NASIONAL

IPW: POLDA JATIM KEDODORAN SISTEM DETEKSI DAN ANTISIPASI DINI

HARIANTERBIT.CO– Kasus serangan bom beruntun di Surabaya pasca kekacauan di Rutan Brimob Jakarta menunjukkan Polda Jawa Timur kedodoran dalam manajemen sistem deteksi dan antisipasi dininya, sehingga jajaran kepolisian dan intelijen seakan tidak berdaya dan tidak solid.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane dalam seran pers yang diterima Harianterbit.co, Senin (14/5) mencemaskan situasi tersebut terutama jika jajaran kepolisian tidak bisa segera mengendalikan situasi.
Akibatnya, kata Neta, masyarakat bakal semakin resah serta merasa tidak aman, sementara bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. “Bagaimana juga, masyarakat butuh situasi aman saat melaksanakan ibadah Ramadhan.”

Karena itu, kata Neta, Polri dan kalangan intelijen perlu bekerja super keras untuk menghentikan aksi teror ini agar tidak ada celah lagi bagi teroris untuk beraksi. Apalagi, menjelang sidang tuntutan terhadap tokoh teroris Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jumat depan.

Aman adalah otak bom Thamrin. “Ucapan dan perintah tokoh JAD ini sangat didengar dan dijalankan para pengikutnya, termasuk melakukan aksi bom bunuh diri. “Ini perlu diantisipasi kepolisian. Pagar betis harus dilakukan agar pengikut Aman tidak punya celah untuk menebar teror balas dendam.”

Melihat teror yang beruntun di Surabaya, kata Neta, jajaran kepolisian harus lebih cermat lagi. Sebab kasus Surabaya memunculkan empat fenomena dalam dunia terorisme Indonesia.

Pertama, ini pertama kali satu keluarga terlibat dalam melakukan serangan teror bom bunuh diri. Kedua, keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri makin masif.

Ketiga, para teroris semakin nekat mendatangi polisi, meskipun di markasnya untuk melakukan serangan. Keempat, kasus bom Surabaya menunjukkan bahwa pelaku teror bom bunuh diri bukan lagi hanya dari kalangan ekonomi lemah tapi juga sudah melibatkan kalangan ekonomi mapan.

Selain itu, lanjut dia, kasus aksi teroris yang beruntun ini menunjukkan bahwa program deradikalisasi yang digalang pemerintah gagal total. Jaringan baru teroris bermunculan dan jaringan yang tertidur bangun lagi.

“Sepertinya pemerintah perlu mengevaluasi banyak hal agar keamanan di negeri ini kembali kondusif, terutama saat Ramadhan, idul Fitri dan pelaksanaan pilkada serentak,” demikian Neta S Pane. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *