PERISTIWA

PENGAMAT: JADI BOS BULOG, KEBERANIAN BUWAS DIANGGAP TERUJI

HARIANTERBIT.CO – Komisaris Jenderal (Purn) Budi Waseso dikenal sebagai sosok yang tegas dan berani. Ini mengacu kepada sepak terjangnya dalam menangani mafia pungli, ketika masih di Bareskrim dan memberantas mafia narkoba selama jadi Kepala BNN.

Kini, satu bulan sudah Buwas menjalani tugas barunya sebagai Direktur Utama Perum Bulog, sejak 27 April 2018. Banyak yang mengapresiasi kinerjanya, termasuk soal karakternya yang tak berubah.

“Ternyata Buwas ya tetap Buwas. Baru beberapa hari menjabat, mafia beras di Cipinang langsung kena tangkap dan infonya banyak lagi yang sudah terdeteksi,” kata Susanti Darmadi, Pengamat Ekonomi LaPEA Indonesia (Lembaga Pengembangan Ekonomi Agribisnis Indonesia) ketika dihubungi, Minggu (27/5).

Ia menyatakan, keberadaan Buwas di Bulog membuat gentar nyali para mafia dan kartel beras yang selama ini bermain. Buwas bahkan mengultimatum karyawan Bulog yangketahuan bermain dengan kelompok mafiaitu pastiakan dipecat.

“Kita lihat dia berani nunjuk hidung para mafia ini untuk dikoordinasikan dengan Satgas Pangan,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Susanti konsistensi sikap Buwas juga terlihat melalui keberaniannya dalam melempar gagasan serta menghadapi polemik.

Seperti gagasannya untuk tidak lagi membeli beras melainkan difokuskan pada pembelian gabah agar serapan gabah petani meningkat.

“Termasuk pendiriannya menolak impor beras, padahal Mendag kan keukeh keluarkan kebijakan impor,” urainya.

Menurut Susanti, polemik itu menarik karena seperti membuka tirai bisnis impor dan suplai beras yang selama ini kurang transparan. Ia menangkap keinginan Buwas yang prinsipil di balik penolakan itu, yakni agar impor betul-betul dilakukan dalam kondisi yang tepat, antara lain di saat cadangan beras dinilai tidak mencukupi dan gabah petani sudah terserap dengan aman.

“Karena kadang ada permainan impor dilakukan saat petani mau panen. Kan pasti rugi mereka,” tandasnya.

Begitu pula dengan kebijakan Buwas untuk menjual beras sachetan 200 gram seharga Rp 2.500. Langkah ini terbilang tak biasa dan sempat mengundang pro dan kontra.

“Tujuannya bagus ya, agar bisa dijangkau merata di wilayah manapun. Tapi sesuai hukum pasar, yang nguji nanti ya pasar sendiri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *