RENUNGAN

NALAR YANG DIGANTI DENGKUL

Brigjen Pol Chryshnanda Dwi Laksana

HARIANTERBIT.CO – Aneh ketika berpikir yang semestinya didasarkan pada nalar atau logika, tiba-tiba harus digantikan denga cara-cara dengkul. Pendangkalan nalar, penumpulan daya kritis bukanlah tiba-tiba atau mak bedunduk turun dari langit. Bisa karena ketakutan, keterpaksaan atau karena utang budi atau juga karena ewuh pekewuh.

Tatkala nalar ditumpulkan, logika didangkalkan maka kebenaran dan kemanusiaan akan tergerus bahkan bisa hilang. Hukum dan keadilan dapat saja menjadi ikon wani piro oleh piro. Pelayanan-pelayan publik sampai dengan seni budayanya dibutakan uang atau kasarnya dikapitalisasi.

Membicarakan uang memang tidak elok, tetapi tanpa uang juga tidak bisa menjadi elok. Itu parodi kaum kapitalis melakukan pembenaran. Tanpa sadar seringkali terjadi bersatu padu memuja yang keliru (memplesetkan dari sampul majalah basis yg bertema: bersatu padu memilih yang keliru). Proses pendengkulan ini seringkali justru dilakukan para kepala-kepalanya. Kebijakan dan statemen-statemennya antara kepingin nonjok dan terbahak-terbahak menjadi satu.

Kebenaran seolah menjadi hak suara terbanyak. Benar bila tidak didukung banyak orang akan disalahkan bahkan dianggap suatu kegilaan. Amanat konstitusi bangsa Indonesia salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tatkala nalar dan logika kecerdasan hilang maka apa mau dikata. Yang baik dan benar bisa disalahkan, dikalahkan bahkan dihakimi. Yang salah dan menjadi refleksi kedangkalan logika dijadikan pujaan dan kebenaran. Tatkala nalar menghilang jangan harap kemanusiaan akan menang, dan jangan bermimpi keadilan akan datang. Semua jadi budak uang, dan lagi-lagi demit dan genderuwo, jin, kuntilanak pun ikut-ikutan wani piro. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *