PERISTIWA

AKSI BELA NEGARA PARA DAI

HARIANTERBIT.CO – Aksi bela negara yang terus digaungkan oleh seluruh elemen masyarakat saat ini, menjadi pembahasan dalam lokakarya para dai yang berlangsung di Cianjur, Jawa Barat 3-4 November kemarin. Direktur Kulliyatul Quran Al-Hikam II Dr Arif Zamhari mengungkapkan, zaman dahulu para ulama melakukan bela negara. Menurutnya, mereka berjuang melawan penjajah dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bela negara dalam konteks saat ini sama dengan yang diperjuangkan para ulama dan kiai terdahulu tidak kalah beratnya. Yaitu membela negara menghadapi ancaman ideologis, Islam transnasional menjadi ancaman bagi NKRI yang telah dijaga bersama,” ujarnya dalam acara penutupan Lokakarya Dai Aswaja Bela Negara di Palace Cipanas Hotel, Cianjur, Sabtu (4/11).

Arif menuturkan, perlunya bela negara dalam menghadapi pengaruh asing dari neokolonialisme dalam ekonomi seperti yang terjadi sekarang ini. Dirinya juga mengingatkan agar seluruh elemen masyarakat di Tanah Air untuk selalu kewaspadaan pada infiltrasi budaya asing. Apalagi budaya asing yang masuk sangat berbeda dengan budaya bangsa Indonesia.

“Dengan adanya ideologi yang berbeda dengan ideologi bangsa, maka ini merupakan ancaman dan tantangan. Terutama bagi ulama pesantren, wajib membela negara. Tentunya, bahu-membahu antara ulama dan umaro dalam bela negara. Mustahil tanpa kerja sama yang baik dapat tercapai,” tegasnya.

Dikatakannya, dalam Metodelogi Dakwah Bela Negara perlu adanya kontekstualisasi dalam nilai Aswaja. Untuk itu, perlunya pembaruan kurikulum Aswaja yang sesuai dengan generasi sekarang, sehingga bisa diterima oleh para generasi muda. “Tentunya, dalam menjalankannya perlu didukung dan menggunakan fasilitas dakwah secara modern. Memenuhi ajaran Aswaja di sosmed dan lainnya,” lanjut Arif.

Sementara itu, salah satu narasumber Lokakarya Dai Aswaja Bela Negara, KH Tarya Witarsa mengungkapkan, dalam upaya bela negara itu perlu adanya kaderisasi. Menurutnya, terdapat beberapa tahapan yaitu pengenalan (ta’rif ), pembentukan (takwin), pengorganisasian (tandzim) dan training of trainer. “Dengan pengorganisasian secara rapi, maka diharapkan tujuan dari bela negara dapat tercapai. Tentunya, melibatkan banyak elemen dan ulama di masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, peserta Lokakarya Dai Aswaja Bela Negara berkunjung ke Istana Presiden di Cipanas. Agenda selanjutnya, akan roadshow di berbagai daerah sebagai bagian dari rekomendasi. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *