DAERAH

SANG AKUAN​ – Cerpen: Benny Hakim Benardie (Tamat)

“Hooi….Dah bahgun kau …..Sapah kau masuk-masuk dalam pelak rumah idak ijin……Jobbor kau?” suara teguran dari dalam rumah, berlogar daerah setempat membuat kaget Ja’far.

Cahaya mentari pagi memancar dibalik sela-sela dinding pelupuh dan atap rumbia rumah. Ja’far yang dari subuh tampak bergegas menyelesaikan sisa pekerjaannya tadi malam.

“Maak…..Tolong bereskan peralatan dan pesanan orang ini, hari sudah mulai siang”, Ja’far memanggil bininya yang sedang memasak di dapur.
.
“Iya Ayah, nanti Emak bereskan. Memangnya Ayah mau kemana?”

“Ayah mau ke Kroi. Mau nemui Bibi Ramlah, sepupuh tuanya mendiang Abah aku yang tinggal disana. Sudah 20 tahun ayah tidak tahu kabarnya”.

“Bibi Ramlah yang dulu pernah Ayah ceritakan ke Emak? Berapa lama ayah di Kroi?”

“Paling 24 hari. Sebelum puasa Ayah sudah pulang”.

Ja’far langsung menarik gerobak sapinya yang di ikat di kandang belakang rumah. Berbagai persiapan makanan segera di siapkan bininya. Termasuk sebilah parang untuk berjaga diri dalam perjalanan. Perjalanan dari Dusun Pasar Seluma menuju Kroi Lampung memakan waktu dua hari dua malam perjalanan.

Tak banyak yang di tuju Ja’far selain bersilaturahim ke bibinya, ia juga ingin mengetahui soal silat ulu dan akuan harimau seperti yang diceritakan Wan Usup.

Pesan Tuan Syech
Dalam perjalanan, setibanya di daerah Bintuhan, Sebuah daerah yang banyak orang sakti dan aura magispun terasa sangat, saat Ja’far memask daerah ini. Ditambanglah gerobak sapinya pagar Langgar. Ja’far menuju ke sebah langgar untuk melaksanakan Shalat Magrib di sebuah langgar reot di tepi sungai.

Hanya beberapa jamaah saja yang tampak, bersama seorang imam yang sudah tua. Tuan Syech, begitulah terdengan saat jamaah memanggilnya. Orangnya bersahaja, dan sempat menyapa usai shalat.

“Darimana kahgau (kamu) ? Tampaknya kahgau pendatang dari jauh?” tegr Tan Syech.

“Ya Tan, dari jauh Pasar Seluma saya datang. Insya Allah ingin menuju Kroi”, jawab Ja’far. Tan Syec hanya mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

“ Hati-hati saja di perjalanan dan tetaplah di jalan Tuhan. Assalamualaikum ”, Tuan Syech itu terus berlalu keluar langgar.

“Terimakasih Tuan. Wa’alaikum salam”.

Ja’far segera menuju gerobak sapinya. Ia sempat kaget saat melihat Tuan Syech tadi sedang mengelus kepala sapinya. “Maaf, boleh aku berpesan? Sebab dari Kahgau masuk langgar tadi, ada beberapa guratan pertanyaan terpancar di muka kahgau.

Ja’far tersentak sekaligus berdecap kagum dengan kemampuan orang tua ini membaca pikiran orang. Akhirnya semua yang ada dalam benaknya diceritakan Ja’far.

“Aku sudah tahu nak”, kata Tuan Syech.

Hanya saja syech berpesan, kalau kekuatan Sang Akuan Harimau itu bukan datang dari agama mereka. Dalam firman Allah SWT di surat An-Nahl 100 dikatakan : “Kekuasaan syaitan itu terbatas, hanya pada orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin, dan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan dengan dia”.

Jadi nak……Jelas kalau orang-orang beriman yang benar-benar berserah diri kepada Allah SWT, maka syaitan itu tidak akan mampu menggodanya, dan syaitan itu pasti akan kalah.

Semua kata-kata itu tampak keluar begitu saja dari mulut Tuan Syech. Ja’far tampak terdiam, seakan dirinya terpaku serta mulutnya terkunci.

Kata-kata Tuan Syech ters saja masuk dalam benaknya. Disurat Yaa Siin 60 Allah SWT berfirman : Alam a’had ilaikum yaa Banii Aadama ‘laa ta’budusy syaithaan inaahuu lakum ‘aduw wum mubiin.

“Artinya, bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah setan, sebab setan itu sudah nyata musuhmu” terang Tuan Syech yang saat Ja’far menegadah, ternyata Tuan Syeh sudah tidak ada dihadapannya . Rupanya dari tadi itu hanya suaranya saja yang ada.

Cemas kalut berkecamuk.Segera Ja’far memukul pantat sapi, gerobakpn melalu lebih cepat. Tanpa menoleh dan dalam benaknya hanya berharap perjalanan ke Kroi akan cepat sampai, dan bertemu Bibinya yang kini umurnya serkitar 142 Tahun.

Dapat Tiga Akuan
Dalam kondisi lelah, akhirnya Ja’far akhirnya tiba juga dihalaman rumah Bibi Ramlah yang katanya hidup sebatang kara. Tak tampak sedikitpun tanda-tanda ada orang dirumah tua itu.

Ja’far menambatkan sapinya di sebuah pohon depan rumah. Ia mencoba istirahat diatas gerobak, menunggu pintu rumah dibuka. Soalnya sudah berulang kali mengucapkan salam, tak ada jawaban dari dalam rumah.

Sementara rumah para tetangga jauh keberadannya. Hingga akhirnya, Ja’far tertidur pulas dan tersentak saat tengah malam, saat bulan miring sedikit dari atas kepalanya.

“Hooi….Dah bahgun kau …..Sapah kau masuk-masuk dalam pelak rumah idak ijin……Jobbor kau?” suara teguran dari dalam rumah, berlogat daerah setempat membuat kaget Ja’far.

“Maaf Bi…..ini aku Ja’far anak abah Hasan dari Pasar Seluma. Tadi waktu datang bibi nggak ada”.

“Ha……Masuk nak masuk kau……Bibik kira sapah tadi. Rupanya kau. Lah malam hari ini, makan dibelakang sana. Masih ada ubi rebus sama cabe”, tegur Bibi Ramlah sambil memeluk dan mencium keponakannya.

Dikeesokan harinya, barulah mereka temu kangen, bercengkrama melepas rindu. Ja’far mulai masuk soal pertanyaan soal Akuan Harimau jadi-jadian, termasuk soal silat ulu itu.

Bibi Ramlah membenarkan apa yang diceritakan Wan Usup yang ternyata adik seperguran bibi, tiga tingkat dibawahnya.

“Tiga tingkat maksudnya gimana tu BI?” tanya Ja’far bingung.

Panjang lebar Bibi Ramlah mau menceritakan rahasia ilmu harimaunya. Tiga tingkat, karena dalam ilmu harimau itu ada pertingkatan. Paling rendah itu, dimana murid hanya dapat memiliki satu harimau yang merupakan oleh-oleh dari Maha Guru Ilmu Harimau di Gunung Dempo.

“Sekarang mungkin saatnya kau mewarisi harimau peliharaanku itu. Soal silat ulu, itu bisa kau belajar menyusul”, kata Bibi Ramlah tampak berharap.

Ja’far tampak terdiam, teringat dirinya nasehat Tuan Syech di Desa Bintahun beberapa hari lalu.

“Bibi punya tiga harimau. itu ada disampingmu kini”, katanya.

“Ta….Tapi aku takut Bi”, jelas Ja’far dengan suara terbatah-batah.

Bibi langsung terkekeh-kekeh melihat raut muka Ja’far. “Nggak usah takut kau. Harimau itu ada tiga. Satu namanya Si Kumbang. Satu Si Belang, dan satu lagi Si Tenjak. Si Tenjak itu dipanggil karena kaki depan sebelah kanannya pincang”.

Karena dibujuk dan didesak, Ja’farpun menyerah. Siang itulah segala persiapan untuk ritual nanti malam dipersiapkan.

Kini Ja’far harus pamit pulang berkawalkan tiga harimau jadi-jadian. Jangankan penjahat atau binatang buas, burung diatas pohonpun terbang tinggi saat Ja’far melintas. Saat di tengan hutan dalam perjalanan, terdengar suara panggilan dari kejauhan, seperti mengunakan ilmu telepati.

Ternyata itu panggilan dari Gunung Dempo.. Dengan menunggangi Harimau, Ja’far tiba di Gunung Dempo dan pulang membawa beberapa potong kayu sebagai oleh-oleh. Sempat saat hendak pamit pulang dengan Maha Guru, puncak Gunung Dempo berkabut tebal. Spontan Ja’far mengumandangkan suara Adzan. Anehnya, kabut beransur menipis dan sirna dari pandangan.

Usai turun gunung, perjalanan pulang mengenakan gerobak dilanjutkan. Hanya Ja’far dan orang tertentu saja yang tahu, kalau kiri kanan dan belakang Ja’far dikawal oleh tiga harimau.

Kini Ja’far menjadi Dukun Sakti Mandraguna, setelah Wan Usup wafat saat dirinya tiba di dusunnya. Tak lama setelah itu, ia mendapat kabar kalau bibinya juga wafat. Dengan menungang harimau, Pasar Seluma-Kroi digapainya ‘sekejap’ .

Kesaktian Ja’far mengaung ke negeri luar. Sempat ada Seorang tamu yang bertandang dari Negeri India. Tamu itu mengak dari sebuah desa bersuku Symphai yang tinggal dikaki Gunung Himalaya. Telepati sesama punya ilmu harimau membuatnya sampai di Dusun Pasar Seluma. Tamu berperawakan tinggi besar itu ternyata beragama non Muslim.

Penulis Pemerhati Sejarah dan Budaya Bengkulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *