PERISTIWA

BPPT-SAAB BERSINERGI KEMBANGKAN TEKNOLOGI PERTAHANAN BAWAH AIR

HARIANTERBIT.CO – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai poros maritim pada wilayah persimpangan lalu lintas komunitas dan perdagangan dunia. Indonesia memiliki kondisi geografis yang luar biasa. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luas lautan dua per tiga dari luas total wilayahnya.

Di samping itu, Indonesia dilingkup oleh tiga perairan bebas yakni, Samudera India, Samudera Pasifik dan Laut Cina Selatan. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yaitu, ALKI melintas Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda. ALKI II melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat Lombok, dan Alki III melintasi Samudera Pasifik, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Dr Wahyu W Pandoe mengatakan, ALKI ditetapkan sebagai alur pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional agar pelayaran dan penerbangan internasional dapat terselenggara secara terus menerus, langsung dan secepat mungkin serta tidak terhalang oleh perairan dan ruang udara teritorial Indonesia.

“ALKI ditetapkan untuk menghubungkan dua perairan bebas yaitu, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, sehingga semua kapal laut dan pesawat udara asing yang mau melintas ke utara atau ke selatan harus melalui ALKI,” kata Wahyu usai acara penandatangan MoU dan Seminar Bersama BPPT-SAAB “Meraih Pertahanan yang Tangguh Melalui Teknologi Pertahanan Bawah Air”, di Ruang Gedung II BPPT Jl MH Thamrin Jakarta, Selasa (29/8).

Wahyu menjelaskan, ALKI dimanfaatkan sebagai sarana lalu lintas perniagaan yang sangat ramai dan tentunya berpotensi rawan terhadap pelanggaran hukum, seperti penyelundupan, pencurian kekayaan laut, penyusupan, dan sebagainya. “Tugas pengamanan tentu tidak cukup dilakukan dari udara dan permukaan laut, tetapi perlu juga dilakukan di bawah laut,” ujarnya.

Sistem pengamanan bawah laut perlu dilakukan untuk menjaga sumber daya ekonomi dan kedaulatan Indonesia. Sebagai lembaga pemerintah dan dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya, BPPT dapat memberikan rekomendasi terhadap penyelenggaraan monitoring dan pengawasan terhadap ALKI ini.

Sebagaimana diketahui BPPT juga memiliki kompetensi dalam bidang hidrodinamika, teknologi perkapalan, struktur dan material, mesinm propulsi, navigasi dan telekomunikasi, teknologi survei laut, yang dapat dikontribusikan ke dalam bidang maritim.

Dijelaskan, dengan dukungan fasilitas dan pusat-pusat penelitian canggih, BPPT saat ini dan ke depan dapat menyusun dan merencanakan pemenuhan kebutuhan teknologi untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan bangsa yang sedang/akan dihadapi khususnya di bidang kemaritiman. Ada enam peran BPPT yaitu, kerekayasaan, kliring teknologi, audit teknologi, difusi dan komersialisasi, alih teknologi, intermediasi.

Sementara itu, Head of Saab Indonesia Anders Dahl mengatakan, perusahaan pertahanan dan keamanan Saab mengukuhkan komitmen jangka panjangnya untuk Indonesia melalui perpanjangan kemitraan dengan BPPT serta Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan).

Saab telah menandatangani perjanjian lebih lanjut dengan BPPT dan Unhan, untuk bekerja sama dalam pengembangan teknologi dan kemajuan pendidikan. Kerangka Acuhan Kerja (KAK/Terms of Reference) baru disepakati bersama dengan BPPT pada 29 Agustus 2017, dan pada Rabu (30/8) dilanjutkan dengan Letter of Intent yang sudah diperbarui dengan Unhan.

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Dr Wahyu W Pandoe dan Head of Saab Indonesia Anders Dahl, disaksikan staf BPPT, menandatangani MoU dan Seminar Bersama BPPT-SAAB “Meraih Pertahanan yang Tangguh Melalui Teknologi Pertahanan Bawah Air”, di Ruang Gedung II BPPT Jl MH Thamrin Jakarta, Selasa (29/8).

Kerja sama antara Saab, BPPT dan Unhan disepakati dalam rangkaian seminar yang direncanakan di Indonesia, kali ini berkaitan dengan sistem bawah laut yang canggih untuk pertahanan nasional. Topik berkisar dari penanggulangan ranjau laut hingga desain dan pengembangan kapal selam.

Sejak tahun 2015, Saab telah berhasil membangun sebuah program pengembangan teknologi pertahanan dengan BPPT, dan kolaborasi akademis dengan Unhan.

Kemitraan ini memberikan pemahaman yang lebih mengenai kemampuan pertahanan berteknologi tinggi di Indonesia seperti aeronautika, pemetaan, sistem rudal dan sistem bawah air. Saab, BPPT dan Unhan telah menyelenggarakan sejumlah seminar yang berfokus pada teknologi utama ini. Tujuannya adalah untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan pemahaman dan mengembangkan kemampuan dalam konteks di Indonesia.

“Kemitraan berkelanjutan antara Saab dengan BPPT dan Unhan adalah contoh yang bagus bagaimana kami menerapkan ‘Triple Helix’ yakni di mana industri, institusi akademis dan institusi pemerintahan bekerja sama untuk mencapai sesuatu yang lebih, daripada yang dapat kita lakukan sendiri. Kerja sama ini sukses di Indonesia dan kami sangat bangga memiliki mitra yang luar biasa dan strategis. Saab dengan bangga menerapkan standar ‘best practice’ tertinggi dari teknologi,” terang Anders.

“Melihat penerapannya di Indonesia, melalui pendekatan Triple Helix dengan BPPT dan Unhan, menunjukkan apa yang bisa dicapai di sini. Saab memiliki tujuan untuk mengembangkan kemitraan di Indonesia dan berkolaborasi dengan lebih banyak institusi dan lebih banyak lagi aktivitas positif di sini,” tambah Anders. (*/dade/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *