NASIONAL

MAKSUM: PASANGAN GUS IPUL DAN AZWAR BERPOTENSI KALAH

HARIANTERBIT.CO – PDI Perjuangan (PDIP), Minggu!15/10) resmi mengusung Saifullah Yusuf gubernur Jawa Timur dan  Abdullah Azwar Anas sebagai wakilnya pada Pilkada 2018 mendatang. Banyak pengamat dan tokoh Jawa Timur yang memprediksi siapa yang bakal lolos untuk memimnpin wilayah Jawa Timur dan sekitarnya. Mantan Sekjen IPNU dekade tahun 80 an Maksum Zuber punya pandangan lain. Berikut petikan wawancaranya:

o. Apa kabar Cak Maksum, sudah lama kemana saja nih?
-. Alhamdulilah kabar Baik. Nggak kemana-mana cuma bertapa dulu cari wangsit,..hahahhaha.

o. Bagimana menurut jenengan pasangan Cagub Gus Ipul dan Azwar Anas
-. Keduanya saya kenal baik. Bagi saya keduanya kader terbaik NU, sama2 aktif dan duduk di Pimpinan Pusat IPNU periode 1980 an. Gus Ipul, mudah bergaul, senang memanaskan suasana tapi mudah mencairkan suasana, tidak suka formalistik, pintar dan selalu menjaga persahabatan sesama pengurus IPNU walaupun dalam organisasi sering terjadi dinamika organisasi, setelah di PP IPNU masuk jajaran Pimpinan Pusat GP Ansor, tidak lama kemudian Ketua Umum GP Ansor.
Azwar Anas, saya kenal sejak di Jember, awal mula berdirinya sekretariat IPNU di sekolah negeri adalah di Jember, itu rintisan Azwar Anas di SMA N Jember ada komisariat IPNU. kemudian aktif di PC IPNU, PW IPNU Jawa Timur dan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU. Azwar anas yg kami kenal dia sosok pemuda pintar, ulet, dan berdedikasi.

o. Bagaimana peluang kemenangan di Pilkada 2018 ?

-. Pasangan Gus Ipul dan Azwar Anas adalah pasangan ideal, sama2 kader terbaik NU, namun untuk menjawab peluang menang, semua kandidat punya kans untuk menang, tapi saya punya pemikiran dan analisa yg berbeda dengan pandangan publik termasuk pandangan partai pengusung.

o. Kenapa? Wah menarik nih…?
-. Perlu saya uraikan sedikit ya..begini
1. NU adalah organisasi ulama berbasis pondok pesantren,mayoritas mengelola madrasah. Data 2015 Kemenag RI mencatat di Jatim ada 19.137 madrasah. Madrasah dilingkungan pondok pesantren ada yg dibina langsung oleh LP Ma’arif NU, ada yg mandiri.
2. NU sudah melalui proses politik yang beraneka zaman, mulai zaman penjajahan, zaman kemerdekaan, sampai zaman reformasi dengan segala dinamikanya,
3. NU juga mengalami proses politik kebangsaan yakni munculnya ” Resolusi jihad, Azas Tunggal Pancasila dan Khittah Nahdlatul Ulama ”
4. Jama’ah NU sudah tersebar ke berbagai partai politik, dengan istilah ” NU ada dimana-mana tapi tidak kemana-mana” artinya Warga NU tetap ada di rumah NU walau aktifitas di luar ada di parpol manapun. Proses yang dilalui NU diatas, menunjukan bahwa Jama’ah NU adalah pemilih rasional, tidak mudah diseragamkan dalam memilih pilihan politik termasuk dalam pilkada di Jatim.

o. PDIP menetapkan Gus Ipul dan Azwar Anas, bagaimana pendapat anda…?
-. Itu, sah-sah saja, mungkin pertimbangannya karena mayoritas di Jatim warga NU..! Tapi saya malah berbeda keyakinan, pasangan ini berpotensi kalah…!

o. Emangnya ada pertimbangan lain..?
o. Tentu ada pertimbangan lain, Coba kita flasback pemilu 2004, kemenangan SBY. Ada situasi politik saat itu seakan-akan SBY terdzolimi, waktu itu masih menjabat Menkopolhukam dan pada 11 Maret 2004, SBY memilih mundur. Keputusannya itu semakin membuka jalan baginya. SBY semakin populer di kancah politik bersama kendaraan politiknya. Pada 2004, SBY terpilih menjadi Presiden RI.

Di pilkada Jatim 2018, ada suasana yang mirip walau beda bentuk. Ditetapkannya Gus Ipul-Azwar Anas yg sama2 dari kader NU, seakan-akan !

1. Ada kesan ingin menyapu habis suara pemilih NU.
2. Kandidat Gubernur Jatim dari NU cukup satu pasangan saja.

o. Selain pertimbangan diatas,…?
-. Pemilukada itu bukan pemilu untuk golongan tertentu saja, tapi nemilih pemimpin yg bisa mengayomi dan melayani semua golongan yang ada di propinsi itu. Oleh karenanya memilih dan menetukan pasangan harus bisa menunjukan pasangan yg menggambarkan kebhinekaan, keragaman suku, ras dan agama di daerah itu.
Walaupun NU sudah teruji dari sisi sikap dan prilku politiknya selalu mencerminkan kebhinekaan, Pancasila dan UUD 1945.

o. Sebaiknya gimana cak, barangkali ada saran terbaik untuk kedua calon?
Mudah2 an akan muncul pasangan kandidat lain, yang mencerminkan kebhinekaan, keragaman budaya, dan etnis.

Demikian wawancara kader NU yang baru keluar dari pertapaan, karena melihat ada yang harus diluruskan dalam Pilkada Jatim 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *