, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Pusat Teknologi Agroindustri (PTA), sejak 2015 telah mengembangkan beras nonpadi berasal dari berbagai sumber karbohidrat yang tersedia di dalam negeri, seperti dari ubi kayu, ubi jalar, jagung, sorghum dan sagu.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAN-BPPT) Soni Solistia Wirawan mengatakan, pangan karbohidrat nonpadi tersebut sebelumnya merupakan bahan pangan di daerah-daerah tertentu yang secara agroklimat tanaman padi kurang dapat tumbuh dengan baik. Pangan karbohidrat nonpadi tersebut sering disebut sebagai pangan lokal.

“Masyarakat di daerah tertentu ini sudah terbiasa mengonsumsi pangan lokal sebagai sumber karbohidratnya, namun keberadaan beras yang melalui program swasembada beras sangat berhasil menggeser keberadaan pangan lokal tersebut,” tutur Soni Solistia Wirawan, dalam acara diskusi yang bertajuk “Ketahanan Pangan dengan Rekayasa Teknologi Pangan Nonberas”, di Gedung BPPT, Jakarta, melalui rilisnya yang diterima HARIANTERBIT.co, Rabu (6/6).

Lebih lanjut Soni mengutarakan, negara dan bangsa yang hanya mengandalkan pada satu bahan pangan pokok saja akan mengalami goncangan politik maupun ekonomi manakala ketersediaan pasokan pangan pokoknya terganggu. Oleh karena itu, penyediaan pangan pokok nonpadi menjadi salah satu solusi.

“Mengingat masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi nasi dari beras, maka melalui rekayasa teknologi bahan pangan lokal tersebut dibuat menyerupai bulir padi. Dengan membentuk bulir seperti beras maka diharapkan ketersediaan beras nonpadi dapat diterima oleh konsumen dalam negeri,” jelasnya.

Data yang diperoleh dari Outlook Pangan Karbohidrat menyebutkan, pada 2015 di Indonesia terdapat tujuh provinsi yang mengalami difisit neraca beras padi. Ketujuh provinsi tersebut adalah Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari ketujuh provinsi tersebut difisit berasnya mencapai 1,4 juta ton.

Ditinjau dari sisi agroklimate tujuh provinsi tersebut dapat memanfaatkan sumber pangan lokalnya, misalnya Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Jambi dan Riau dapat memanfaatkan sagu sebagai pangan karbohidratnya, sedangkan NTT dapat memafaatkan jagung, dan Bangka Belitung dapat menggunakan ubi kayu. Agar pangan lokal tidak disediakan dalam bentuk seperti aslinya maka dibentuklah seperti bulir beras padi.

“Melalui rekayasa teknologi ekstrusi Pusat Teknologi Agroindustri telah berhasil memiliki formula dan proses produksi beras nonpadi,” ungkap Deputi TAN-BPPT ini.

Melalui teknologi ektrusi ini, tambah Soni, pengembangan beras nonpadi difokuskan menggunakan bahan baku sagu dengan pertimbangan areal sagu di Indonesia mencapai 2 juta hektare dan belum dikelola secara maksimal.

Di samping itu, penggunaan sagu tidak berebut dengan pemanfaatan produk lain, pati sagu memiliki karbohidrat kompleks yang memiliki khasiat kesehatan, pati sagu tidak mengandung gluten, dan ketersediaan pati sagu selalu tersedia dan tidak tergantung dengan musim.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh PTA, beras sagu memiliki khasiat mengendalikan gula darah dan sekaligus mengendalikan lemak darah seperti kolestrol dan trigleserida darah relawan.

Data dari Riskada Kementerian Kesehatan jumlah penderita diabetes 2015 mencapai 10 juta jiwa dan jumlah penderita prediabetes mencapai 40 juta. Penderita prediabetes adalah seseorang yang kadar gula sesaatnya mencapai 150-200 mg/dl, dan bila ini tidak diperhatikan dalam jangka satu sampai dua tahun akan menjadi diabetes.

“Dengan adanya rekayasa teknologi beras sagu ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif penyediaan beras nonpadi dan dapat menyehatkan masyarakat,” paparnya.

Pada 2018 ini, produk beras sagu sudah diproduksi oleh mitra sebagai pihak ketiga yaitu PT Mitra Aneka Solusi (PT MAS) dan dijual ke masyarakat melalui model offline maupun online. Dalam tiga bulan ini beras sagu ini sudah diproduksi sekitar 1,5 ton.

“Ke depan dengan adanya beras sagu ini dapat digunakan sebagai pendamping penyediaan beras dalam rangka menunjang ketahanan pangan, dan juga sekaligus sebagai upaya pencegahan meluasnya penyakit diabetes yang merupakan penyakit degeneratif di negeri ini,” pungkas Soni. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *