BISNIS

TINDAKAN PREVENTIF PEMERINTAH TERHADAP MUTU GULA UNTUK MELINDUNGI KONSUMEN

HARIANTERBIT.CO – Penyegelan dua pabrik gula di Cirebon, Jawa Barat belum lama ini menjadi bukti tindakan preventif yang dilakukan pemerintah dalam mencegah peredaran barang yang tak sesuai dengan baku mutu. Dengan tindakan tersebut, konsumen pun dapat diselamatkan dari kerugian yang diakibatkan, jika gula tersebut beredar di pasaran.

“Kalau tindakan penyegelan itu adalah tindakan untuk mencegah. Tentu, kan, produk itu adalah (harus) sesuai dengan SNI,” ujar Koordinator Bidang Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sularsi kepada wartawan, Rabu (30/8).

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan menemukan adanya gula tak ber-SNI dari dua pabrik gula di Kabupaten Cirebon. Sebagian dari gula tersebut dianggap belum memenuhi standar. Setelah diuji di laboratorium, sebagian yang dinyatakan dari gula yang sempat disita, diperbolehkan beredar di pasaran karena telah memenuhi syarat baku mutu.

Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tata Niaga Kementerian Perdagangan Syahrul Mamma menjelaskan, dari hasil uji laboratorium yang dilakukan pihaknya, ada sebagian gula yang disimpan di pabrik gula Tersana dan Sindanglaut, dinyatakan lolos standar. Namun ada pula gula yang belum memenuhi layak konsumsi, sehingga harus digiling ulang. “Ada yang lolos ada yang enggak, kita kan ambil empat sampel, ada dua yang sesuai ICUMSA, ada dua yang tidak sesuai ICUMSA,” turu Syahrul kepada wartawan, kemarin.

Dia menambahkan, penyegelan gula petani sepekan lalu itu dilakukan lantaran ada indikasi gula yang tak memenuhi standar ICUMSA (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis) yang telah ditetapkan. ICUMSA merupakan standardisasi mutu untuk produk gula. Semakin rendah angka ICUMSA, maka kemurnian gula semakin tinggi.

Biasanya gula dengan tingkat ICUMSA makin rendah warnanya akan semakin putih dan teksturnya halus. Sebaliknya, jika gula agak kecoklatan maka ICUMSA-nya tinggi. Gula yang diamankan berwarna kecoklat-coklatan, sehingga dianggap tidak memenuhi standar. “Kita kan ada pengawasan rutin yang kita laksanakan, sementara kita segel, police line dulu, sampai ada hasilnya (uji laboratorium). Kalau yang tidak lolos kita arahkan untuk direproduksi lagi. Supaya ICUMSA sesuai standar,” ujar Syahrul.

Kemendag mensyaratkan, ICUMSA gula tak boleh melebihi 300. Jika di atas itu, maka dianggap tak layak konsumsi. Menurutnya, penggilingan ulang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengelola pabrik gula, meski gula tersebut adalah gula milik petani.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan tegas mengatakan, akan melakukan tindakan tegas kepada siapa pun yang mengganggu kepentingan konsumen. “Kami tidak akan berikan toleransi pada siapa pun, sejauh itu mengganggu kepentingan konsumen. Dan itu segera diperiksa ICUMSA-nya, kualitasnya dan ada beberapa yang lolos, tetapi banyak yang tidak,” tegasnya, beberapa waktu lalu, di kantor Kemendag, Jakarta Pusat. (arya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *