POLRI

SISTEM ONLINE: DUNIA BARU PENUH HARAPAN, TANTANGAN DAN ANCAMAN?

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

HARIANTERBIT.CO – Sistem-sistem online (terhubung) menjadi dunia baru di era digital yang penuh harapan, tantangan bahkan ancaman bagi hidup dan kehidupan manusia. Harapan di dunia terhubung akan banyak hal yang dalam kebutuhan kehidupan manusia menjadi lebih mudah, cepat seakan menembuas ruang dan waktu. Di semua ujung, penjuru dan belahan dunia dapat diketahui dalam waktu yang sama (ontime).

Sebagai contoh, mesin dan aplikasi pencarian, penjawaban berbagai informasi semakin cepat, semakin mudah, semakin akurat. Apa saja ada dalam dunia maya dan bisa menjadi nyata. Segala yang virtual telah menjadi aktual. Harapan hidup menjadi lebih baik akan terhubung dalam komunikasi, informasi dan transformasi.

Tantangan dalam dunia terhubung akan semakin tinggi pada sistem-sistem kompetitornya. Siapa lambat akan ditinggalkan, siapa lemah akan dilibas, siapa tidak mampu tidak mendapat ruang. Persaingan/kompetitor begitu besar dan akan menimbulkan dampak besar sehingga menjadi kontra produktif. Tantangan yang dihadapi akan semakin besar untuk menjadi hidup tumbuh dan berkembang.

Tantangan ini bisa secara fakta maupun dari berbagai isu-isu yang menimbulkan potensi-potensi konflik baik bagi pribadi, kelompok kecil sampai dengan besar. Ancaman di dunia terhubung akan semakin berdampak luas, berbagai kejahatan ataupun ancaman pada sistem-sistem terhubung akan sulit dilacak karena pelaku dan teknologinya semakin canggih.

Dampak globalisasi pun akan menghantam dari berbagai segi dari ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, keselamatan dan sebagainya. Pendominasian/penjajahan secara online atas kehidupan sehari-hari yang diekspansi dalam berbagai teknologi dan pemenuhan kehidupan sehari-hari mencerminkan betapa terkondisikan dan terancamnya atas kekuatan dan produk asing. Ancaman-ancaman dari yang sederhana sampai dengan yang rumit terus menginvasi ke seluruh lini. Mampukah memberdayakan menjadi dari tantangan dan ancaman menjadi harapan?

Angkutan umum dengan aplikasi online
Angkutan umum merupakan cermin dari keseriusan para pemangku kepentingan mewujudkan dan memelihara keamanan, keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Angkutan umum yang dikelola secara profesional menjadi penting bagi masyarakat karena:
1. Untuk melayani pergerakan masyarakat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
2. Membatasi penggunaan kendaraan pribadi.
3. Ekonomis, biaya murah, dan mudah dijangkau.
4. Menjadi penghubung antardaerah dengan daerah lain.
5. Menjadi ikon/simbol kota, simbol kemajuan/simbol pariwisata dan menjadi pilihan utama masyarakat.
6. Aman, nyaman, tepat waktu.
7. Mendukung tingkat produktivitas masyarakat.

Tatkala tujuh hal tersebut tidak mampu diwujudkan, maka angkutan umum akan ditinggalkan, dan masyarakat mencari alternatif pilihan lain, yaitu kendaraan pribadi. Bagi masyarakat yang kebanyakan akan mencari alternatif yang murah, mudah dan cepat, maka sepeda motor menjadi pilihannya. Sepeda motor makin merajai di jalan raya, setiap rumah memiliki sepeda motor, dan mengandalkannya sebagai alat transportasi utama mereka.

Tatkala keselamatan bagi dirinya maupun orang lain tidak menjadi pertimbangan maka alasan cepat, mudah dan murah bisa dianggap tepat, namun tatkala keselamatan dipertanyakan dan diperhitungkan maka costnya akan berlipat-lipat naiknya. Korban kecelakaan lalu lintas yang setiap saat terjadi sering dianggap sebagai hal wajar, takdir.

Angkutan umum merupakan salah satu bagian penting bagi produktivitas masyarakat untk memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat dalam mempertahankan hidup, juga untuk dapat tumbuh dan berkembang. Angkutan umum merupakan bagian dari sistem transportasi untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lainya.

Di era digital sistem manajemen dan penggunaan teknologi merupakan keunggulan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Masyarakat menghendaki adanya pelayanan yang cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses. Kemampuan mewujudkan keinginan, kebutuhan dan harapan masyarakat akan sistem-sistem aplikasi secara online akan menjawabnya.

Pengelolaan transportasi angkutan umum secara online berbasis pada adanya:
1. Back office.
2. Aplikasi.
3. Jejaring/network.

Mereka tidak memerlukan memiliki semua kebutuhan menyelenggarakan angkutan umum dari A sampai dengan Z. Dari back office sebagai pusat data, pusat komunikasi, pengendalian, pengawasan, dan informasi yang dapat menerima dan menyalurkan order yang dibutuhkan masyarakat kepada para pemilik kendaraan (dapat roda dua/empat) yang berada disekitar/dekat dengan pelanggan. Sistem pembayaran bisa secara online dan manual. Bahkan awaknya bisa menjadi kurir/mewakili dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Konteks kecepatan, ketepatan, kemudahan ini yang ditonjolkan dan menjadi core-nya.

Dalam pengelolaan angkutan umum dengan sistem aplikasi online diperlukan sistem-sistem kontrol dari aparat:

  1. Yang berkaitan dengan asuransi dan perlindungan baik kepada pelanggan, lingkungan dan juga sistem-sistem lainya. Dalam konteks ini dari aturan.
  2. Sistem-sistem pendukung yang ada pada aparaturnya dan juga pola penegakkan hukumnya bahkan mindset stakeholdernya pun mengimbangi dikelola/dimanaj dengan dukungan teknologi yang mampu memback up sistem-sistem tersebut.
  3. Political will lagi-lagi menjadi bagian penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, bukan lagi berpikir benar/salah, boleh/tidak, melainkan bagaimana para aparatur penyelenggara negara mampu melampaui atau setidaknya mengimbangi perubahan-perubahan di era digital yang begitu cepat.

Prediksi-prediksi akan konflik antara yang aktual dengan yang virtual semestinya sudah mulai disiapkan atau setidaknya mereduksi kemungkinan-kemungkinan hancurnya peradaban konvensional yang akan diubah dengan peradaban digital.

Benturan-benturan peradaban ini akan terus terjadi sampai suatu ketika tatkala sudah tidak mampu diatasi akan terjadilah konflik fisik sebagai suatu keniscayaan yang tak terelakan. Anti kemajuan/antiteknologi pun akan bisa terjadi dan benturan-benturan kepentingan akan terus terjadi di semua lini. Banyak film-film / cerita-cerita fiksi yang menggambarkan/menunjukkan akhir dari peradaban atau benturan teknologi dengan dunia nyata.
Penjajahan atas kebudayaan pun bisa terjadi.

Sinergitas antara virtual dengan aktual sejak awal mula sudah diprogramkan menjadi suatu sistem yang saling mendukung dan menguatkan. Kepentingan-kepentingan pengkastaan dan pendiskriminasian antar golongan tidak boleh terjadi, karena akan menjadi isu pembenar untuk perebutan sumber daya dan pendominasian/ penguasaan atas segala sumber daya dan potensi-potensinya.

Pemahaman atas virtual dan aktual semestinya sejak awal menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi mata uang yang menjadi satu. Keterwakilan manusia atas teknologi menjadi pemandangan sehari-hari, dan hampir di seluruh lini kehidupan teknologi menjadi andalan, pilarnya. Penataan, pelayanan, di berbagai bidang menjadi ranah-ranah yang terhubung satu dengan lainya walaupun tidak menubuh. Penggunaan teknologi untuk efisiensi, mempercepat, mempermudah, menjadikan lebih tepat dan akurat. Di balik semua itu ada sisi-sisi negatif sebagai dampak keterwakilan hidup dengan teknologi.

ERI, SSC, SDC dan TMC implementasi e-Policing pada fungsi lalu lintas sebagai solusi. Pengelolaan transportasi dengan sistem online
pemolisian di era digital pemikiran-pemikiran tentang model pemolisian pada fungsi lalu lintas akan sangat penting dalam kaitan mengamanatkan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang bertujuan untuk:

1. Mewujudkan dan memelihara kamseltibcarlantas.
2. Meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban keceakaan.
3. Membangun budaya tertib berlalu lintas.
4. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di bidang LLAJ.

Lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan, cermin budaya bangsa dan cermin tingkat modernitas. Sejalan dengan pemikiran di atas pemolisian di bidang lalu lintas perlu membuat model pemolisian yang merupakan penjabaran dari E-Policing dan sebagai strategi membangun pemolisian di era digital.

  1. ERI (Electronic Regident) adalah sistem pendataan regident secara electronik yang dikerjakan pada bagian BPKB sebagai landasan keabsahan kepemilikan dan asa usul kendaraan bermotor, yang dilanjutkan pada bagan STNK dan TNKB sebagai legitimasi pengoperasionalan.
    TNKB dapat dibangun melalui ANPR (automatic number plate recognation). Dari database kendaraan yang dibangun secara elektronik akan saling berkaitan dengan fungsi kontrol dan forensik kepolisian serta memberikan pelayanan prima. Dari ERI ini dapat dikembangkan menjadi program-program pembatasan pengoperasionalan kendaraan bermotor; ERP (electronic road pricing), ETC (electronic toll collect), e Parking, e-Banking (bisa menerobos/memangkas birokrasi samsat), ELE (electronic law enforcement).
  2. SDC (Safety Driving Centre) adalah sistem yang dibangun untuk menangani pengemudi dan calon pengemudi kaitan dengan SIM dengan sistem-sistem elektronik. Dengan sistem ini akan terkait dengan ERI (yang bisa dikembangkan dalam RIC/regident centre). Yang bisa digunakan sebagai bagian dari fungsi dasar regident (memberi jaminan legitimasi (kompetensi untuk SIM), fungsi kontrol, forensik kepolisian dan pelayanan prima kepolisian.
  3. SSC (Safety and Security Centre) merupakan sistem-sistem elektronik yang mengakomodir pelayanan kepolisian di bidang lalu lintas khususnya yangberkaitan dengan keamanan dan keselamatan, yang diselenggarakan oleh subdit Gakkum, Dikyasa, dan Subdit Kamsel. Dari sistem data dan sistem-sistem jaringan informasi yang akan dapat dikerjakan oleh TMC (Traffic Management Centre).
  4. TMC (Traffic Management Centre) merupakan pusat K3i (komando pengendalian, komunikasi, koordinasi dan informasi) guna memberikan pelayanan cepat (quick response time) yang dapat mengedepankan Sat PJR, Sat Pamwal, Sat Gatur bahkan petugas-petugas Satlantas tingkat Polres maupun Polsek.

Sistem ERI dan penegakan hukum
Ratusan pemotor terobos masuk tol Tanjung Priok dikejar polisi tapi kabur. Kejadian tersebut menunjukkan tatkala masih dengan sistem manual dan sistem manajemen yang konvensional, pelanggaran-pelanggaran dan potensi-potensi kejahatan tidak bisa tertangani dengan baik/dengan cepat. Tatkala dibangun ERI (elecronic regident) ada sistem database kendaraan bermotor dan diikuti dengan pemasangan OBU (on board unit) pada setiap kendaraan bermotor ditambah lagi sistem TNKB (tanda nomor kendaraan bermotor) dengan sistem ANPR (Automatic Number Plate Recognation), maka data dan sistem operasional kendaraan bermotor dapat dikontrol melalui RIC (Regident Centre)/melalui TMC (Traffic Management Centre). Pada ruas-ruas jalan tertentu dapat dipasang dengan gantry (gate pengawas)/dengan pemasangan cctv sehingga penegakan hukum bisa berkembang secara elektronik.

Selain ERI, bisa juga dikembangkan SDC (Safety Driving Centre) yang merupakan sistem/pusat data SIM. Ini pun dapat membantu fungsi kontrol maupun forensik kepolisian. Pada sistem-sistem yang terpadu maka sistem ERI, SDC dan TMC akan menjadi sistem terhubung dengan sistem ELE (Electronic Law Enforcement) yang bisa digabungkan pada sistem-sistem SSC (Safety and Security Centre). Model-model sistem terhubung ini akan menjadi suatu sistem yang terintegrasi sehingga bisa mengatasi berbagai potensi pelanggaran dan penyalahgunaan atas pengoperasionalan kendaraan bermotor.

Kejadian motor masuk tol Tanjung Priok hanyalah salah satu contoh perkara yang tidak/belum bisa tertangani dengan cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses karena masih menggunakan sistem dan cara-cara manual dan konvensional. Belum lagi cara-cara parsial dan temporer menambah rumit dan sulitnya penanganannya apalagi bersifat massal. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *