DAERAH

SELAMA RAMADAN, SATPOL PP KOTA DEPOK GELAR OPERASI SENYAP TINDAK TEGAS PENJUAL MIRAS

HARIANTERBIT.CO – Belum genap sepekan puasa Ramadan 1439 Hijriah berjalan, peredaran minuman keras di Kota Depok, Jawa Barat, masih marak terjadi. Hal itu terbukti dari operasi senyap yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok, Minggu (20/5). Dari hasil operasi yang dilakukan, sedikitnya 242 botol miras berbagai merek, disita petugas dari sejumlah kios jamu.

Kepala Satpol PP Kota Depok Yayan Arianto mengatakan, peredaran miras biasanya melalui toko atau warung-warung jamu yang modus penjualannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. “Sebagian penjual miras biasanya pindah dari kota ke daerah pinggiran, dengan tujuan agar tidak tercium aparat,” ujar Yayan.

Yayan menambahkan, di wilayah Depok sendiri peredaran miras yang signifikan terjadi berada di dekat Stasiun KRL Citayam, Kelurahan Pondok Jaya, serta Perumahan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cilodong.

Tak hanya itu, lokasi hiburan malam dan lapo tuak yang berada di KM 37 Jalan Raya Bogor, juga disinyalir menjadi ajang peredaran miras dengan intensitas cukup tinggi. “Penjual miras perlu diambil tindakan tegas karena sudah mengganggu warga dalam menjalankan ibadah puasa,” tegas Yayan.

Rencananya, dalam waktu dekat Yayan akan bertemu dengan lurah dan camat untuk menegur dan memberi sanksi tegas terhadap para penjual miras itu.

Operasi senyap selama bulan Ramadan terus digencarkan dimulai dari pukul 00.00 WIB hingga pagi hari dengan sasaran peredaran miras. “Selama bulan Ramadan kita menginginkan Kota Depok bersih dari peredaran miras serta tidak melanggar Perda Ketertiban Umum Kota Depok Nomor 16/2012,” tambah Yayan.

Pergaulan Bebas
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Depok Hardiono mengatakan, pergaulan yang bebas menjadi pemicu maraknya minuman keras. Pengonsumsinya dari kalangan dewasa, pelajar dan anak usia sekolah.

“Minuman keras beredarnya di pinggiran kota dan penggunanya merupakan usia produktif, sekitar 17-30 tahun. Korbannya sudah sangat banyak. Mereka merasa diakui keberadaannya ketika mengonsumsi minuman tersebut. Kondisi ini memprihatinkan. Karena, banyak anak muda yang terjerumus ke sana. Mereka merasa ketinggalan zaman kalau tak ikut tenggak minuman alkohol,” ujar Hardiono. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *