PERISTIWA

PANSUS RUU TERORISME: MAKIN BANYAK PEREMPUAN JADI PELAKU

HARIANTERBIT.CO – Rancangan Undang Undang (RUU) Terorisme yang dibahas Panitia Khusus (Pansus) DPR-RI bersama pemerintah mengakomodir keterlibatan perempuan (perspektif gender-red) baik itu sebagai pelaku maupun korban gerakan terorisme.

Itu diungkapkan anggota Pansus RUU Terorisme dari Fraksi Partai Golkar, Bobby Adhityo Rizaldi dalam diskusi bertema ‘Perempuan dalam Radikaliems dan Teroriseme’ bersama Direktur CSave Mira Kusmuarini dan Kepala Bidang Rehabilitasi Vokasional Kemensos RI Neneng Ratnaningsih di Press Room Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (13/9).

“Belakangan semakin banyak perempuan di dalam maupun luar negeri yang menjadi pelaku terorisme. Bahkan siap meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri seperti dilakukan Dian Yulia Novi yang berencana untuk meledakkan diri di Istana Presiden akhir 2016,” tegas Bobby.

Seperti di Boko Haram, Afrika, ungkap politisi senior Partai Golkar ini, mereka banyak manfaatkan perempuan sebagai subyek gerakan teroris. Hal yang sama dilakukan Irlandia Utara dan juga Indonesia. Mereka ini banyak menjadi mortir atau kombatan teroris.

Kenapa demikian? Dikatakan Bobby, perempuan mudah dipengaruhi dengan doktrinasi ideologi radikal karena mereka umumnya tak memiliki akses pengetahuan keagamaan di luar kelompoknya, situs sebagai sumber informasi keagamaan juga dari kelompok mereka saja, sehingga mudah menjadi radikal.

Termasuk yang pergi ke luar negeri. Banyak perempuan mengikuti suami ke Suriah, dengan alasan pernikahan sebagai salah upaya untuk merekrut perempuan sebagai teroris.

Karena itu, kata Bobby, untuk mencegah penyebaran ajaran radikalisme tersebut telah dilakukan oleh Fatayat NU dengan menugaskan 1.000 kader untuk memberi ceramah di tengah masyarakat. “Jadi, gender ini materi baru dalam RUU Terorisme. Di draft pemerintah pun belum ada draft gender, sehingga harus diakomodir,” kata dia.

Neneng Ratnaningsih mengatakan, ada 161 deportant dari Suriah, Turki, Jepang, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Mereka terdiri dari 43 perempuan dan 79 anak berusia sekolah.

Mereka itu, ada yang berasal dari Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Yang paling besar dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka direhabilitasi. Yang terbesar direhabilitasi Kemensos RI adalah berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kemensos RI melakukan pendampingan selama 24 jam.

Mereka semuanya mengganggap bahwa yang diluar kelompok mereka itu kafir. Mereka tidak memakan daging. Sehari-hari makanan mereka umumnya dari tumbuh-tumbuhan. “Jangankan menjawab salam, melihat kita saja mereka tak mau,” jelas Neneng.

Kenapa mereka banyak menuju ke Suriah? Dalam doktrin mereka, kata Neneng, negara Syam (Suriah) itu nantinya menjadi negara yang paling aman, sejahtera diberkahi Allah Swt dan tegaknya syariah Islam. Karena itu kepergian mereka tanpa sepengetahuan keluarga.

Pada kesempatan serupa, Mira Kusmuarini mengatakan, perumusan RUU Terorisme belum punya perspektif gender dan cenderung mengabaikan posisi perempuan. Padahal, perempuan memiliki posisi strategis dalam isu ‘Countering Violent Extremism atau anti terorisme’.

Sementara itu, perempuan kata Mira bisa menjadi pelaku maupun korban. Disebut sebagai korban akibat ketidaktahuan akan aktifitas terorisme pasangannya dan memungkinkan mereka menerima hukuman berat seperti hukuman mati tanpa pertimbangan khusus. (art)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *