SENI BUDAYA

SEBELUM BACA PUISI DI DEPAN IBU MUFIDAH KALLA, KETUA MPR INGAT EMAK

HARIANTERBIT.COM– Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan di depan ratusan kaum ibu termasuk isteri Wakil Presiden, Mufidah Kalla, senator asal Yogjakarta, Ratu Hemas, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Lestari Priansari Marsudi serta pengamat politik senior LIPI Siti Zuhro mengaku, teringat ibu (emak-red).

Itu dikatakan laki-laki kelahiran Lampung, 17 Mei 1962 tersebut di pentas menjelang membaca puisi berjudul ‘Berjuta Mereka, Berjuta Ibunda Kita’ karya Taufiq Ismail di Gedung Pertemuan Perpustakaan Nasional, Merdeka Selatan, Jakarta, Minggu (29/4) malam.

Acara baca puisi itu diselenggarakan Forum Alumni HMI Wati (Forhati) dalam rangka memperingati hari lahirnya pahlawan wanita, Raden Ajeng Kartini 2018. Zulkifli Hasan merupakan tamu kehormatan yang diundang membaca puisi tentang Ibunda.

Dikatakan Ketua MPR RI yang akrab disapa Zulhas itu, dirinya memanggil ibu dia ’emak’. Emak saya mengajari sejak kecil mengajari untuk berbagi. Hal itu bukan hanya omongan saja tapi benar-benar menjadi keseharian emak.

“Emak saya kalau masak, hasil masakan itu pasti dibagi dua. Satu untuk kami satu lagi untuk tetangga. Karena itu, saya jadi teringat kembali emak saya ibunda saya tercinta begitu mau membacakan puisi ini,” kata Zulhas.

Usai acara, kepada awak media, Koordinator Presidium Forhati, Hanifah Husein mengatakan, Malam Budaya Baca Puisi dengan tema ‘Perempuan Untuk Indonesia’ juga berkaitan dengan Hari Pendidikan. “Kami mengkombain ini bahwa Hari Kartini meninggalkan sebuah literasi dalam juangnya.”

Pejuang wanita tidak hanya RA Kartini tetapi juga ada Malahayati, perempuan dari Kesultanan Aceh, Cut Nyak Dhien ada Dewi Sartika, Cristina Martha Tiahahu dan lainnya.

“Jadi kali ini memang kita ingin memperingati hari kartini itu adalah hari dimana kita memperingati kehebatan perempuan-perempuan Indonesia, kartini dan yang lainnya. Jadi, kita mengenang bagaimana kehebatan Kartini,” kata Hanifah.

Dikatakan, puisi yang dibaca itu semua memaknai perjuangan perempuan yang ingin menggairahkan kita kembali misal betapa heroidnya Malahayati. “Mestinya wanita-wanita Aceh mengispirasi Malahayati. Itu makna kami memperingati pejuang-pejuang perempuan itu dalam bentuk puisi,” demikian Hanifah Husein. (ART)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *