RENUNGAN

GURU ‘DIGUGU LAN DITIRU’

Brigjen Pol Chryshnanda Dwi Laksana

HARIANTERBIT.CO – Menjadi guru merupakan suatu pilihan untuk memberi transformasi pencerahan kepada para muridnya. Para murid telah melanglang buana ke penjuru dunia berbagai profesi pun dijalani, sang guru masih saja di situ dan profesi yang sama ‘guru’. Memberi pencerahan bagi para murid menjadi keutamaan dan kebanggaannya tatkala para murid mampu tercerahkan dan dapat dikatakan berhasil menjadi orang-orang yang hidup mandiri. Tatkala ada murid yang gagal dan tidak tercerahkan hatinya seperti tersayat-sayat merasa ada sesuatu salah dalam hidupnya.

Menjadi guru tidaklah selalu beruntung dalam hidup dan kehidupannya. Tatkala ada cerita sang guru ngojek, menjadi pemulung, atau menjadi buruh atau ‘ngeger’ (numpang hidup) kepada orang lain akan tercenung bagaimana mencerahkan anak didiknya tatkaka hidupnya susah dan banyak masalah. Cerita guru Ibu Malkamah dalam cerita ‘Laskar Pelangi’ menjadi inspirasi kegigihannya dalam mengajar murid-muridnya dengan segala keterbatasannya.

Menjadi guru di dalam mencerahkan bukanlah sekadar memberi ilmu, melainkan mengajarkan tentang kehidupan. Apa yang diajarkan menjadi bekal hidup di masyarakat untuk dapat mandiri bahkan bisa hidup dan memberi kehidupan. Dengan demikian pendidikan merupakan proses pemanusiaan, proses transformasi budaya dan peradaban.

Tuntutan orang tua murid kepada guru pun begitu besar, seakan kalau sudah disekolahkan selesailah sudah masalah pendidikan. Tatkala guru keras atau salah tak jarang malah dihujat atau dipersalahkan dan dicari-cari kesalahannya. Masihkah profesi guru menjadi pilihan yang membanggakan? Apakah para guru mencintai dan membanggakan pekerjaannya? Apakah guru menjadi pilar bagi keberlangsungan pendidikan? Tatkala dijawab ya, apa yang kita lihat tentang guru banyak mengalami ketimpangan. Tatkala dijawab tidak, bagaimana masa depan bangsa menjadi baik kalau gurunya demikian? Guru tidak banyak pilihan, selain kata siap. Ketulusan hati jasanya dianggap biasa bahkan dilupakan tak jarang disalahkan. Guru jasamu luar biasa memang tak ada tanda jasanya, namun engkau telah memberi hidup dan kehidupan bagi banyak orang untuk semakin manusiawinya manusia.

Selamat Hari Guru
Guru ‘digugu lan ditiru’
Namun tak jarang hanya ‘nunggu wong turu’ (ketika mengajar muridnya tertidur). (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *