SENI BUDAYA

FILM NASIONAL BELUM MENDAPAT PERLAKUAN ADIL

HARIANTERBIT.CO – Nasib seniman film nasional masih amburadul. Selain dibayar murah, juga peredaran film nasional mengalami ketidakadilan dibanding film Amerika.

Kondisi ini terungkap ketika berlangsung pertemuan sejumlah ormas film, belum lama ini. Sejumlah ormas film yang hadir antara lain, Parfi, Asirevi, Perfiki, Kine Club, dan Gasa.

Ketidakadilan nasib sineas nasional lantaran banyak produser maupun importir film barat yang sengaja menabrak UU Perfilman sebagai payung hukum atas eksistensi industri film pribumi.

“Sejak 20 tahun lalu, honor figuran tetap saja Rp60 ribu sampai sekarang. Padahal kerjanya dari pukul sembilan pagi sampai Subuh. Sementara artis utama tarifnya terus melambung. Jadi ada gap yang tajam di antara mereka,” ungkap aktor kawakan, Deden Baskara, menegaskan.

Sejumlah pemerhati perfilman nasional foto bersama usai pertemuan, jelang kongres pertama perfilman yang akan berlangsung di Surabaya, April 2018.

Selain itu, tambah Deden, fenomena sinetron yang kejar tayang di stasiun televisi menyebabkan peta industri film kita kian tak berkualitas. Mulai dari alur cerita sampai teknis tata artistiknya.

Sementara itu, Ketua Harian Asirevi Rulli Sofyan mengungkapkan, kondisi ini makin terpuruk, dengan tidak adilnya penempatan rata edar film nasional.

“Importir film sengaja memutar film di boskop kelas elit, padahal film nasional memiliki penonton yang kuat di daerah. Tak heran jika berkesan film nasional ditinggal penontonnya,” tukas Rulli.

Fenomena tersebut setidaknya menjadi agenda utama pelaksanaan kongres pertama, peran serta masyarakat perfilman yang akan berlangsung di Surabaya, April 2018 mendatang. (arief rahman)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *