PERISTIWA

PANGDAM PATTIMURA PUNYA CARA TEKAN KONFLIK DI MALUKU

HARIANTERBIT.CO – Panglima Kodam (Pangdam) XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo punya cara untuk menekan konflik di wilayah kerjanya, Maluku. Dalam kesempatannya sebagai pembicara pada Festival Pengabdian Masyarakat di Balairung Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/11) sore, mantan Danjen Kopassus itu memaparkan langkah persuasif yang ditempuhnya guna menekan konflik berkepanjangan di Maluku
Caranya, memberdayakan kondisi alam serta masyarakat di wilayah Indonesia bagian timur itu.

Mengusung tema ‘Resolusi Konflik Melalui Pendekatan Teritorial Program Emas Biru dan Emas Hijau’, Mayjen TNI Doni Monardo menyatakan pentingnya pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, perkebunan, peternakan serta kehutanan di Provinsi Maluku.

“Serbuan teritorial TNI melalui program emas biru dan emas hijau ini sebagai alat untuk menyelesaikan masalah atau konflik di Maluku dan Maluku Utara yang merupakan implementasi dari beberapa Nawacita Presiden Jokowi, salah satunya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Selain itu, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik,” papar Doni.

Jenderal bintang dua yang pada 14 November mendatang akan menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi ini menambahkan, konflik komunal di Maluku dan Maluku Utara telah mengakibatkan 9.000 orang kehilangan nyawa, 700 ribu warga mengungsi dan menimbulkan kerusakan materi akibat puluhan ribu rumah warga dan rumah ibadah rusak.

“Atas dasar semangat dalam menyelesaikan konflik di Maluku, masyarakat berperan aktif dalam menolak paham radikalisme dan mendukung program Kodam XVI/Pattimura yaitu Emas Biru dan Emas Hijau. Program ini sangat cocok untuk diterapkan karena alam di Maluku sangat mendukung. Sebut saja potensi ikan di Maluku dan Maluku Utara bisa menghasilkan 4,6 juta ton ikan per tahun atau menyumbang 37 persen potensi ikan nasional. Belum lagi kekayaan alam lain, termasuk tumbuhan-tumbuhan langka yang hidupnya hanya di tanah Maluku,” jelas Doni lagi.

Emas Biru sendiri merupakan program budidaya perikanan, sedangkan Emas Hijau adalah program untuk mengembalikan kejayaan Maluku sebagai penghasil rempah-rempah serta tanaman ekonomis dan langka.

Kedua program yang diprakarsai oleh Mayjen Doni Monardo itu bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi alam. “Sehingga langkah ini merupakan salah satu persuasi yang dilakukan untuk merangkul pihak-pihak yang pernah mengalami gesekan, seperti mantan separatis, kaum radikal, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk menciptakan kedamaian di Maluku dan Maluku Utara,” tambahnya.

Doni mengklaim, sejak program tersebut dijalankan di lingkup masyarakat Maluku, terjadi penurunan angka kriminalitas sebesar 34 persen, kunjungan wisatawan meningkat, pendapatan nelayan bergairah dan terjadi peningkatan daya beli masyarakat.

“Dan yang pasti mampu menekan konflik. Hal itu dibuktikan dengan tingginya tingkat penyerahan senjata api dari warga sipil atau mantan kelompok separatis kepada TNI yakni sebanyak 651 senjata api rakitan dan 52 senjata api pabrikan sepanjang 2017,” paparnya. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *