DAERAH

KESULITAN MODAL, NELAYAN PULAU PASARAM BUTUH BAPAK ANGKAT

HARIANTERBIT.CO – Lampung, provinsi paling selatan Pulau Sumatera tidak hanya dikenal dengan hasil perkebunannya seperti kopi, lada, ketela pohon, kelapa sawit serta pisang. Namun, provinsi ini juga dikenal sebagai daerah penghasil udang dan ikan laut.

Udang dan ikan hasil laut terutama di daerah Lampung Selatan selain untuk memenuhi kebutuhan daerah tersebut juga dipasarkan ke berbagai daerah terutama Jakarta. Sisanya, diekspor.

Salah satu daerah penghasil ikan adalah Pulau Pasaran. Letaknya di Teluk Betung, tidak begitu jauh dari Kota Bandar Lampung yang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Lampung.

Walau untuk bisa sampai ke Pulau Pasaran hanya menghabiskan waktu tidak sampai satu jam dari pusat kota Bandar Lampung. Namun, akses ke pulau ini cukup sulit. Untuk menuju Pulau Pasaran yang sudah terhubung jembatan itu hanya bisa menggunakan ojek motor dan odong-odong.

Pulau Pasaran adalah salah satu pusat penghasil ikan asin di Provinsi Lampung. Sejumlah wartawan yang bertugas meliput kegiatan di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, sempat mengunjungi Pulau Pasaran akhir pekan lalu.

Dalam kunjungan tersebut, acara yang dikemas bagian pemberitaan DPR RI bekerjasama dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen itu selain mendapat keterangan dari petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandarlampung juga sempat bertatap muka dengan nelayan dan pengusaha perikanan di Pulau Pasaran.

Mereka ini umumnya bukanlah penduduk asli Lampung. Mereka adalah para nelayan pemdatang. Ada yang dari Banten, Cirebon dan Brebes tetapi tidak sedikit dari suku Bugis (Sulawesi Selatan-red) yang dikenal sebagai pelaut.

Mereka mengaku sudah menghuni pulau buatan yang berjarak sekitar 500 meter dari daratan Pulau Sumatera itu sejak nenek moyangnya. “Nenek moyang kami nelayan. Kegiatan itu turun temurun sampai ke kami,” ungkap sejumlah ibu-ibu yang menunggu jemuran ikan asin.

Dari Dinas Kelautan dan Perikanan Bandar Lampung diperoleh keterangan, pulau berpenghuni 1.286 jiwa ini mampu memproduksi 8 hingga 10 ton per hari. Yang menonjol dari Pulau Pasaran adalah ikan teri dari berbagai macam jenis. Salah satunya adalah teri nasi atau lebih dikenal dengan sebutan teri medan.

Di pasar tradisional Jakarta, teri nasi atau teri medan tersebut harganya cukup mahal. Bahkan ibu-ibu rumah tangga sering mengatakan bahwa harga teri nasi itu lebih mahal dari pada harga daging sapi.

Sayangnya, harga yang begitu mahal di tingkat konsumen tidak dinikmati para nelayan melainkan para tengkulak. Itu yang dikeluhkan para nelayan Pulau Pasaran dan diakui Kasmin Marpai dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung.

“Itu sudah sejak lama menjadi keluhan para nelayan di Pulau Pasaran. Mereka itu tidak punya nilai tawar terutama dalam menentukan harga. Apalagi, mereka minim permodalan sehingga tidak jarang hasil tangkapan mereka itu dijual murah,” kata Kasmin.

Ya, ikan teri dari Pulau Pasaran dikenal sangat gurih dan berkualitas tinggi. Tidak ada rahasia yang unik atau aneh. Menurut para perajin yang tergabung dalam 48 pengolah ini, terinya sangat disukai konsumen dan sampai diburu pembeli Jakarta hingga ke sarangnya lantaran diolah langsung di tengah laut.

“Kami langsung membeli teri di tengah laut sekaligus merebusnya di sana. Jadi teri tidak melalui proses pengawetan es. Sampai di darat tinggal jemur,” kata Kasnadi, pengolah teri.

Para pengolah ikan yang tergabung dalam Koperasi Mitra Karya Bahari ini selain memperjuangkan brand ikan teri yang kadung diklaim daerah lain serta soal fluktuasi harga, juga menginginkan uluran modal.

Pengolah ikan terbentur modal karena hanya pemilik modal besar yang dapat menguasai ikan teri. Sementara pengolah yang tergabung dalam koperasi, dana yang dimiliki sangat terbatas, tentu teri yang didapat juga pas-pasan.

Mereka ini perlu ‘Bapak Angkat’. Selain modal, mereka itu juga membutuhkan pendamping. “Kami tidak bisa membeli teri sesuai harapan kami karena dana terbatas. Teri kami jual kadang Rp80 ribu tapi bisa jadi Rp75 ribu tergantung Jakarta yang menentukan harga bukan kami,” ujar Kasnadi.

Keluhan itu sempat dismapaikan salah satu nelayan Pulau Pasaran kepada anggota DPR asal Lampung, Sudin dari Fraksi PDI Perjuangan dan Frans Agung Mula Putra dari Fraksi Hanura tentu menjadi ajang curhat dan keluh kesah pengolah teri. Mereka secara lugas meminta bantuan dari anggota Dewan.

“Bapak siapkan saja proposal nanti cara buatnya dibimbing anggota DPRD Kota Lampung (menunjuk seorang anggota DPRD dari PDI Perjuangan). Mereka itu dipilih untuk membantu rakyat. Kalau tidak mau bantu jangan dipilih lagi nanti. Kebetulan Menteri Koperasi dan UKM teman kita,” kata Sudin yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung.

Wajah sumringah penuh optimistis nampak dari wajah para pengolah dan juga para penyortir teri yang umumnya ibu-ibu rumah tangga. Padahal, entah kapan bantuan itu akan mengucur.

Bisa saja mereka lupa karena pekerjaan telah memanggilnya untuk segera menyortir menjadi teri nasi, teri nilon atau teri jengki. Setiap pengolah rata-rata memiliki 12 penyortir dan mereka sehari diupah Rp50 ribu plus makan.

Didera dengan sejumlah keterbatasan, para pengolah dan penyortir teri masih tetap bersyukur karena laut mereka dianugerahi ikan yang melimpah. Teri tidak kenal musim. Selama 12 bulan teri tetap melimpah dan tidak ada istilah musim paceklik.

Selain teri, para pengolah lainnya juga membudidayakan sejumlah kekayaan laut yang beragam seperti kerang hijau, cumi dan rajungan. “Cumi asin sekilo Rp60 ribu dan kerang hijau dijual di tempat Rp5.000 per kologram,” kata Kasmin Marpai yang rajin memberikan pendampingan kepada pengolah teri di Pulau Pasaran. (art)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *