KISRUH

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MEMBENTUK KEJAHATAN BARU

HARIANTERBIT.CO – Perkembangan teknologi informasi telah memfasilitasi perkembangan berbagai bentuk kejahatan baru, seperti cyber crime, hate speech, hingga penyebaran paham radikal melalui media sosial.

Teknologi yang semestinya membantu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui kemudahan berkomunikasi dan penyebaran informasi yang lebih cepat, justru memfasilitasi semakin maraknya kejahatan.

Dari sisi kualitas, berbagai kejahatan yang difasilitasi oleh kemajuan teknologi ini sedang berada di tahap yang mengkhawatirkan, sehingga memerlukan perhatian dan upaya pengendalian yang serius.

Perhelatan politik lokal maupun nasional di Indonesia terakhir-terakhir ini menjadi contoh nyata bagaimana kemajuan teknologi komunikasi justru dimanfaatkan untuk merusak integritas dari demokrasi itu sendiri.

Ajang pemilihan kepala daerah, bahkan pemilihan Presiden tahun 2014 lalu menjadi ranah pertarungan agen-agen politik melalui media sosial. Sejatinya memanfaatkan media sosial adalah sesuatu yang biasa di dalam kontestasi politik kontemporer, namun semestinya tidak justru mengumbar kebencian satu sama lain di dalam kontestasi tersebut.

Terungkapnya sindikasi Saracen oleh Direktorat Cyber Crime, Bareskrim Mabes Polri membuktikan bagaimana penyebaran hoax dan kebencian adalah sebuah bisnis yang menggiurkan. Kondisi ini diperparah oleh literasi media yang rendah di kalangan masyarakat kita saat ini.

PAHAM RADIKAL

Penyebaran paham radikal juga perlu mendapatkan perhatian serius. Jejaring ISIL di media sosial, melalui Bahrun Naim, telah berhasil melakukan aksi teror di Indonesia, termasuk beberapa ancaman teror lainnya yang dapat digagalkan.

Kebijakan pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informasi, terhadap ‘telegram’ adalah salah satu upaya Indonesia di dalam mencegah persebaran paham-paham radikal melalui media sosial khususnya.

Tidak hanya Indonesia, fenomena ini terjadi di seluruh dunia. Berbagai serangan teror masih mengancam Eropa dalam beberapa waktu belakangan ini. Beberapa di antaranya telah mengakibatkan korban dalam jumlah yang tidak sedikit, seperti di Brussel, Paris, London, hingga Barcelona.

Sebagai salah satu dari negara-negara regional Asia Tenggara, Indonesia perlu meningkatkan kerjasama regional di dalam pengendalian cyber crime, hate speech, radikalisme dan terorisme.

Baik di dalam pengendalian formal melalui penegakan hukum, hingga kerjasama di dalam dunia akademik untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif mengenai strategi pengendalian kejahatan.

Memberikan perhatian pada upaya regional cukup beralasan mengingat secara geografis berbatasan langsung, tidak hanya melalui laut, namun juga darat.

Pelaku penebar kebencian yang dibayar oleh seseorang

PEMERINTAH FILIPINA

Upaya pemerintah Filipina dalam mengendalikan kelompok radikal di Marawi semestinya menjadi perhatian regional. Dengan letak geografis yang berbatasan langsung, penyebaran paham radikal hingga perpindahan fisik kelompok teror sangat mungkin terjadi.

Sebagai salah satu bagian dari komunitas akademik, Departemen Kriminologi Universitas Indonesia mencoba mengambil inisiatif untuk memikirkan upaya pengendalian kejahatan kontemporer tersebut melalui 1th ASEAN Symposium of Criminology, yang akan diselenggarakan ada 4-5 September 2017, di Kampus FISIP UI Depok.

Tujuan utama simposium ini adalah menciptakan forum dialog hingga jejaring yang lebih solid antar kriminolog se-ASEAN. Adapun tema besar yang diusung adalah An Inquiry into Ethics, Theories, Culture and Practices, dengan tujuan utama membuat kriminologi sebagai sebuah disiplin lebih bermanfaat bagi penyelesaian masalah di tingkat nasional, regional, dan internasional.

Simposium ini akan dibuka dengan keynote speech dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, PhD, dan dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian, PhD.

Di dalam panel utama, simposium ini mendatangkan kriminolog dari Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia sebagai tuan rumah, kepolisian New Zealand, Taiwan, dan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejaksaan Agung.
Selain pembicara pada panel utama, terdapat 36 preseter (pemakalah) yang akan menyampaikan gagasan dan hasil penelitiannya di tiga panel paralel yang salah satunya panel IT Mediated Crime (Kejahatan yang dimediasi oleh Teknologi Informasi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *